Menyambangi Desa Kirigakure (霧隠れの里)

Ketimbang cerah, saya lebih suka cuaca berkabut. Dan Magelang Barat mengamini keinginan saya di tengah rasa kalut.

Kirigakure adalah nama salah satu desa dalam kartun Jepang, Naruto. Desa ini letaknya tersembunyi dan selalu diselimuti kabut kelam. Apakah ada desa yang mirip seperti ini di Indonesia? Kalau ada yang bertanya demikian, saya belum memiliki argumen terbaik untuk menjawabnya.

Sebenarnya saya pernah mengunjungi dua tempat di Magelang barat: spot wisata Delimas di Desa Girimulyo, Windusari dan Bukit Jonggol di Kajoran, Magelang, sendirian—dalam rangka mengetahui potensi, sekaligus cari bahan skripsi di sana. Keduanya sama-sama mengusung konsep agrowisata yang memanfaatkan kecantikan bentang alam perkebunan di kaki gunung Sumbing guna menarik wisatawan.

Instalasi bambu menjadi penahan longsor sekaligus gapura masuk desa

Apabila waktu kunjungan kali pertama (saya sendiri), cuaca sangat cerah bersahabat, kunjungan kedua ini diselimuti awan. Kabut yang pekat membuat segalanya serba putih. Bagai desa Kirigakure (霧隠れの里) dalam film Naruto, desa-desa di sini memang sering diselimuti kabut yang membuatnya tersembunyi apabila dilihat dari desa-desa di bawahnya.

***

Rofi berpose dengan latar jurang, sudah lama Ia tidak melihat kabut

Pada kunjungan kedua kali ini, saya turut mengajak Rofi. Lokasi pertama, kami menyambangi Girimulyo. Terletak 12 kilometer ke barat dari rumah saya, agrowisata ini memiliki beberapa anjungan yang bisa jadi spot swafoto yang menarik. Jalan aksesnya merupakan jalan desa, namun masih bisa untuk dilewati kendaraan roda empat bahkan enam. Sebuah papan besar bertuliskan ‘Delimas’ menjadi penanda kami tiba di kawasan ini. Meski memiliki latar perkebunan ciamik, kurangnya promosi membuat tempat ini masih 'kondusif' alias... sepi. Lumayan bagi saya yang menyenangi ketenangan dan kesunyian. Selain gardu pandang, ada juga air terjun Delimas dan Sikencling Dampit untuk sekadar menyegarkan diri. Kedua air terjun ini bisa dicapai dengan jalan kaki menuruni lereng tebing sejauh kurang lebih satu kilometer.

Kondisi langit berkabut membuat hati terasa kalut

Saran: cek bahan bakar dan kampas rem karena jurang merintangi sepanjang perjalanan.

Ke barat laut sejauh 700 meter, terdapat instalasi penahan longsor—dibangun demi keamanan karena warga membangun jalan yang membelah bukit. Meski hanya terbuat dari sambungan bambu, dan sayangnya mulai lapuk termakan usia, tempat ini masih fotogenik bagi saya. Berada di instalasi yang sekaligus menjadi penanda masuk ke desa Ekowisata Petung, membawa fantasi saya pada sinetron (serial teve) The 100 dari CW yang mana masing-masing klan memberi batas teritorial mereka dengan gerbang. Ada yang dari rongsokan besi, ada juga dari batu. Unik.

Papan nama Delimas terpampang megah menghadap timur

Usai menyambangi instalasi bambu alias gerbang desa alias penahan longsor, kami beralih ke tempat berikutnya. Dari Girimulyo, kami bergegas menuju desa Sukomakmur, Kajoran. Tidak ada yang istimewa di sini karena tidak ada atraksi wisata dan desa petani biasa. Akan tetapi ada salah satu bukit yang menghadap langsung ke puncak Sumbing — tanpa penghalang pandangan, indah dengan lanskap perkebunan. Namanya Bukit Jonggol.

Selama perjalanan dari Girimulyo ke Sukomakmur, kabut putih tebal merintangi perjalanan. Jalanan naik turun dengan lebar yang tidak standar. Tidak adanya barikade di tikungan membuat siapa saja perlu sangat berhati-hati bila berkendara di sini, apalagi bagi pengendara roda empat dengan blind spot mereka. Sepanjang perjalanan, kami menemui longsor di beberapa titik jalan kabupaten ini.
Bukit Jonggol sebenarnya adalah nama bukit saja, tidak dikelola dan bukan tempat wisata. Akan tetapi cantiknya lokasi ini ketika cuaca cerah (kunjungan sebelumnya) membuat saya rela mengunjunginya meski jarak tempuh yang jauh dari kota. Tidak ada SPBU sepanjang perjalanan tidak membuat saya khawatir karena banyak Pertamini di kiri-kanan jalan.

Rofi berpose dengan latar perkebunan dan petak makam

Tebalnya kabut membuat papan nama bagai terpasang di dinding

Papan nama Bukit Jonggol sudah berulang kali longsor


Udara sejuk segera mengisi rongga paru-paru begitu saya tiba di Sukomakmur. Saya memarkirkan motor di bawah bukit, dilanjut dengan jalan kaki ke puncak. Beberapa warga tengah memanen hasil kebun mereka menyarankan untuk membawa motor saya ke atas bukit sekalian, supaya tidak repot naik turun. Terjalnya medan dengan hipotenusa lebih dari 45 derajat itu membuat saya urung untuk membawa motor ke atas.

Di trek terjal ini, sesekali kami menepi untuk memberi jalan para petani yang hilir mudik membawa pupuk dan panen dengan KLX mereka. Dengan sangat berani mereka melintasi medan ini, saya mah merinding. Tak lama, kami tiba di puncak Bukit Jonggol. Sayangnya, pandangan ke puncak Sumbing sudah tertutupi kabut tebal. Berbeda dengan kunjungan saya tiga minggu sebelumnya, plang nama ‘Jonggol’ rupanya patah — mungkin karena kencangnya angin.

Desa-desa di bawah kami diselimuti kabut tebal
Hembusan angin kencang biasanya mengarah ke utara

“Seneng banget gue John, akhirnya bisa liat awan juga,” ungkap Rofi sambil sumringah. Saya heran, dia yang dari Soreang sepertinya belum pernah sedekat ini dengan kabut yang juga awan rendah. 😐

Komentar