Solo: Antara Segarnya Susu dan Meriahnya Imlek

Dua hal yang paling saya suka dari Solo: perayaan Imlek yang meriah, dan kuliner malam, terutama angkringan susunya.

'Ayo Solo, balik besok siang'

Tiba-tiba sebuah pesan masuk di saat saya baru masuk ke kamar B21. Teriknya sinar mentari siang itu membuat saya lebih betah untuk berada di dalam ruangan. Kencangnya koneksi internet membuat saya terlena. Duh nikmatnya ~ andai saya tinggal di kos-kosan seperti ini.

Saya berpose dengan latar keramaian di sekitaran Tugu Pasar Gedhe, Solo

Derum mesin motor menggema di depan sekre, dua orang datang menghampiri. “Pak, melu ning Solo yo,” ajak Bagus yang sedang bersemangat hunting foto. Kenapa Solo? Kenapa tidak Magelang atau Semarang, atau di Jogja saja. Solo — kota dengan nama lain Surakarta ini merayakan Tahun Baru Imlek 2569 sekaligus hari jadinya yang ke-273. Ya, dua perayaan besar yang memeriahkan bulan Februari di kota Batik ini. Semula saya berusaha menolak ajakan ini mengingat — kalau tidak salah — besok ada rapat kepanitiaan acara yang saya ikuti. “Tapi ya bener juga sih, udah dua tahun perayaan Imlek gue enggak kemana-mana.” Pada Tahun Baru Imlek 2015 lalu, saya merayakannya dengan berbelanja kuliner Imlek (seperti kue keranjang dan lapis legit) di Magelang, begitu juga dengan Imlek 2016. Sedangkan pada Imlek 2017 lalu, saya menikmati hari liburnya saja di Jogja. Maklum, perayaan Imlek di Jogja tidak semeriah kota-kota dengan mayoritas etnis Tionghoa lainnya di Indonesia. Semarang tampak lebih meriah daripada Solo. Sayangnya jarak yang jauh, kemacetan lalu lintas dan polusi selalu membuat saya urung untuk menyambanginya dikala Imlek. Paling mentok saya mengunjungi Pagoda Avalokitesvara dan Kelenteng Sam Poo Kong bersama Ahfie Rofi, itu pun pada saat liburan antar semester.

Berhubung Solo merupakan kota dengan Indeks Kota Toleran tertinggi ke-10 versi Setara Institute — dan jarang ditemukannya kasus intoleransi yang berkaitan dengan SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan), “Okelah gue join ke Solo.”

Masing-masing dari kami bergantian foto


***

Kami berangkat pukul 2 siang. Mungkin terlalu siang menurut kebanyakan orang. “Kita cuma mau nikmatin lampion di Pasar Gede-nya kok pak.” Menggunakan mobil, perjalanan Jogja — Solo sejauh 92 kilometer dapat ditempuh dalam waktu dua jam saja. Titik kemacetan umumnya terjadi di depan Bandara Internasional Adi Soetjipto, Klaten kota, Delanggu, Kartasura, dan Transmart Solo.

Jelang petang, sialnya Solo diguyur hujan deras. Kami segerakan untuk menepi dan ambil parkir tak jauh dari Pasar Gede. Oiya, setiap perayaan Imlek, ratusan lampion memang dipasang di sekitaran Pasar Gede dan jalan pusat kota dari depan Telkom, Balaikota, hingga Pasar Gede ditutup total hingga tengah malam. Alhasil kami harus parkir sedikit jauh agar mobil bisa keluar nantinya.

Foto bergaya di balkon lantai dua Pasar Gedhe, Solo

Derasnya hujan sempat membuat kami harus menunggu lama. Beruntung Pendopo Balaikota Solo masih terbuka dengan colokan di setiap pilarnya. Lumayan untuk mengisi daya ponsel sembari menunggu hujan reda. Sayangnya, tidak ada akses WiFi publik di sini (terbatas untuk pegawai instansi pemerintahan). Di beranda pendopo, belasan karangan bunga ucapan selamat hari jadi kota dari pelbagai instansi, organisasi, dan perusahaan terpasang.

Hujan mulai mereda begitu memasuki pukul 8 malam. Masyarakat mulai memenuhi jalan Urip Sumoharjo yang sudah ditutup lebih awal rupanya. Semua jenis kendaraan tidak diperkenankan melewati Jln. Jenderal Sudirman dan dialihkan melalui Jln. Ronggowarsito. Semua merayakan sukacita Imlek di bawah ratusan lampion yang menyala merah — menjadi simbol pengharapan bahwa di tahun yang akan datang diwarnai dengan keberuntungan, rezeki, dan kebahagiaan.

Rupanya keramaian Imlek di Solo hanya berpusat di Tugu Jam Pasar Gede dan Tugu Pemandengan yang ramai oleh penampilan perkusi. Ada juga deretan lapak-lapak pedagang yang berjualan aneka macam kuliner, sayang kurang tematik dengan perayaan Imlek. Dari pukul 20.00 hingga 23.00, Bayu dan Bagus sibuk berkeliling memotret imaji people interest, Zahry dan Fadhlul siap menjadi talen lomba foto yang mereka ikuti. Sedang saya cukup memasang Mi Earphone Basic saya dan memutar musik dari layanan streaming hijau itu.

***

Angkringan Solo khas menjual susu yang dipasok harian dari Boyolali, Jawa Tengah

Datang ke Solo tak lengkap rasanya tanpa menikmati sajian khas kota ini. Meski sudah malam, Bayu menunjukkan kepada kami salah satu yang khas di kota ini: susu segar. Sebagai ‘ibukota’ dari Solo Raya, Surakarta mendapat pasokan susu segar dari Boyolali setiap harinya. Dan, sangat mudah mencari kedai-kedai kaki lima yang menjual susu segar.

Selain susu, aneka gorengan dan roti bakar menjadi sajian khas angkringan ala Solo

Harganya? Murah, hanya 5.000 IDR saja untuk segelas susu segar tanpa tambahan pengawet buatan. Dari banyak kedai yang ada, kami memilih Kedai Shi Jack yang terkenal sebagai PKL susu segar pertama. Gaya hidup sehat rupanya sudah dimulai warga Solo sejak zaman kolonial.

Komentar