De Tjolomadoe, Riwajatmoe Kini

Pabrik Gula Colomadu sempat menjadi bangunan bersejarah nan terbengkalai, itu dulu. Sekarang bangunan dengan nama baru De Tjolomadoe ini ikut menunjang Kota Solo sebagai tempat untuk MICE.

Prambanan Ekspres berhenti di peron 2 Stasiun Purwosari. Langsung saja saya menerabas kerumunan menuju toilet berpintu marmer itu. Sebagai stasiun beranda dari arah Yogyakarta, cukup banyak penumpang yang turun di Stasiun Purwosari — terutama yang bekerja maupun berdomisili di Solo Barat.



Saya mengepakkan jari-jari tangan, berusaha mengeringkan jari-jemari tanpa menggunakan tisu.

“Gimana zah? Kalau mau naik Batik Solo Trans bisa lewat koridor 1 atau 8,” tanya saya pada Ustadzah Vera. Beliau memang sudah merencanakan perjalanan ke Surakarta guna menemui Syawal — kawan seperalumni SMA saya, yang belum pernah bertemu beliau sejak tiga tahun lalu, yang juga berulang tahun hari ini.

Berdasarkan rencana, hari ini kami akan menyambangi pabrik gula yang direnovasi di Colomadu terlebih dahulu, baru ke kampus bentukan orde baru itu. Konon bagi banyak orang yang telah berkunjung, suasana di pabrik gula yang semula angker, horor, dan nyaris terbengkalai ini berubah menjelma seperti sedang berada di luar negeri. Penasaran dengan eks pabrik gula ini, kami bergegas menuju ke sana.

Panorama sisi utara rel kereta di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah


“Yaudah naik Grab aja. Toh biar langsung dan cepat,” jawab Zah Vera. tablet tuanya menunjuk kalkulasi perkiraan tarif untuk tiba di sana, sekitar 19.000 IDR. Panggilan masuk, kami diminta ke depan Robinson Saripetojo. Berangkat!

***

Sinar terik matahari siang ini tidak menyurutkan semangat saya mengeksplorasi bangunan yang kelak akan dijadikan museum ini. Dua spanduk kain raksasa tertempel di kedua sisi bangunan: BUMN, Hadir Untuk Negeri. Begitu pula di cerobong pabrik ini: bendera PP sebagai tender utama proyek renovasi berkibar lepas. Sedikit mengganggu sebenarnya, tapi toh memang secara resmi museum belum dibuka, tetapi sudah diresmikan. “Museum baru benar-benar dibuka tanggal 9 April nanti. Sekarang masih gratis,” terang Zah Vera sembari menenteng Canon-nya. Meski cuaca sangat cerah, kelembaban yang rendah tidak membuat saya berkeringat. “Cerah, terik, tapi nggak panas.”

Sukrismon dan De Tjolomadoe tampak dari timur laut


Kami berempat berfoto ria di timur laut pabrik. Tampak beberapa pekerja proyek masih berlalu lalang membenahi bagian yang memang diprioritaskan untuk diselesaikan belakangan. Ada yang mengecat, memasang ubin, hingga menata rumput.

“Masuk yuk!”

Kami masuk melalui pintu belakang, bagian De Tjolomadoe Hall. Jendela-jendela kaca setinggi 5 meter mentereng menjadi pemisah antara dalam-luar ruangan. Beberapa pemudi asyik berswafoto ria di depannya. Para pekerja bertopi proyek kuning sibuk memasang ubin-ubin replika, beberapa ada yang mengecat dinding hall. Di langit-langit, ketel-ketel raksasa ditopang besi-besi tua yang kini dicat abu-abu. Beberapa lampu menyoroti ketel-ketel itu. Meski hanya beratap asbes, hawa di dalam begitu sejuk. Beberapa lubang pendingin raksasa menyemburkan angin dengan cepat.

Ketel-ketel super besar di Stasiun Hall dan Penguapan


Oiya, gedung bekas pabrik gula ini memiliki beberapa bagian dengan perbedaan fungsi masing-masing. Dari tempat saya masuk, adalah De Tjolomadoe Hall yang nantinya akan dijadikan tempat konser dan pameran berkapasitas 3000 orang. Sebelumnya direnovasi, gedung paling belakang ini berfungsi sebagai Stasiun Masaka: tempat memproses nira kental dari tebu untuk kemudian dilakukan proses kristalisasi menjadi gula pasir. Selain hall berkapasitas tiga ribu orang, ada juga Sarkara Hall dengan ukuran seperempat hall di sebelahnya.

Stasiun Penguapan dan Tjolo Koffie


Saya beralih ke bagian berikutnya, Stasiun Penguapan. Di area yang semula berfungsi sebagai tempat mengurangi kadar air dari nira encer kini dialihfungsikan sebagai kafe dan shopping arcade bagi kerajinan Indonesia. Kursi-kursi berderet, meja tertata apik, terlihat dua orang barista tengah berbicang sembari menanti pelanggan di samping brewer machine. Tjolo Koffie namanya. Aneka jenis kopi mulai dari robusta hingga arabica, impor dan lokal tersedia. Tak hanya Tjolo Koffie, di sisi barat stasiun ini terdapat pintu untuk masuk ke Besali Cafe. Sebelum menjelma sebagai kafe, ruangan ini semula berfungsi sebagai tempat perbaikan mesin-mesin penunjang produksi termasuk pembuatan suku cadangnya. Sama seperti stasiun sebelumnya, beberapa ketel raksasa berderet di langit-langit.

Salah satu gerai butik di Stasiun Penguapan


Kami menapaki anak tangga menuju ke sebuah instalasi kain hitam. Di dalamnya terdapat puluhan gambar sketsa De Tjolomadoe yang diwarnai oleh anak-anak TK menggunakan spidol berwarna cerah. Alhasil pewarnaan mereka menyala di dalam gelap. Di sudut lain terdapat instalasi sketsa dan foto-foto De Tjolomadoe selama proses renovasi. Terlihat para pekerja dengan peluh dan usaha menyulap pabrik angker ini menjadi ekshibisi baru di Karanganyar. Oh iya, stasiun tempat kami berpijak sekarang bernama Stasiun Ketelan. Di sini terdapat sebuah dinding dengan dua tonjolan lingkaran berlubang. Konon bagian ini berfungsi untuk menghasilkan uap untuk menggerakkan mesin-mesin yang ada di dalam pabrik. Di sebelahnya kini terdapat gerai makanan.

Butik-butik di Stasiun Karbonatasi


Kami keluar ruangan. Silau sorot mentari membuat mata saya sedikit memicing. Matahari tepat di atas kepala saat beton-beton putih ini memantulkan cahayanya. Kami memutari gedung utama, masuk melalui pintu seharusnya. Di depan pintu itu, seorang satpam berdiri membusung, sembari siaga menggenggam pemindai metal.

Stasiun Gilingan dengan jajaran etalase mesin nan rumit


Bruuum …

Sebuah mobil sedan hitam berpelat D meluncur ke depan pintu. Sang supir keluar, mengitari mobil, membukakan pintu belakang. Di belakang mobil itu, sebuah bus menurunkan rombongan manula dengan dandanan mewah. Ya, para konglomerat ini sedang berlibur, menikmati hasil usaha semasa hidup mereka.

***

Dari gerbang utama, pengunjung akan disambut oleh mesin-mesin tua yang kini sudah tidak lagi berfungsi. Stasiun Gilingan, begitulah namanya. Sebagai stasiun pertama yang mengolah tebu, mesin-mesin di sini berfungsi untuk memerah cacahan tebu yang diangkut dari kebun menggunakan lori: jejak rel ada dalam ruangan ini. Di salah satu sudut, seorang pekerja tengah menyelesaikan pekerjaan pengecatan dinding. Di salah satu petak dinding, ada tembok yang dibiarkan mengelupas: menunjukkan struktur asli bangunan.



Well, saya suka museum ini meskipun belum ada koleksinya juga belum resmi dibuka. Beberapa kawula muda hilir mudik sembari menggenggam ponsel mereka — siaga untuk berswafoto ria bila menemukan spot ciamik di ujung ruangan. Rombongan orang tua menyambangi gerai-gerai butik di Stasiun Penguapan dan Stasiun Karbonatasi, beberapa diantaranya ada yang bernegosiasi soal harga dan tempat makan yang akan dikunjungi setelah menyambangi tempat ini.

Sedang asyik-asyiknya memotret, tiba-tiba ada pria paruh baya menyambangi Zah Vera. Sebut saja Pak Cipto. Beliau adalah saksi hidup dari museum ini — dari semula pabrik gula bertenaga uap nan usang milik Mangkunegaran. “Dulu di kiri-kanan pabrik ini ada kebun tebu mbak,” jelas beliau pada Zah Vera. Bagi Ustadzah Vera yang juga mahasiswi S2 Permuseuman, kesaksian Pak Cipto adalah sesuatu yang menarik. Meskipun mungkin beliau sudah menginjak kepala lima, kesaksian Pak Cipto cukup autentik mengingat beliau adalah warga sekitar. “Dari sejak pemugaran selesai, baru kali ini saya sempat datang kemari. Kemarin-kemarin hanya lewat saja.”

De Tjolomadoe dari depan, dan cerobong asap


Kaki saya kembali menapaki beton putih. Tidak banyak yang bisa diceritakan dari museum ini karena belum sepenuhnya dibuka, dan bahkan koleksinya pun belum ada. Mungkin bila waktu mengizinkan, saya akan kembali menyambangi pabrik gula yang dibangun pada 1861 ini. Mungkin.

Komentar