Witing Tresno Jalaran Soko... Warungboto

Serupa dengan Tamansari, Situs Warungboto awalnya merupakan pesanggrahan dan pemandian karena memiliki umbul atau sumber mata air.

Pose Nico menghadap langit

Selesai di Madukismo, sebenarnya kami tidak ada rencana untuk pergi kemana lagi. Ya, perbedaan focus of interest diantara kami membuat pilihan jatuh pada satu titik: Situs Warungboto, “Boleh, berhubung gue juga belum pernah kesana.” Namun sebelum berpaling ke arah timur laut, kami menyempatkan diri untuk singgah melihat kereta. Mungkin Nico juga suka.

Soal kereta, sebenarnya saya heran. Apakah Pabrik Gula Madukismo memiliki trek untuk disambungkan ke rel kereta jalur selatan seperti halnya Depo Minyak Pertamina di Rewulu, Bantul? Meski penasaran, saya pun ragu rel tersambung karena ukuran gauge keduanya yang berbeda, termasuk peruntukan treknya. Tapi setahu saya Belanda memang membangun jalur kereta untuk memperlancar arus barang ke pelabuhan-pelabuhan utama, seperti di Semarang, Cherbon, dan Batavia. Humm, entahlah ~

Ada empat trek di Stasiun Patukan yang biasa digunakan sebagai pemberhentian kereta barang


Ring Road Selatan kini bernama Jalan Siliwangi yang berdampak bagus terhadap integrasi kesukuan Jawa-Sunda. Seperti biasa, akan terjadi kemacetan di Perempatan Pelemgurih. Saya pun melewati jalan dalam Sunan Kudus supaya lebih cepat tiba di Stasiun Pathukan. Ngomong-omong soal jalanan di Jogja — terutama di dalam jalan lingkar, sangat mudah sekali untuk menghafal arah jalan, “Selama tahu kalau Merapi yang runcing tinggi itu ada di utara, pasti bisa tahu dimana barat, timur, dan selatan.”

Motor tua rakitan 2014 ini melaju di jalur lambat, berbelok ke bawah begitu sampai di jembatan layang. Saya pun ambil parkir di kiri jalan gang buntu ini. Sinar terik pukul dua siang membuat matahari sedikit condong, “Bang, fotoin saya dong.” Saya mengarahkan sorot lensa ke arah barat, jelas backlight. Nico dengan santainya berdiri setengah lutut di atas bantalan kereta. Eumm, bukannya biasanya kereta membuang cairan olahan toilet langsung ke rel ya? 😵

Rencananya foto epik setengah wajah, sepertinya gagal di awal


Backlight, saya dan Nico pun beralih jauh ke barat. Ya, lima ratus meter dari sini, “… ada stasiun. Kayaknya kalo foto dari sana ngarah ke timur jauh lebih bagus deh, latarnya jembatan layang.” Nico mengiyakan, kami ke stasiun.

Stasiun Pathukan dengan lima lajur ini bukanlah stasiun berhenti untuk penumpang. Biasanya emplasemen empat dan lima di stasiun ini dipakai untuk ruang berhenti kereta barang yang akan memasuki wilayah Kota Yogyakarta, kereta ekonomi dulu juga berhenti. Apabila datang dari barat, setelah stasiun Pathukan barulah memasuki stasiun Tugu Yogyakarta dan stasiun Lempuyangan. Nama stasiun Pathukan berasal dari kata Jawa ‘pethukan’ yang berarti bertemu.

Konon dulunya air mancur

Puas berfoto, barulah kami menuju Situs Warungboto. Ada banyak alternatif rute menuju kesana, tapi pilihan kami jatuh pada menyusuri pusat kota, melalui HOS Cokroaminoto hingga Pasar Kembang, membelah keramaian hingga perempatan SGM. Hampir tiga perempat jam perjalanan karena macet luar biasa di depan Stasiun Tugu, kami tiba di situs tua itu.

Situs Warungboto, letaknya persis di samping jalan. Namun untuk memasuki situsnya, kami harus memutar melalui gang sempit permukiman hingga tiba di sisi timur. Tempat parkirnya cukup untuk 4–5 mobil dan 10 sepeda motor. Seorang ibu penjaga warung menyodorkan karcis parkir pada kami, “Tiga ribu (bayar) di depan mas.”

Ada banyak sekat-sekat ruangan di Situs Warungboto

Salah satu sudut di Situs Warungboto


Kesan pertama saya akan Situs Warungboto: cantik. Mirip dengan Tamansari, fungsi Situs Warungboto pun tak jauh berbeda dari situs historis kultural yang jauh lebih populer itu: kolam pemandian keluarga keraton. Kembali pada zaman kolonial dimana Keraton Yogyakarta sedang berjaya, di penjuru tanah kerajaan banyak dibangun pesanggrahan yang tujuannya digunakan sebagai tempat singgah untuk beristirahat raja dan ratu. Sebagai pelengkap, pesanggrahan-pesanggrahan ini pun dilengkapi dengan kolam pemandian yang juga dimanfaatkan warga sekitar. Semenjak masa kemerdekaan, agaknya situs eksotik ini terlupakan selama beberapa dekade lamanya hingga rusak di pelbagai sudut.

Situs Warungboto sebelum dipugar pada 2016 lalu (Sumber: Rasarab - WordPress)

Pada 2016, Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta melakukan pemugaran terhadap cagar budaya ini. Pemugaran pun menghasilkan Situs Warungboto yang benar-benar baru dan instagrammable banget. Sayangnya kolam pemandian tidak diisi air. Meski sudah dipugar — karena letaknya jauh dari kawasan wisata Keraton, situs ini tetap sepi pengunjung.

***

Sudah biasa saya menjadikan travelmate sebagai model dadakan untuk pos blog Pijak


“Nic, coba kamu foto disitu enggak pakai kacamata,” saya coba untuk mengatur posisi Nico supaya bagus saat dipotret.

Cekrek.

Mantap.

Komentar