Taktik Empat Peluru

Dua jam dalam arena pertempuran.



Kelas pagi berakhir. Masa-masa kuliah semester enam saya memang monoton dan membosankan: kuliah hanya ada di sesi 1 setiap harinya — kecuali Rabu, saya libur. Alhasil, usaha bangun pagi pun hanya untuk memenuhi mata kuliah 3 sks itu. Sehabis itu? Sarapan pagi bersama rekan dan berlalu pada kesibukan masing-masing.

mw ikut main paint ball ga?’ pesan masuk dari orang yang tak asing, Dwi.

Paintball ya? Belum pernah main sih. Masih asing dengan hobi tidak murah yang satu ini. Pelurunya sebesar sebutir kelereng itu ya? Kok jadi takut kalau sakit. 😅

Enggha :3"
ngopo?
ayolah
Kalo kena sakit :(
alay bed dah

Oiya, paintball rupanya beda dengan air softgun. Perbedaan mencakup bentuk senjata dan peluru yang digunakan. Apabila paintball menggunakan peluru bola cat seukuran kelereng, peluru dalam air softgun ukurannya lebih kecil sehingga mengurangi gaya gesek dengan udara dan lebih jitu/tepat sasaran karena sulit terlihat lawan. Duh, sakit kayanya. Selain itu, senjata air softgun lebih realistis karena merupakan replikasi dari senjata sungguhan, tidak demikian dengan paintball.

***

Usai kelas Praktikum II berakhir...

“Ayo Jo, jadi ikut main nggak?” ajak Dwi bersemangat yang sayangnya harus segera saya sanggah. “Sorry Wi, anggaran hepi-hepi gue udah abis buat ke Banyuwangi, ehe.” Setelah proses negosiasi dan diplomasi, akhirnya saya menuruti keinginan Dwi untuk ikut serta main paintball. Woya dong wong dibayarin. 😂 Bersama Mada, Hanafi, Pandhit, Anan, Diana, Ulil, Juna, Bima, dan Jim, kami bergegas menuju salah satu pionir berdirinya hobi minat khusus di Jogjakarta ini, tepatnya di Jupiter Paintball.

Sesi briefing dengan para instruktur

Instruktur di sini meski saya belum kenal, mereka telah berprestasi pada ajang paintwar internasional


Jupiter Paintball terletak di barat daya Bandara Internasional Adi Sucipto, tepatnya di arah timur perempatan Blok O. Saya dan Hanafi terpaksa menyusul karena saya tidak membawa helm. Sempat terpisah dari rombongan dan bingung arah tujuan, kami tiba di arena paintball ini.

Di lokasi, kawan-kawan saya sudah bersiap diri. Sebelum permainan dimulai, kami diminta mendengarkan briefing dari instruktur yang rupanya juga pemain turnamen paintball profesional di kancah internasional. Beliau memberitahu kami mengenai permainan ini: penggunaan senapan, aturan main, penentuan pemenang, skenario permainan yang diinginkan, juga teknis komando di lapangan. Oiya, di Jupiter Paintball, para instruktur tidak menyebut senapan, melainkan marker karena pokok permainan ini adalah menandai lawan.

“Terkadang ada juga tim yang menembak kawannya sendiri. Mungkin saking dendamnya di luar permainan,” jelas instruktur disambut gelak tawa kami. Ya kali menembak kawan sendiri, rugi di jumlah pasukan dong ~ 😂

Kami beranjak dari podium dan segera membagi tim. Tim cokelat (dari kiri ke kanan) ada Jim, Diana, Ulil, Ananta, Juna, dan saya. Tim kedua dengan seragam gelap ada Bagas, Pandhit, Dwi, Hanafi, dan Mada. Pembagiannya timpang? Seksis? Entah kenapa posisi wanita dianggap lemah sehingga Ulil dan Diana dianggap satu, ehe. Sudah dengan seragam, marker berisi peluru? Pasang goggle dan let’s begin!

Untuk sementara, kawan jadi lawan


***

Ronde pertama, tim cokelat dapat giliran jaga di pos utara. Dengan kondisi medan yang ada — tumpukan ban, dinding seng, karung goni, saya membagi tim untuk membentuk formasi 3–3. “Jim di kanan, Anan tengah, Juna kiri. Kalian konsentrasi saja pada pergerakan musuh. Aku, Diana, Ulil jadi backup kalian dan fokus terhadap serangan samping!”

Wuih... kalau dipikir-pikir saya auto kapten padahal sama sekali belum pernah main paintball. Justru Jim yang sudah pernah main paintball enggan ditunjuk jadi kapten. Apalah saya yang paling mentok main betengan sewaktu SD. 😂

Bidik dengan Cepat, Serang dengan Tepat!

BABAK 1

TIGA DETIK permainan dimulai, kami semua berpencar. Ada yang sembunyi di belakang ban, saya memilih berlindung di balik papan. Imajinasi saya sedang bermain Counter Strike pun dimulai. Sialnya, papan ini berlubang. Saya harus sedikit bungkukkan badan supaya tidak jadi sasaran. Dalam pertahanan kami, Ulil yang berada di tengah berjaga di belakang. Dengan skenario permainan tumbangkan lawan, kami harus menjaga kawan kami yang ada di dep … 🔫

Jbet! 😵

Satu peluru kuning pecah tak jauh dari saya. Sial, posisi sudah diketahui. “Jim, maju masuk ke heli!” perintah saya pada Jim, salah satu regu penyerang. Jim pun segera menyusup ke dalam helikopter yang berjarak 10 meter di depannya. Tumpukan ban memang melindungi, tapi tidak lama. Lebarnya jarak dan ruang terbuka membuat ia rentan tertembak di ruang terbuka.

Posisi helikopter (kanan) dari sudut pandang Jim

Oke, saya harus fokus pada Juna saja. Ia berada tepat di depan saya, di balik seng yang digambarkan sebagai pintu rumah penduduk. Jim sudah aman dengan Diana sebagai backup-nya, begitu pula Ananta.

Sreeet!

Suara tubuh memaksa merangkak di atas rerumputan kering. ‘Pasti gatel banget deh,’ pikir saya. “Musuh di depan!” teriak saya menarik atensi musuh supaya tidak melihat Juna yang sedang move. Ya jelas akhirnya mereka tahu dimana posisi saya. Tapi dengan tubuh terbalut seragam dan wajah tertutup goggle, setidaknya musuh tak tahu siapa pecundang di balik penyamaran ini. 😂

***

Juna berhasil merangsek masuk ke permukiman penduduk. Sepuluh meter di belakangnya — saya, mengawasi sekitar. “Nggak ada siapa-siapa kumendan,” lapor Juna ke saya. “Oke, kita ke rumah berikutnya.” Tiba-tiba, di balik sofa empuk itu terlihat moncong senapan AK-47. “Juna, merunduk!”

Bidik dengan tepat, tembak dengan cepat

Bagai dua dunia, musuh dan Juna hanya terpisah sandaran sofa. Saya mulai membidik musuh dari balik almari usang ini, dan menghitung peluang agar tidak mengenai Juna. Sang musuh, masih saja bersembunyi, Ia tampak gemetar. Juna ambil kesempatan — ia sedikit berdiri dan menodongkan senjata ke arah musuh. Ditariknya pelatuk itu … mesiu meletup. “Sial enggak kena!”

Tampaknya Juna kesusahan. Saya ambil peluang ini sebelum musuh menembak Juna dengan cara yang sama. Dari balik lemari, saya merayap menuju rak buku … dan

Dash!

Peluru satu, gagal.

Dash!

Peluru dua, membentuk kurva indah menghantam botol anggur.

Dash! Tlang!

Peluru tiga, menyentuh ujung senapan musuh! Hebat! Belum pernah saya membidik sehebat ini! Mungkin ke depannya saya bisa ikut seleksi TNI dan gagal pada tes kejantanan!
Oke, peluru tinggal satu. Saya harus fokus mengenai musuh supaya bisa berpindah ke rumah berikutnya. Juna masih meringkuk di balik sofa. Fokus … fokus … sukof …

Dash! Jleb!

Eh?

ASTAGA! 🥴

“Aaaargh!” Juna mengerang, belikat kirinya tertembak, oleh saya. “Sial!” Musuh segera melarikan diri lewat dapur belakang. Saya segera merapat, meyakinkan kalau Juna tidak apa-apa — atau setidaknya, memanggil bala bantuan medis dari belakang.

***

Kae-kae, ono sing nembak kancane dhewe!” gelak tawa sang instruktur di belakang saya. Anjir, rupanya kawan nembak kawan satu tim bisa kejadian juga. Kencangnya angin dari timur membuat tembakan saya meleset dan mengenai tubuh Juna. Dianya sih enggak kenapa-kenapa, tapi Ia jadi gugur sebelum permainan berakhir. 😐

Pada permainan bola cat, usahakan tidak melepas alat pelindung diri selama berada dalam arena

Oke, babak pertama berakhir. Regu saya memenangkan poin dengan berhasil mengugurkan tim lawan. Jim dan Ananta paling berperan disini, mereka berani maju ke lini terdepan, menembak musuh, dan menjaga diri — membuat Ulil dan Diana tidak dapat lagi diandalkan. Beberapa musuh ada yang gugur karena kehabisan amunisi — dalam permainan harus segera angkat tangan tapi jangan membuka goggle dan segera menepi keluar arena.

***


BABAK 2

Kami bertukar posisi. Kini tim hitam menempati posisi kami sebelumnya. Instruktur telah membagi ulang sisa amunisi kami yang semula mendapat 25 peluru per orang. Babak kedua, masih dengan skenario yang sama. Dibanding dengan pos pertama, pos kedua terlihat jauh lebih sulit untuk bersembunyi. Ya paling mentok ngumpet di balik tank. Dengan formasi 3–1–2, saya menjadi satu-satunya penyerang tengah. Permainan dimulai!




Ananta, Jim, dan Diana mendekati musuh lewat kiri. Papan kayu besar itu mampu menampung hingga tiga orang, “Inget, jangan bergerombol. Nanti gampang kena tembak!” Juna mulai memasuki tank usang itu, diikuti Ulil di belakangnya. Tubuh Ulil yang kecil bisa mengikuti medan kanan yang muat hanya untuk satu orang. Oke, saya …

Dash!

“Silit!” Permainan baru saja dimulai, tetapi musuh sudah berani membidik saya. Beruntung bantal empuk ini membelokkan arah peluru. Saya langsung mendekat ke arah tumpukan ban. Ukurannya sedikit lebih tinggi daripada saya harus bersembunyi di balik tong minyak Pertamina.

***

Posisi saya berusaha membidik ke arah celah pintu

“Juna gugur dalam pertempuran,” ujar saya kepada tim medis. Upaya pembebasan kota yang terlanjur hancur oleh propaganda oposisi ini rupanya sulit. Bahkan, orang terdekat dalam satu tim pun bisa jadi gugur dalam medan. ‘Yu gonplei ste odon,’ bisik saya sembari menutup mata Juna. Sebentar, salah film, salah bahasa!

Saya bergegas beralih ke rumah berikutnya. Plush!

Satu peluru berasal dari samping kiri. Sial, belum lima belas meter meninggalkan lokasi tewasnya Juna, musuh sudah di depan mata. “Tim medis! Segera kalian pergi lewat pintu belakang!” perintah saya. Mereka segera membawa Juna dengan tandu. Meski medis dilarang untuk dijadikan sasaran perang, nyatanya tidak sedikit relawan medis mati disaat mengabdi.

Dwi dan Ulil, berpose rival

Kongkang! Amunisi sisa 4. Medan tempur luar ruangan. Bersembunyi di balik ban.
Angin sedikit kencang. Dengan empat peluru ini, kecil kemungkinan akan mengenai sasaran. Kalau begitu, perhitungkan matang-matang angin yang mengarah ke jam 2. Buat tembakan kurva, siap?

TEMBAK!

Dash! Plank!

Tembakan mengenai sedan biru itu. Sial, tadi kepala musuh terlihat. Sekarang ia tahu kemana harus menyerang.

Dash! Debb!

Peluru menancap mantap di tumpukan ban. Wow! Bayangkan bila senapan ia bisa melesatkan peluru lebih cepat, tembus kepala! Waktunya serangan balasan!

Dash!

Peluru tidak mengenainya. Sial, angin membelokkan tembakan. Tampaknya musuh tengah bersandar, memegang gagang pintu mobil, sembari menghela nafas. Sekali lagi!

Dash! Dash! Dash! Dash! … cklek!

***

“PELURU HABIS!” saya mengangkat marker ke angkasa. Instruktur langsung meminta saya mengitari medan perang, melepas goggle dan meletakkan marker. ‘Yah, perasaan kok sebentar banget ya babak kedua ini.’ Saya mendatangi Febi yang menonton aksi kami, lalu duduk dan tertegun bersama. Di lapangan — bagai CCTV, saya melihat laga empat lawan lima. Rasanya gatal ingin memberitahu keberadaan musuh supaya lawan kalah. Haduuuh...

Mereka mungkin akrab dalam persahabatan, namun sementara jadi rival di lapangan

Permainan berakhir. Kami semua lelah. Penuh peluh dan berpunggung basah. Tak lupa kami berfoto dengan atribut yang ada. Bahagia? Iya. Rasanya habis ini saya akan menyempatkan diri untuk hibernasi.

“Jo, tadi tembakanmu hampir kena aku lho. Untungnya panel besinya tinggi,” puji Mada atas bidikan saya.

Duh, kenapa tadi enggak ditembak aja ya kap mobilnya?

Komentar