Etape Pertama: di Tengah Wabah

Jarak Kota Jogja ke Wates sekitar 36 kilometer. Apabila melalui rute yang sama, total 72 kilometer jarak ditempuh untuk etape pertama dalam hidup saya ini.

‘Hapeku tak cas dhisik.’

“Oke, aku tak adus nek ngono.”

Pagi-pagi sekali saya sudah bangun. Maklum, jarang-jarang ada hari libur di tengah hari kerja. Rabu ini adalah perayaan Nyepi. Meski saya berkantor di kosan, kinerja saya tetap dipantau kantor dan beruntung ada jeda untuk minggu ketiga dilaksanakannya kerja dari rumah. Karena tidak ada agenda pasti, saya memutuskan untuk bersepeda ke arah barat—tepatnya ke Wates, ibukota Kabupaten Kulon Progo. Tentu untuk penjelajahan kali pertama, saya butuh support system. Mas Arip bersedia ikut karena sama-sama sudah penat parah di rumah.


Tidak seperti Sleman, Bantul, atau Jogja kota yang penuh sampah iklan, jalanan Kulon Progo bersih dan tenang


Pasca subuh, jalanan kota rupanya ramai oleh pesepeda. Ya, tidak hanya saya yang berpikiran memanfaatkan hari libur untuk berolahraga. Meski anjurannya memang di rumah, saya tetap nekat keluar dengan catatan tetap mengikuti protokol kesehatan. Selama bersepeda, saya menggunakan masker—tanpa ada wabah juga sudah biasa begini, gunakan sarung tangan, tabir surya di siang hari, helm, jaket sweater, kaos kaki dan sepatu. Protokol ini saya buat sendiri karena takut juga terpapar, tanpa gejala, dan menularkan virus ke orang tersayang. Oh ya, karena alasan inilah saya bertekad tidak keluar batas propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta supaya persebaran virus hanya terjadi dalam transmisi lokal.

Di pagi hari, keramaian terpusat di pasar-pasar tradisional. Sepanjang rute yang saya lewati, Pasar Kranggan di barat laut Tugu Pal Putih masih ramai. Pedagang pun seperti biasa meluber ke Jln. AM Sangaji.

Jalanan Kota Jogja pagi hari relatif lebih sepi memasuki minggu ketiga anjuran #dirumahaja


Saya belum mengambil uang tunai. Tiba di ATM BNI, saya sedikit terkejut karena kartu ATM yang dipakai 2 hari yang lalu tidak ada di dompet. Mungkin ketinggalan, saya putuskan kembali ke kos dan nihil. Bingung karena uang di dompet tinggal selembaran ungu, saya menuju ke salah satu minimarket. Di sana ada tiga mesin ATM, dan saya transfer dana ke rekening karyawan toko. Karyawan tersebut menarikkan dana di rekeningnya untuk saya. Untung cerdik.

Tak lama berselang, saya tiba di Simpang Bugisan. Untung Mas Arip belum lama menunggu.

Rute ke arah barat melewati perkampungan di Kasihan, Bantul. Meski berada di dalam jalan lingkar, rupanya masih ada lahan sawah. Pagi hari jalanan relatif berkabut karena angin malam bertiup dari Gunung Merapi ke bawah. Pada waktu malam hari juga dimanfaatkan para nelayan untuk melaut. Meski wabah, masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa. Ada yang lari pagi, ada juga yang membersihkan pekarangan.

Sepeda tinggi selalu menarik perhatian setiap orang melihatnya

Jalanan Kota Wates relatif lengang, baik dengan atau tanpa wabah


Memasuki Jalan Nasional 3, rute ke arah barat cenderung sepi. Jalan Wates dengan empat lajur ini sebenarnya berbahaya bagi pesepeda. Cepatnya laju kendaraan bermotor, tidak ada jalur sepeda (dedicated line) yang terproteksi membahayakan pesepeda itu sendiri. Kendaraan-kendaraan besar seperti truk ekspedisi, truk molen, bus antar kota antar propinsi, hingga minibus tak sedikit yang ugal-ugalan. Makanya tak jarang kasus kecelakaan terjadi di jalan ini—yang dilaporkan ke Info Cegatan Jogja.

Bagian yang saya sukai dari Jalan Nasional 3 adalah begitu melewati Kali Progo memasuki Kabupaten Kulon Progo. Debit air Kali Progo mengalir dengan tenang meski menghantam bebatuan yang menghalang. Jalan jauh lebih sepi meskipun siang hari. Maklum kepadatan lalu lintas sudah banyak terpecah di Gamping, Sleman hingga Sedayu, Bantul. Panorama sawah yang baru memasuki musim tanam di kiri-kanan jalan menyegarkan pandangan. Pemandangan jajaran perbukitan Menoreh memanjakan mata. Meski bising mesin kendaraan memecah keheningan dan angin kencang membuat sepeda Mas Arip goyang, sepeda pagi ke Wates tetap menyenangkan.

Jalan Wates dengan panorama sawah dan perbukitan

Berswafoto adalah hal yang jarang saya lakukan karena kurang percaya diri dengan keadaan


Keluar dari Sentolo, jalanan jauh lebih lebar. Di tikungan Tugu Pensil, terlihat para petani sibuk menyemai bibit. Ada pula yang memanen terong di lahan yang luasnya tidak seberapa. Meski mungkin dalam satu-dua dekade kawasan ini akan berubah akibat megaproyek kota bandara di ujung barat daya, setidaknya fantasi ini akan terkenang di benak banyak orang.

Memasuki kawasan ibukota kabupaten, Jalan Wates sedang diperbaiki. Supaya tidak melewati rute yang sama, Mas Arip memilih bersepeda melalui Jln. KRT Kertodiningrat. Jalan ini bagi saya punya kenangan tersendiri sewaktu berusaha menyelesaikan skripsi pada Oktober 2018 lalu. Untuk menghilangkan penat, saya berhenti di pinggir jalan lalu membantu penggembala memberi makan kambingnya, kami menyiangi rumput-rumput yang tinggi menggunakan arit lalu dibawa ke kambing-kambing yang diikat itu. Meski kereta melaju kencang pada tikungan ini, kambing tetap mengunyah rerumputan itu dengan lahap. Duh andai punya alasan buat tinggal di Kulon Progo lagi.

Bagi saya, Alun-alun Wates adalah yang terbaik diantara kota kabupaten di DIY


Tak lama, kami berdua pun tiba di Alun-alun Wates. Wabah rupanya tidak menghentikan aktivitas warga setempat untuk berolahraga di ruang publik terbesar di kota ini. Kebanyakan mahasiswa jurusan keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta cabang Wates yang berlari-lari mengelilingi lapangan ini. Ya, UNY punya cabang di Wates. Pada 2018 lalu juga, saya suka sarapan di warung ijo depan kampus. Seporsi sego pecel dengan dua bakwan goreng dan es teh dihargai Rp. 8.000,- saja. Murah gila!

Di lapangan sudut utara alun-alun terdapat trek papan skating yang dibuat setengah hati. Awalnya Mas Arip ingin menjajal rintangan skating tersebut dengan sepeda tingginya. Sepertinya rapuh.

Tanpa adanya dukungan dari Mas Arip, mungkin penyelesaian etape pertama hanya sekadar wacana


Alun-alun Wates meski kecil, Ia sangat tertata dibanding banyak alun-alun lain di Jawa Tengah. Ia tetap memiliki dua pohon beringin di tengah, panggung pertunjukan di sisi tenggara, lapangan tenis atau bulu tangkis serta kafe di tenggara, jejeran UMKM penjaja makanan di sisi timur, selatan, dan barat jalan. Tak hanya itu, di setiap sudut terdapat kandang buru merpati. Saya sempat membeli tiga potong roti sandwich sewaktu berkunjung ke minimarket tadi subuh, lumayan untuk merelaksasi pikiran di tengah wabah dengan memberi makan burung.

Satu setengah jam kami singgah di Alun-alun Wates. Mentari kian terik, kami putuskan kembali ke Kota Jogja melalui Monumen Ki Ageng Serang ke Jalan Nasional 3. Perjalanan sedikit terasa berat karena rute sebaliknya berarti menanjak. Di tikungan Sentolo, nafas saya pendek karena buff pengganti masker yang saya gunakan. Saya tidak kuat menanjak meski tanjakan ini masih relatif landai. Hampir pingsan, saya putuskan rehat sejenak berhenti di pinggir jalan. Mas Arip dengan sigap turun dari sepeda tingginya lalu menepi, Ia lepaskan masker medisnya.

“Sik, sik. Rakuat aku,” pinta saya meminta rehat beberapa menit, meneguk air mineral, sebelum lanjut dengan pelan.

Untuk rute menanjak, biasanya pesepeda membutuhkan tenaga ekstra untuk menginjak pedal. Buff yang saya gunakan efektif menghambat masuknya oksigen ke paru-paru serta menghambat sirkulasi darah ke seluruh tubuh. Saya pun hampir kehilangan kesadaran. Untung Mas Arip sudah biasa bersepeda jauh dan memaklumi saya sebagai pesepeda awam. Dari kosan saya di Jln. Monjali, butuh waktu dua jam saja untuk tiba di Wates. Rute jalanan yang menurun menambah akselerasi saya. Sebaliknya, saya butuh tiga jam untuk tiba kembali di kota.

Meski sama-sama fixed gear, sepeda tinggi umumnya menggunakan jenis doltrap, namun tanpa rem tangan


Sepeda dilanjutkan, namun dengan ritme lebih santai. Kami sempat berhenti di minimarket untuk melepas dahaga sebelum kembali menggenjot pedal dan berpisah di Simpang Wirobrajan. Sebelum pulang, saya mampir ke Es Buah PK di Jln. Pakuningratan rekomendasi abang saya.

Komentar