Yogyakarta-based designer. Someone who passionate with community dynamics, socio-environment talks, and more.

Mengenal Desa Terapung Torosiaje, Warisan Suku Bajo

Oleh Tangguh Adi Wiguno & Yusuf Al-Mizar untuk Tengara (diarsipkan).
Ditulis pertama kali oleh Tangguh Adi Wiguno pada 20 Maret 2017. Dipindaharsipkan ke Pijak dari Tengara.co.

Desa Terapung Torosiaje di Gorontalo

Di banyak negara di dunia, tempat-tempat yang memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri selalu memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Tak terkecuali dengan kota-kota terapung, yang mana warganya membangun hunian di atas perairan. Jika di Italia ada kota Venice, sebagai kawasan terapung sekaligus destinasi romantis bagi wisatawan dunia, di Indonesia ada Desa Torosiaje sebagai destinasi kota apung yang sarat akan sejarah dan panorama.

Pengalaman saya mengunjungi Desa Torosiaje tak lepas dari ajakan warga setempat ketika saya melakukan kerja sosial di Gorontalo pada Juni tahun lalu, selama hampir dua bulan lalu. Lebih kurang empat hari selepas perayaan Idul Fitri dilakukan, kami serombongan teman-teman yang melakukan kerja sosial berjumlah tiga puluh orang bersama beberapa warga setempat, yakni kepala desa dan para orang tua pondokan menyempatkan diri untuk berwisata di Desa Torosiaje.

Desa Torosiaje merupakan desa yang terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Berjarak kurang lebih hampir tiga jam dari tempat saya melakukan kerja sosial via jalur darat. Sayangnya perjalanan saya dan teman-teman ketika menuju Desa Torosiaje tak bisa dibilang lancar, beberapa kali kendaraan kami harus berhenti untuk sekadar mengecek kondisi air radiator dan sasis mobil bagian belakang, maklum mobil yang kami kendarai sudah cukup tua sehingga harus benar-benar waspada ketika membawanya.






Perjalanan panjang selama kurang lebih tiga jam tersebut kami habiskan dengan bersandar di bak belakang mobil. Untungnya, sebelum berangkat, mobil yang kami tumpangi telah ditambahkan penutup dadakan oleh kakak rumah pondokan kami. Bermodalkan paralon yang saling disambung hingga membentuk rangka berbentuk persegi panjang dengan luas sama dengan bak terbuka yang ada di belakang kami buat penutup dadakan tersebut. Rangka yang telah terpasang lalu kami tutupi dengan sejumlah tikar sehingga ketika kami berkendara di bak belakang, gangguan debu dan panas matahari bisa terminimalisir. Sebuah karya dadakan yang cukup kreatif.

Kami habiskan waktu di bak belakang dengan bercerita sembari menghabiskan jajanan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Perjalanan kami akhirnya sampai di gerbang pintu dermaga yang menghubungkan daratan Sulawesi dengan desa terapung Torosiaje. Untuk bisa masuk ke kawasan desa terapung Torosiaje, pengunjung diwajibkan membayar bea masuk sebesar Rp. 2000 kemudian jika ingin menyeberang dengan menyewa perahu maka ditambah sejumlah Rp. 3000 per orang, sehingga total untuk bisa menyeberang ke desa terapung Torosiaje minimal menyiapkan uang Rp. 5000 rupiah.

Mobil rombongan yang kami tumpangi pun diparkirkan di tempat yang telah disediakan. Selepas kami melewati pintu masuk wisata, kami disuguhkan dengan pemandangan berupa kebun mangrove yang berada di sebelah kanan dan kiri dermaga. Siang itu udara cukup cerah dan pantai mengalami surut, sehingga ketika kami melewati kawasan mangrove tersebut nampak beberapa kepiting dan hewan-hewan lain termasuk ikan-ikan kecil berenang berseliweran di tanah liat yang bercampur dengan kubangan-kubangan air.

Kami menyewa perahu untuk bisa menyeberang ke Desa Torosiaje. Perahu yang kami tumpangi berupa sampan yang telah dipasangi diesel di bagian belakang. Perahu tersebut dinamai dengan leppa. Perjalanan singkat yang kurang lebih 10–15 menit tersebut akhirnya mendaratkan kami di pintu masuk Desa Torosiaje. Namun sebelumnya, sejauh kami menumpang perahu dari dermaga masuk nampak tiang-tiang listrik berdiri tegak sepanjang garis lurus antara Desa Torosiaje dengan dermaga. Hal ini menandakan bahwa telah tersedia aliran listrik di desa terapung ini.

Desa Torosiaje berbentuk huruf “U” dimana hunian-hunian warganya tegak berdiri dengan kayu-kayu pohon cukup besar setinggi tiga hingga lima meter di atas permukaan laut. Sesampainya kami di Desa Torosiaje, kami serombongan terlebih dahulu berkumpul dengan mengambil tempat di aula desa yang ternyata hanya seluas lapangan bulutangkis. Kami pun, selayaknya piknik pada umumnya, membuka bekal makanan yang telah kami bawa. Kami pun bersantap ria dengan lahap dan saling bertukar candaan satu sama lain.




Suku Bajo merupakan masyarakat yang menghuni dan mendirikan Desa Torosiaje. Hal ini nampak pada papan hias yang terdapat di jembatan bertuliskan bertuliskan “Welcome to Bajo”. Jika kalian sempatkan waktu untuk membaca buku berjudul “Orang Bajo Suku Pengembara Laut, Pengalaman Seorang Antropolog” karya Francois-Robert Zacot maka kalian akan menemukan bahwa suku Bajo merupakan suku yang telah mendirikan Desa Torosiaje. Meskipun dalam buku tersebut disebutkan bahwa kawasan Torosiaje merupakan kawasan terpencil dan tertutup, namun sebaliknya kondisi tersebut kini telah berubah 180 derajat.

Suku Bajo dan Desa Torosiaje tak lagi tertutup dengan modernisasi. Terdapat listrik yang telah mengalir rutin untuk menerangi kampung, selain itu telah terdapat sekolah yang menjadi tempat menimba ilmu bagi anak-anak Suku Bajo. Warga pun juga turut membuka toko-toko kecil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga Desa Torosiaje.


Selepas kami bersantap siang, kami terlebih dahulu sempatkan untuk beribadah. Terdapat masjid yang cukup bersih dan bagus yang terletak di dekat sekolah. Sayangnya pada waktu itu pasokan air bersih belum datang, sehingga air yang kami gunakan mengalir sedikit dan harus dihemat, maklum untuk memenuhi kebutuhan air bersih harus didatangkan dari darat. Setelah kami menunaikan ibadah, kami berkeliling Desa Torosiaje yang luasnya kurang lebih 200 Ha.

Beberapa kali kami duduk di bangku-bangku panjang yang telah disediakan di sepanjang jalan-jalan kampung. Beberapa di antara kami juga menyempatkan diri untuk mengulur pancing, berharap ada ikan yang tersangkut. Tawa dan bahagia, serta canda kami benar-benar kami dapatkan selama berkunjung di Desa Torosiaje. Keramahan warganya pun juga menambah kehangatan dari kunjungan kami.

Sayangnya kunjungan tersebut hanya berlangsung sebentar dan kami harus segera pulang kembali, karena perjalanan yang kami tempuh masih panjang, ditambah masih ada satu destinasi lagi yang harus kami hampiri. Senang rasanya bisa berkunjung ke salah satu desa eksotis dan unik di Indonesia, Torosiaje.



Cara menuju Desa Apung Torosiaje:
  1. Bisa menggunakan mobil pribadi atau sewa dari Kota Gorontalo menuju ke arah Palu, Sulawesi Tengah. Berjarak sekitar 8–9 jam perjalanan. Kemudian sesampainya di Kecamatan Popayato akan ada plang penunjuk arah menuju Desa Torosiaje.

  2. Menggunakan bus lintas Sulawesi jurusan Palu dari Kota Gorontalo. Berjarak sekitar 12 jam perjalanan menuju Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Kemudian singgah di Terminal Popayato dan menempuh perjalanan menggunakan ojek atau angkutan umum lokal yang tersedia.


Anda mungkin menyukai postingan ini

  1. Untuk menyisipkan sebuah kode gunakan <i rel="pre">code_here</i>
  2. Untuk menyisipkan sebuah quote gunakan <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.