Covid-19, Pukulan Telak Bagi Pariwisata Jogja

Tentu saja. Jogja sudah lama dikenal sebagai tujuan wisata, dan wabah Covid-19 benar-benar memukul sektor ini—sekaligus kehidupan umum masyarakat Jogja.

Sudah bukan barang baru Jogja dikenal sebagai tujuan wisata. Hampir seluruh masyarakat Indonesia ingin bisa berlibur di Jogja setidaknya sekali seumur hidup dengan Candi Borobudur sebagai destinasi utamanya (meski secara de facto candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah). Masyarakat sudah didoktrin sedari dini bahwa tujuan wisata di Indonesia kalau tidak Bali, Malang, Bandung, ya Jogja. Maka tak heran keempat kota ini menjadi opsi yang ditawarkan oleh sekolah-sekolah mulai dari TK hingga SMA untuk tujuan anjangkarya.

Memang banyak sekali destinasi yang ditawarkan oleh Jogja. Mulai dari kawasan urban hingga rural, dari wisata historikal hingga kultural, beragam aneka wisata disajikan untuk wisatawan. Di pinggiran kota pun bermunculan desa-desa wisata dengan keunggulan masing-masing: dari cenderamata, atraksi kesenian, hingga kuliner. Alhasil program kelompok sadar wisata (pokdarwis) dinilai cukup berhasil memajukan desa-desa di DIY. Fenomena banyaknya desa wisata juga menjadikan bukti bahwa sektor pariwisata ikut menggerakkan lini kehidupan yang lain karena adanya aktivitas ekonomi di pedesaan.

Hotel Swiss BelBoutique di Jogja menyalakan lampu kamar bertanda hati

Menurut data Dinas Pariwisata DIY, kunjungan wisatawan ke Yogyakarta baik dari kalangan wisatawan lokal maupun turis mancanegara terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2016, kunjungan wisatawan lokal mencapai 4.194.261 orang dengan 355.313 turis mancanegara. Tiga tahun kemudian pada 2019, jumlah pejalan lokal meningkat menjadi 6.116.354 jiwa dengan 433.027 wisatawan mancanegara. Tren ini terus meningkat terima kasih berkat akun-akun promosi wisata khususnya yang berkecimpung di media sosial Instagram. Media sosial yang difokuskan pada tata visual ini ikut mengerek Jogja sebagai destinasi populer wisata—beserta kekuatan romantisasinya. Akibatnya, investasi di bidang pariwisata tak terelakkan di Jogja, terutama pada industri perhotelan.

‘Data Badan Pusat Statistik, perekonomian DIY tumbuh hingga 6,60 persen dibandingkan tahun 2018 yang tumbuh sebesar 6,20 persen. Salah satu motor pertumbuhan ekonomi itu adalah penyediaan akomodasi dan makanan minuman yang tumbuh 8,89 persen. Pertumbuhan dalam penyediaan akomodasi dan makanan minuman menunjukkan bahwa sektor pariwisata turut andil dalam pertumbuhan ekonomi daerah itu.’

Terlepas dari bagaimana massif dan serampangannya pembangunan hotel di DIY, kita tidak dapat menutupi fakta bahwa ada ribuan orang yang kini ekonominya bergantung pada industri perhotelan ini. Menurut data BPS DIY yang sudah cukup kadaluarsa, pada 2015 ada 485.363 orang yang bekerja di sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel. Data ini belum merinci berapa orang yang khususnya bekerja di industri perhotelan.

Lanskap perkampungan pinggiran Kali Code dengan latar gedung megah perhotelan Jln. Mangkubumi
Hotel-hotel di Jogja meski banyak ditentang karena tidak melihat faktor daya dukung wilayah, namun tetap menyerap banyak tenaga kerja setempat


Sejak minggu kedua Maret lalu, tingkat hunian kamar hotel di DIY hanya mencapai kisaran 60%, dan terus menurun semenjak wabah merebak dan para tamu/wisatawan membatalkan pesanan kamar mereka. Pandemi sebagai bencana biologis yang bisa menyebar melalui manusia sebagai carrier membuat setiap orang ketar-ketir dalam menghadapi wabah besar ini. Apalagi virus corona jenis baru ini lebih mudah menyebar daripada varian sebelumnya. Alhasil, industri perhotelan (dari 70 hotel saja di DIY) terpukul dan merugi hingga total Rp. 60 miliar, angka yang fantastis untuk diserap pemerintah daerah melalui pajak perhotelan guna membangun wilayah mereka. Sebanyak 70% hotel di DIY pun berhenti beroperasi karena tingkat hunian hanya berkisar 1-5% saja.

Untuk sementara, banyak pegiat industri pariwisata (termasuk perhotelan) meliburkan karyawan mereka alias unpaid leave. Mereka tidak memilih merumahkan karyawan karena terbebani kewajiban membayar 70% gaji. Mem-PHK juga bukan pilihan karena harus membayar pesangon (bila taat) serta melatih tenaga kerja baru bila kondisi membaik. Ada juga karyawan yang hari kerjanya dikurangi dari 22 hari kerja menjadi 15 hari saja.

Kondisi pariwisata dan ekonomi Jogja bisa dilihat dari tren okupansi perhotelan

Hotel-hotel di Jogja mengirimkan 'cinta' sebagai bentuk dukungan untuk bertahan di tengah pandemi

Dampak wabah juga tidak hanya dirasakan oleh mereka yang bekerja di sektor pariwisata secara langsung, namun juga merembet ke sektor perdagangan yang lesu akibat perlambatan ekonomi masyarakat menyeluruh. Sebagai ibukota provinsi, sektor perdagangan juga memainkan peranan penting dalam perekonomian warga Jogja. Ketidakpastian wabah pun terpaksa membuat banyak pengusaha meliburkan karyawan mereka. Toko-toko pun tutup hingga waktu yang belum bisa dipastikan. Hingga saat ini, tidak ada bantuan sosial dari pemerintah baik pusat maupun DIY khususnya bagi mereka yang rentan terdampak.

Salah satu hotel terbaru di Jln. Colombo, Depok, Sleman

Karena wabah, perekonomian DIY pun ikut kalut. Industri perhotelan bisa jadi tolak ukur kondisi perekonomian setempat yang sebagian besar bercokol pada sektor pariwisata. Setidaknya butuh waktu dua hingga tiga tahun untuk mengembalikan perekonomian Jogja menuju keadaan semula. Semoga wabah lekas berakhir. Namun dengan kondisi pemerintah pusat dan daerah yang tidak serius menangani fenomena ini, apadaya.

Komentar