Operasi Senyap di Madukismo

Apabila belasan pabrik gula peninggalan masa kolonial sudah banyak yang tutup usia, PG Madukismo tetap mencoba hidup ala kadarnya.

Pekerja memasuki gedung pabrik

“Gimana Nic? Dibolehin enggak?” tanya saya sembari mengedarkan pandangan ke penjuru, mencari sudut pandang terbaik sebelum menyentuh tombol rana kamera. Nico kembali, “Katanya cuma boleh di luar sini aja mas.” Saya menghela napas, sedikit menggerutu. Memang wajar sih, tugas seorang satpam adalah menjaga ketertiban dan keamanan di lingkungan perusahaan. Beliau melarang kami melewati gerbang dimana lokomotif kecil hilir-mudik menarik lori tebu itu. Ya, kami sedang ada di Madukismo.

“Biasanya tebu-tebu ini didatangkan dari mana pak?” coba saya mencairkan suasana. Letaknya yang tak jauh dari ring road selatan membuat saya tidak yakin tebu-tebu ini berasal dari kebun sekitar sini. Belum lagi Jogja saat ini sedang mengalami degradasi lahan pertanian: sawah disulap menjadi apartemen dan perkantoran, sudah biasa. Dan benar dugaan saya, “Kebanyakan dari Kulon Progo, tapi dari Sedayu (Bantul) juga ada.”

Lokomotif hilir mudik menarik lori berisi tebu

Gesekan antara roda dengan rel-rel tua begitu nyaring. Loko sedikit goyang oleh rel yang sudah bergelombang. Sesekali satpam memunguti batang tebu yang jatuh supaya tidak membahayakan jalannya loko. Truk ukuran sedang — besar bergantian memasuki kawasan pabrik untuk mengantarkan tebu-tebu yang dipanen dari daerah sekitar.

Oiya, perkenalkan #travelmate saya kali ini, Nicholas Christianto. Saya mengenalnya sewaktu kepanitiaan #23CDUGM lalu karena ada di divisi yang sama, Konsumsi. Sebenarnya jarang-jarang saya jalan-jalan bersama teman yang belum terlalu akrab, apalagi kalau kenal baru 1–2 hari saja. Tapi berhubung kami ada kesamaan hobi: menggemari fotografi luar ruangan, tematik bangunan dan sosial, berponsel Xiaomi; juga punya waktu luang sehabis ujian, gaskeun euy.

Area terlarang di wilayah PG Madukismo setelah lokasi ini populer sebagai latar foto di Instagram

Oke, sepertinya satpam ini akan meniup peluit kalau kami nekat melintasi pagar ke arah dipo lori itu. Saya dan Nico pun bergegas memutar otak. “Kita masuk yuk,” ajak saya padanya. Nico jelas nurut.

Truk-truk besar masih mengantre di depan gerbang masuk Pabrik Gula (PG) Madukismo. Pintunya terbuka dengan kaki sang supir menjuntai ke bawah. Beberapa sopir ada yang menggelas klasa di bawah pohon, ada juga yang merebahkan badan di trotoar. Di depan kami, bangunan besar berwarna kuning terus-menerus mengepulkan asap pekat kehitaman. “Harusnya sekarang jam istirahat udah berakhir,” saya merapikan penampilan — berusaha tampil sedemikian mirip dengan para buruh di dalam. “Kalo misalnya nanti kita ketangkep, bilang aja cari musola.”

Nampaknya satpam di depan gerbang PG Madukismo tak menyadari bahwa kami bukan pekerja di sini. Berhasil, tapi kami harus menahan kegembiraan itu sampai benar-benar jauh dari pandangan satpam.

Seorang satpam sibuk memberi aba-aba pada pengendara untuk berhenti

Cerobong asap PG Madukismo

Bangunan PG Madukismo ini berwarna kuning keemasan. Sebagian besar arsitektur lawas dengan material yang cukup mudah terbakar. Di atapnya terdapat beberapa cerobong yang terus mengepul. Para pekerja berlalu-lalang. Mungkin kembali sehabis makan siang, atau jam kerja shift kedua? Entahlah.

PG Madukismo kembali didirikan pada 1955 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. PG Madukismo sendiri sebelumnya bernama Pabrik Gula Padokan yang mana semasa penjajahan Belanda, pabrik ini dihancurkan dan menyisakan banyak buruh yang kehilangan pekerjaan. Rekonstruksi PG Madukismo dilakukan selain untuk mengembalikan pekerjaan para buruh pada waktu itu, juga supaya para petani dapat mengolah tebu mentah mereka menjadi gula. Para petani dilibatkan dalam proses penanaman, pemeliharaan, hingga panen tebu yang kemudian disetorkan pada pabrik yang menggiling tebu mentah menjadi sari gula. Musim giling di PG Madukismo berlangsung antara bulan Mei — September.

Pada musim giling, PG Madukismo akan melaksanakan ritual cembengan yang dilaksanakan oleh warga sekitar dan karyawan pabrik. Ritual ini bertujuan memohon restu supaya proses penggilingan tebu berjalan dengan lancar. Akan ada kirab tebu temanten dan pelbagai acara kesenian pada saat ritual ini berlangsung. Tak absen, ada juga pasar malam, tari jathilan, dan pentas wayang kulit semalam suntuk.

Salah satu sudut PG Madukismo yang menurut saya cukup estetik untuk foto dengan nuansa abad 20-an


Rupanya PG Madukismo memang sudah dibuka untuk pengunjung wisata agro industri. Sayangnya, untuk setiap kunjungan wisata harus dilakukan dalam kelompok besar dengan 40 orang, itu pun hanya pada saat musim giling. Harga tiket sangat murah, hanya Rp. 7.000/orang saja dengan jam buka: Senin-Kamis pukul 08.00–15.00; Jumat-Sabtu pukul 08.00–12.00.

Komentar