Selamat Datang, Pandemi

Fenomena yang saya khawatirkan sebagai dampak tersier krisis iklim benar-benar terjadi, meski Dunia belum tahu persis apa penyebab wabah #Covid-19 merebak.

'Ngepit ayo. Bosen banget jew ning omah terus.😫'

Wah, lagi wae rampung madhang aku mas. Kewaregen je gur ngantuk.

'Wis ngepit wae, ketemuan ning Simpang Mirota.'
Waktu itu 19 Maret 2020, rasanya belum genap seminggu setelah kasus pertama wabah Covid-19 terdeteksi di Jogja. Meski baru beberapa hari saja, wabah sudah mulai berdampak pada keseharian masyarakat. Rasa panik dan parno menggelayut di dalam pikiran. Keluar rumah walau cuma sejengkal dua jengkal pun terasa dicekal. Saya sendiri yang berkantor di rumah tingkat belakang salah satu kampus negeri di Jogja mulai diliburkan, alhasil peralatan kantor ada yang saya bawa ke kosan. Dalam sekejap, banyak aspek kehidupan pribadi saya yang berubah.

***

Mas Arip menjapri saya begitu menelan lahapan terakhir. Ia mengajak untuk keluar bersepeda. Maklum, beberapa hari belakangan Ia merasa kurang enak badan juga bosan seharian lebih ada di rumah. Awalnya saya menolak karena khawatir terpapar. Tapi berhubung yang bersangkutan bela-belain gowes sampai radius 1 kilometer dari kosan saya, saya hargai usaha ajakannya.

Salah satu jalan yang wajib saya lewati sehabis bersepeda sekaligus isi ulang air minum di kampus

Semenjak kasus pertama—seorang balita dari Giwangan, diketahui, Kota Jogja berubah drastis. Tempat usaha membatasi jam operasional mereka, jalanan mulai sepi, di siang hari kendaraan barrakuda kepolisian menyemprot disinfektan dalam skala massif di jalanan, sampai yang paling mencolok adalah… Malioboro sepi. Pemandangan yang sangat jarang sekali terjadi pada jam-jam petang. Biasanya dari Jln. Mangkubumi sampai Alun-alun Utara, jalanan penuh dengan orang lalu-lalang. Ada yang bersenda gurau di depan plang nama Stasiun Tugu Yogyakarta, saling menikmati romansa kota di bawah terpal angkringan kopi arang, mencoba kemampuan tawar-menawar di toko dan kaki lima, atau sekadar duduk-duduk manja sampai tertanggu oleh banyaknya pengamen yang berseliweran. Semua momen itu hilang karena wabah—musuh tak terlihat.

Meski ada aturan social distancing, bagi anak perantau yang bertahan tetap penting untuk bertemu kawan supaya kesehatan mental terjaga sewaktu wabah

Bagi saya yang perantau, wabah bukan tanpa masalah. Sejak awal Maret, kampung dimana kosan saya berada mulai menerapkan jam malam secara ketat. Portal kampung ditutup pukul 24:00 dan akan kembali dibuka pukul 05:00. Setiap pelintas akan ditanyakan keperluannya, dan untuk pemukim wajib membuktikan ia adalah warga setempat. Lalu suhu tubuh akan diukur, serta diwajibkan cuci tangan baik menggunakan sabun dan air maupun penyeteril tangan (hand sanitizer). Tapi yang paling menyebalkan bukanlah protokol kesehatan kampung, melainkan tutupnya usaha-usaha strategis seperti penjaja makanan dan warung. Karena proses keluar yang ribet, serta banyak usaha kuliner tutup, saya pasrah hanya bisa makan di sore hari setelah jam work from home berakhir. Ya, setidaknya saya harus beradaptasi. Namun sebagai sarjana sosiologi, menarik bagi saya untuk tetap di Jogja selama wabah berlangsung untuk melihat bagaimana reaksi masyarakat urban dalam menghadapi wabah.

***

Sepinya Malioboro membuat Mas Arip bingung untuk singgah dimana. Biasanya kami sebagai pesepeda sering berkumpul di depan Museum Kereta. Ya, lokasi ini adalah salah satu basis bagi komunitas Sepeda Tinggi Yogyakarta. Saya bukan anggota komunitas ini karena selain belum memiliki sepeda tinggi (kustom), saya takut terantuk aspal jalan karena tidak kuasa mengendalikan sepeda dengan tipe gear doltrap. Berulang kali Mas Arip membujuk saya menjajal sepedanya. Alih-alih mau justru saya ragu karena banyak cerita sepeda tingginya 'memakan korban'. 😂 Meski begitu, kawan-kawan dari komunitas menyambut hangat karena kami disatukan dalam gerakan Garuk Sampah. Satu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.

“Golek angkringan wae piye?”

Sebagai tuan rumah, tentu Mas Arip hafal angkringan rekomendasinya. Biasanya Angkringan Pak Kriwil di depan Museum Kereta adalah destinasi sembari melepas lelah pasca selebrasi Jogja Last Friday Ride (JLFR) atau Selasa Wage-an dari Malioboro ke Titik Nol Kilometer. Sayang, karena wabah tutup sementara.

Wabah mengubah tata cara masyarakat secara drastis dalam waktu singkat, maka wajar apabila terjadi kekacauan (anomie) sesaat


Dari Alun-alun Utara (Altar), kami berdua bersepeda ke arah Alun-alun Kidul (Alkid). Di sekitar sini, hanya ada satu-dua mobil odong-odong yang masih beroperasi meski tentu sulit menjaring wisatawan di kala wabah terjadi. Kami menuju arah Panggung Krapyak, sama sekali tidak ada angkringan yang terlihat. Okelah, mungkin di Jln. Tamansiswa ada yang membuka tenda mereka. Nihil.

Angkringan di dekat Gembira Loka jadi destinasi terakhir sebelum kami berpisah.

‘Sepertinya Dunia akan sedikit berbeda sehabis ini…’ batin saya.

Komentar