Museum Gajah, dan Sedikit Etalase Kekayaan Budaya Bangsa

Museum Gajah, atau kadang disebut Museum Nasional hanyalah satu dari sekian 'gudang' antropologis yang ada di Indonesia.

Tiiin! Tiiin!

Kendaraan saling sahut-menyahut pada saat saya terjebak kemacetan di bilangan Tanjung Barat. Tak lama kemudian, bus yang saya tumpangi memasuki kawasan Jln. Sudirman-Thamrin-Merdeka hingga tiba di depan bangunan dengan arsitektur lawas ala Yunani dengan sebuah patung gajah tepat di depannya. Tak lain lagi bangunan itu adalah Museum Nasional Indonesia. Saya bersegera turun dari bus sambil menenteng tas kamera dan siap untuk menjelajahi koleksi dari museum yang memiliki nama lain Museum Gajah ini.

Kendi keramik koleksi Museum Nasional


Ini adalah kunjungan perdana saya ke tempat ini tiga bulan lalu. Museum Nasional Indonesia sendiri merupakan bentuk eksistensi dari grup seniman dan ilmuwan Belanda bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang didirikan pada 24 April 1778. Organisasi ilmiah ini awalnya bertujuan untuk menghimpun ilmu pengetahuan, melakukan riset, dan mempublikasikan riset dalam hash. Pendirian organisasi ini juga sejalan dengan adanya revolusi intelektual yang berlangsung di Eropa, tepatnya pada saat orang-orang tergerak untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah.

Langkah gontai saya dimulai dengan menapaki lantai marmer museum. Saya memutuskan untuk mengikuti tur bersama pemandu museum. Seorang petugas menghitung jumlah saya dan peserta tur lainnya, sembari memberikan bookmark berhias foto-foto museum disertai kalender. Usai berkumpul sebentar dan dibagi dalam beberapa kelompok di ruang kaca, kami pun mulai menjelajahi isi museum ditemani oleh pemandu yang sedari tadi sabar menjawab satu per satu pertanyaan penasaran kami. Perjalanan dimulai dari ruang peta.

Dinding ruang peta dipasangi bingkai yang membentangkan kain tenun dengan variasi motif dari berbagai daerah. Mulai dari motif batik Jawa, hingga tenun Sumbawa dipajang, berseberangan dengan peta persebaran etnik di Indonesia. Ya, Indonesia adalah bangsa yang besar dengan lebih dari 300 etnis serta masing-masing kekayaan budaya tekstil yang dimilikinya.

Papan nama Museum Nasional, otentik


Dari ruang peta, kami bergerak ke Ruang Etnografi. Ruang Etnografi Satu sepertinya memamerkan peralatan-peralatan dari zaman prasejarah di Indonesia. Di ruang berikutnya (masih mengenai etnik), masing-masing etalase berisikan hasil kesenian kebudayaan di Jawa Barat dan Jawa Tengah: ada patung pujaan, wayang golek, topeng, angklung, gamelan Sunda, dan congklak; lalu keris, gamelan Jawa, hingga batik dengan perbedaan motif (Jogja, Solo, dan Pekalongan).

Bagian yang paling saya sukai adalah adat Bali, dimana motif sarung kotak-kotak, juga etalase berisi jejeran topeng leak menciptakan kesan mistis tersendiri. Di sebelahnya, patung-patung tinggi Batak kuno, juga replika mayat yang biasa dijejerkan di makam tebing Toraja turut hadir di sini yang menimbulkan sedikit kesan horor bagi saya.

Salah satu instalasi di beranda museum


Di lantai satu, koleksi arkeologis dipajang dalam berbagai etalase apik, semuanya merupakan alat-alat perlengkapan hidup manusia Indonesia di abad pertengahan. Etalase-etalase ini disusun mengelompok dan disesuaikan dengan masing-masing etnis (ruang etnografi) juga periode. Pakaian adat, senjata, alat musik, wayang, patung pujaan, perlengkapan makan, hingga perangkap ikan tradisional ditata. Mata saya jelalatan menerawang benda-benda di balik kaca tebal tersebut. Ya, koleksi bernuansa etnografis memang mendominasi isi museum ini. Bahkan, satu set penuh alat-alat gamelan Jawa-Bali tertata rapih di Ruang Etnografi Tiga.

Suasana Kejawen sungguh terasa di Ruang Etnografi Empat yang memutar instrumental gamelan Jawa. Suaranya yang menggema di lorong-lorong museum membuat suasana semakin kental begitu memasuki ruang etnografi 5 yang memajang senjata tradisional Jawa. Disaat teman-teman saya terburu-buru mengikuti langkah kaki pemandu yang menggebu-gebu, justru saya ketinggalan beberapa langkah karena ingin memotret semua peninggalan ini.

Berikutnya, kami menyambangi Ruang Rumah Adat...

Koleksi Museum Nasional 1


Di sini, terlihat beberapa rumah adat dalam bentuk miniatur seukuran tubuh kucing dewasa. Rumah-rumah adat ini memiliki ragam bentuk berbeda: menunjukkan bahwa sisi arkeologis suatu etnik turun dipengaruhi oleh faktor geografis. Seperti rumah bentang (panggung) ala Kalimantan yang umumnya rawa-rawa, ataupun rumah tongkonan di Sulawesi dan rumah gadang di Sumatera yang menyerupai tanduk. Masing-masing tentu memiliki makna filosofis tersendiri. Walaupun rumah-rumah tersebut dibangun hanya menggunakan batang bambu, maupun lembaran anyaman bambu, akan tetapi ornamen-ornamen khas membuat ciri-ciri suku pembuat tidak memudar.

Memasuki ruang keramik, sejauh mata memandang, tersaji puluhan keramik dari berbagai bangsa yang telah melakukan kontak perdagangan dengan Nusantara. Ada keramik Viet Nam, keramik Myanmar yang kehitaman, keramik Tiongkok yang ditemukan tenggelam bersama karamnya kapal di Selat Gaspar, Umumnya, keramik di sini merupakan bagian dari peralatan masak dan makan. Ada mangkuk memanjang, piring kecil, alas gelas (lepek), vas bunga, hingga gentong yang biasa digunakan saat membuat Empal Gentong. Keramik-keramik ini bukan hanya diperdagangkan, tapi ada juga yang dihadiahkan untuk kerajaan-kerajaan lokal Nusantara. Kemilaunya porselen yang digunakan dalam keramik buatan Viet Nam masa lampau, disertai corak kebiruan apik, memikat hati. Mungkin koleksi keramik serupa di dapur rumah saya juga dari Viet Nam, hehe.

Kami meninggalkan ruang keramik asing dengan langkah kaki berdecit di atas lantai kayu...

“Ruang terakota memiliki suhu yang stabil agar kerajinan terakota ini tidak hancur...” ujar bapak pemandu.

Ya, terakota adalah istilah untuk berbagai peralatan (tembikar) yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Lebih tepatnya, terakota adalah istilah yang digunakan untuk semua benda yang terbuat dari tanah liat, dan berwarna alami coklat tanah liat. Di ruangan ini, ada banyak benda dari tanah liat yang dipamerkan: guci dan patung-patung kecil mendominasi. Benda-benda ini dibuat menggunakan tanah liat yang sedikit basah, dibentuk sedemikian rupa, dikeringkan/dijemur, lalu dibakar agar mengeras. Bisa dibilang, mirip dengan proses pembuatan gerabah di Kasongan, Bantul.



Kini waktunya keluar ruangan...

Taman kecil di tengah Museum Nasional ini dikelilingi oleh puluhan patung dan stupa. Tak lupa, lingga dan yoni serta beberapa patung terhampar di tengahnya. Saya berjalan mengitari taman melalui serambi yang dipagari peninggalan-peninggalan prasejarah ini.

Sebuah patung dengan tinggi dua kali orang dewasa memiliki keganjilan di kaki kirinya. Ya, seperti ada ‘luka lecet’ yang membuatnya tampak licin. “Patung ini ditemukan di perkebunan oleh seorang warga yang semula menjadikannya (kaki patung terlihat) pengasah parang. Selama bertahun-tahun objek arkeologis ini ‘menderita’ hingga akhirnya petani yang menjadikannya asahan menyadari bahwa batu yang dimaksud rupanya sebuah patung.

***

Pemandu museum menjelaskan kronologi lecetnya patung besar ini


Kami kembali lagi ke lobby, kini menuju ke ruang manusia dan lingkungan. Sebuah etalase memamerkan fosil tengkorak manusia Jawa kuno yang ditemukan di Flores, Mojokerto, dan beberapa diantaranya Sangiran. Fosil manusia purba ini di Museum Nasional ini dikomparasikan dengan periodisasi zaman batu: paleolitikum hingga neolitikum, bagaimana bentuk tengkorak berubah seiring dengan perkembangan kemajuan pola pikir dan bertahan manusia purba. Selain itu, ada juga replika goa (tempat tinggal manusia purba setelah sebelumnya nomaden), lengkap dengan lukisan-lukisan di dindingnya.

Naik ke lantai 2, waktunya imajinasi masa lampau kami tergantikan dengan zaman kontemporer….

Museum Nasional memang museum tematik, bahkan antar ruangannya disajikan berbagai koleksi yang berbeda. Lantai 2 memamerkan koleksi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ekonomi masyarakat Indonesia. Beberapa prasasti kerajaan di Indonesia seperti prasasti canggal, ciaruteun, kedukan bukit, dan mulawarman turut ‘diungsikan’ ke museum ini. Memang terkait, prasasti berbahasa Sansekerta ini merupakan cikal-bakal Bahasa Indonesia kelak, juga bahasa-bahasa daerah yang merujuk kepadanya.

Selama mengelilingi museum, baru kali ini saya melihat koleksi museum yang tidak disimpan dalam etalase kaca dan terbuka. Beberapa anak-anak yang mengikuti tur bersama orang tuanya bergantian berfoto dengan objek-objek museum. Sesekali sang pemandu berucap, “Eits, jangan disentuh! Jangan dinaikin! Jangan didudukin!” karena khawatir objek sejarah ini karena keteledoran mereka.



Uniknya di lantai dua, tak hanya prasasti yang dijadikan koleksi, bahkan kemudi kapal tradisional Bugis (yang dikenal sebagai suku pembuat kapal terbaik di dunia), ada di sini. Kompas tradisional dengan dua bola, lampu petromak, globe (bola dunia), ban kapal, jangkar, meriam Belanda, nekara, timbangan tradisional yang gedenya nggak terkira, replika rumah adat dan kapal phinisi ada di sini.

Waktunya naik ke lantai tiga. Saya melihat umumnya koleksi di lantai tiga adalah perabotan bersejarah. Tentu budaya juga berdampak pada corat perabotan rumah tangga, terutama terlihat pada pola ukir kayunya. Lemari, meja, kursi, permainan tradisional seperti gasing, gobag sodor, dan congkak, juga drobe dengan ornamen ciamik otentik ada di sini.



Saya mulai berfantasi ketika seorang penjaga museum memperingatkan saya untuk menyimpan kamera dan tidak bertindak nekat dengan memotret satu pun koleksi di lantai empat. Lantai empat ini memang tempat paling vital karena menyimpan koleksi selain berharga secara nilai sejarah, tetapi juga berharga nilai jualnya. Rombongan tur kami hanya bisa pasrah untuk melewatkan kesempatan berfoto dengan objek apik di sini, sedangkan turis mancanegara yang ikut menyambangi museum melemparkan senyum tipis kepada penjaga.

Komentar