‘Delengen Tah Bumi Osing’

Banyuwangi—kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini masih sangat asing di benak saya, baik segi historis maupun kondisi sosiokulturalnya.

Sedari tadi saya berusaha mencari tahu apa itu Osing, kenapa istilah itu begitu populer melekat pada Banyuwangi, dan mengapa hanya ada di Banyuwangi saja? Namun sayangnya sinyal operator XL tidak menjangkau hingga pedalaman Bondowoso — Jember ini.

Langit senja kelabu kini berganti gelap. Berdasarkan peta transit Maps luring saya, kereta Sritanjung ini hanya perlu melintasi Jember — kabupaten terakhir sebelum Banyuwangi, untuk tiba di stasiun tujuan kami, Karangasem. Di tiket seharga Rp. 94.000, tertera perkiraan waktu tiba yakni 20.45 di stasiun akhir Banyuwangi Baru. Saya jadi terheran-heran, ‘Masa butuh waktu dua jam perjalanan kereta dari Jember ke Banyuwangi? Lama banget!’

Ada kursi kosong, pakai sebentar deh


Ya sudah, kembali saya buka lid laptop sembari memainkan gim yang sudah berulang kali saya mainkan selama perjalanan kereta.

***

Dua puluh empat Januari menjadi hari dimana pertama kali bagi saya untuk melakukan perjalanan kereta api ke Banyuwangi, dan rupanya jauh lebih lama daripada perjalanan Jogja — Jakarta. Bagaimana tidak, mulai dari stasiun Solo Jebres hingga Banyuwangi, rel kereta masih single track yang bersisian dengan trek baru yang masih dalam tahap pembangunan. Alhasil, di beberapa stasiun — kereta saya yang notabene kelas ekonomi, harus rela mengalah dengan kereta kasta atasnya. Dan benar rupanya, Lempuyangan — Karangasem memakan waktu hingga 14 jam perjalanan. Bosan, sangat.

Kesibukan bongkar muat logistik di sudut Stasiun Kertosono


Rute yang saya gerutui adalah kereta yang harus berhenti di Surabaya Gubeng dan Wonokromo (dua kali pula). Kedua stasiun ini berada di ujung utara perjalanan dengan transit selama 30 menit di Surabaya Gubeng. Padahal sebenarnya ada trek dari Mojokerto langsung ke Sidoarjo. Transit selama tiga puluh menit akibat pergantian posisi lokomotif kami manfaatkan untuk mencari makan siang. Berdasarkan informasi dari Flo, “Ada banyak banget kok yang jual makanan di Gubeng.” Sial, informasinya kurang rinci. Saya, Bagas, dan Dwi bergegas memperhatikan arah para penumpang Sri Tanjung untuk mencari makanan.

Banyak pejalan di Jawa Timur mendatangi bapak penjaja makanan ini, dihargai Rp. 10.000,- saja

Suasana Stasiun Gubeng nan sibuk


Ada seorang bapak-bapak paruh baya dan istrinya sedang mengoper makanan, dan penjual cilok dari luar pagar stasiun. “Berapaan pak?” Sepuluh ribu rupiah untuk satu styrofoam makanan berisi menu pilihan: ayam, atau ikan, lengkap dengan mie, nasi, dan sayur yang mengenyangkan. Worth it! Saya kira sebagai kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, makanan seharga selembaran ungu tidak dijumpai lagi.

Tak lama, pengumuman kereta Sritanjung akan kembali berangkat menggema di seantero stasiun. Kami bergegas kembali ke kereta.

‘Selamat malam. Kepada seluruh penumpang kereta api Sritanjung dengan tujuan akhir stasiun Banyuwangi Baru, sesaat lagi kereta akan berhenti di stasiun Karangasem. Kepada para penumpang dipersilakan untuk mempersiapkan diri. Jangan lupa cek kembali barang bawaan …’

Dan kami mendarat dengan selamat di stasiun terdekat dengan pusat kota Banyuwangi.

Malam ini kami tidak ada rencana pasti mau menginap dimana. Berdasarkan informasi dari Devi — rekan yang sudah berkunjung ke Banyuwangi, ada salah satu penginapan di area stasiun yang bagus dan direkomendasikan. Letaknya di seberang stasiun, tepat di depannya. “Ciri-cirinya ada toko di depannya. Duh, gue lupa namanya.” Baiklah, kalau begitu saya perlu bertanya lebih dahulu.

Dua dunia dalam satu gerbong kereta


Kami segera mendekati deretan rumah di depan stasiun. Kebetulan, kami bertemu pasutri yang duduk tak jauh dari tempat kami, “Ini kali kedua kami ke Banyuwangi dan menginap disini dek. Tempatnya enak, nyaman, kami rekomendasikan.” Tanpa pikir panjang — juga karena sudah sangat lelah, kami menginap di Toko dan Penginapan Subur, di lantai dua, kamar berenam, dengan tarif IDR 20.000/org. Tarif ini berbeda dengan kamar yang dilengkapi ranjang dan muat untuk 2 orang saja, seharga IDR 75.000/malam. Selain kamar dan kamar mandi, penginapan berbujet rendah ini dilengkapi dengan WiFi. Sangat membantu bagi saya yang haus koneksi, sedang jaringan XL kurang baik di sini.

***

“Gimana, kita jadi ke Ijen nih?”

“Kalo di itinerary yang gue buat sih kita ke Ijen besok malam. Tapi kalo enggak capek-capek amat, boleh lah ke Ijen malam ini,” ujar saya. Sebagai trip organizer, saya telah merancang beberapa agenda selama empat hari di Banyuwangi. Sayangnya, minus wisata kuliner. Oleh karena itu, saya tugaskan Hanafi untuk mencari kuliner khas, murah, dan tak jauh dari rute ke tempat tujuan wisata. “Boleh,” semua serempak mengiyakan rencana ke Ijen malam ini juga. Hadeeeh, padahal saya sendiri sedang ingin rebahan. “Okelah, kalau begitu semuanya tidur sekarang. Jim tolong hubungi ibunya, kita sewa motor di sini juga. Kita berangkat tengah malam.” Di Banyuwangi, untuk menyewa motor cukup menitipkan kartu tanda penduduk (KTP) sebagai penjamin. Ya jelas, toh menginap di homestay situ juga. 😅

***

Dengan masih setengah sadar, saya berusaha meregangkan tubuh supaya kembali segar. Maklum, tidur dua jam sama sekali tidak membuat saya masuk ke mode tidur lelap. Segera saya persiapkan diri disaat kawan seperjalanan terlelap.

Outfit siap. Saya kenakan jaket tentara super hangat berhubung kali ini akan ke Ijen terlebih dahulu. “Motornya mau yang mana Jo?” Mempertimbangkan bobot motor, saya dan Dwi memilih Honda Beat. Bagas dan Jim memilih Vario 2015, begitu pula Pandhit dan Hanafi.

***

Tengah malam, Banyuwangi bagai kota mati. Tidak ada satu pun kendaraan keluar berlalu-lalang karena tidak ada angkringan di sini. Meski merupakan kota pesisir, kondisinya yang dihimpit pegunungan membuat Banyuwangi dingin di malam hari.

Berulang kali saya menguap dan mencoba fokus menerawang jalanan. Lubang di kiri-kanan jalan ke arah Ijen memberikan persepsi penilaian saya terhadap kinerja pemerintah daerah disini. Maklum, sebagai destinasi unggulan, Ijen sendiri belum memiliki akses yang cukup baik. “Bahkan lebarnya pun nggak standar juga. Coba kalau ada kendaraan besar lewat? Macet nih jalan,” kutuk saya sembari membuka obrolan dengan Dwi.

Tak lama, kami tiba di Jambu Rest Area. Di sini terdapat pos retribusi yang akan menarik 3.000 IDR dari setiap pengunjung sebagai tanda parkir kendaraan roda dua. Selepas melewati pos ini, jalanan benar-benar sunyi berpagar pohon-pohon — mungkin jati, berbatang tinggi. Dan rimbun. Dan gelap. Tetapi jalan lebih mulus dari sebelumnya. Dari titik ini, kami mulai memacu kecepatan cukup tinggi supaya segera tiba di puncak. Ya, dari rest area Jambu jarak yang ditempuh hingga 30 menit perjalanan.

Habis melewati tikungan Erek-erek, mendadak performa Vario yang dikendarai Bagas menurun. Motor bermesin 150cc itu tidak mampu lagi untuk diajak mendaki, dan berhenti. “Ada apa Gas?” Mesin motor memang menyala, tetapi begitu digas, mesin sama sekali tidak memutar roda belakang. “Sial, mesinnya nggak mau jalan.”

Trekerekerek ~ kurang lebih begitu bunyinya. Motor yang notabene termahal itu tidak mau bekerjasama. Kali ini diperparah dengan lampu depan motor yang rusak sebelah. Gelap.

“Jo, nyalain motor! Sorot motornya Bagas,” perintah Dwi.

“Wah, nggak mungkin nih kita lanjutin perjalanan. Mana udah jam 1 malam pula,” keluh Bagas. Pandhit yang diboncengnya justru lebih rileks dari nrimo keadaan. Tapi, di tengah hutan begini. Dengan rasa dingin yang mulai menggerayangi. Tanpa ada sinyal ponsel yang kuat dan memadai. Di tengah rimba raya belantara jati. Apa jadinya perjalanan kali ini?

Bersambung...

Komentar