Pelapak, atau Orang Jahat?

Beberapa hari yang lalu saya sempat dipalak, dan dua hari kemudian hampir jadi korban begal. Dua pengalaman ini berpengaruh pada kondisi psikis saya ketika bertemu dengan orang asing.

Sabtu pagi yang melelahkan, beberapa pesan berurutan masuk. Pesan itu datang dari Bekti. Saya kira Ia akan membahas mengenai organisasi yang Ia pimpin, atau kendala terkait peran Masmin yang saya ambil. Meski sudah pukul 7 pagi, muka bantal saya masih mendominasi. Ini hari Sabtu sob, hari dimana haram untuk bangun kepagian. Saya lanjutkan tidur sampai kebutuhan minimal 7 jam tidur orang dewasa terpenuhi.

Pukul 10:00 saya baca gambar itu. Pesan kiriman Bekti itu cukup menarik sehingga membuat saya seketika terjaga untuk duduk di sudut kasur beberapa saat. Gambar itu adalah jepretan layar Marketplace Facebook bertuliskan 'Wheelset wheel set london taxi 700c' dihargai Rp. 400.000,- saja. Sebagai orang yang suka riskan pada saat belanja daring, saya suka tidak percaya pada hampir semua pelapak. Mau di Facebook, Shopee, Tokopedia, Lazada, Bukalapak, semua sama saja. Apalagi Facebook yang tidak punya reputasi sebagai tempat jual-beli daring. Namun belakangan saya baru paham kenapa Facebook meluncurkan Marketplace—bukan untuk menantang e-commerce raksasa yang sudah berjaya di tanah air, melainkan sebagai medium iklan laiknya OLX.

Saya sedikit perlu berbasa-basi pada Bekti. Ia jauh lebih paham soal persepedaan ketimbang saya, dan biasa berselancar di Marketplace.

'Enggak nego bonus v brake'
'Masih baru, baru dipake seminggu'
'Alasan dijual frame nya laku 1,5jt'
'Telat nyimak kita wkwk'
'Minat ra?'

Saya menimbang-nimbang lebih dahulu. Biasanya kalau sudah begini, saya akan konsultasi ke Habib yang notabene montir berpengalaman untuk urusan kustom motor dan sepeda di MK Garage—orang yang nanti akan membantu merakitkan sepeda saya. Takutnya sudah deal, barang terbeli, malah antar komponen tidak cocok lagi. Terutama bagian ukuran yang riskan.

"Sik tak takon Habib"

'Kok takon habib?'

"Ndekke sing ngerakit"

Well. Untuk saat ini Bekti menjadi jembatan untuk barang yang sangat potensial akan saya beli. Ya, meski sebenarnya rodanya kurang tipis karena saya suka sepeda ramping dan minimalis, desain pelek berwarna perak cukup menyalak apabila dibawa mengelilingi jalanan Jogja.


Saya kirimkan gambar sepeda teman Magnet ke Bekti.

"Kan pengenku ngene 😅"

'Wes dadi kui?'

"Nggon kancane Magnet"

Araya adalah merek yang digunakan oleh sepeda teman Magnet. Merek ini memang sudah cukup terkenal sebagai pemasok suku cadang pelek ban. Harga wheelset (paket hub, pelek, ruji, dan ban) yang dibeli kawan Magnet seharga Rp. 800.000,- Meski yang ditawarkan Bekti adalah bawaan dari London Taxi Bike yang entah apa mereknya, keduanya punya tipe ukuran yang sama: 700c. Ukuran ini adalah yang umum digunakan sepeda balap atau roadbike.

Saya kirim gambar lagi ke Bekti sebagai pembanding sekaligus meminta saran darinya.


"Pokokmen frame roadbike ono jalur remne, sing mirip ngene"

Tampaknya apa yang ditawarkan dan apa yang sedang saya cari berbeda. Sayang sekali pelapak yang disambungkan Bekti hanya menjual ban tipe 700c saja. Untuk rangka sepeda Ia pakai karena bahannya aluminium yang lebih ringan daripada besi (hi-ten).

Bekti pun mengirimkan foto-foto wheelset dari pelapak. Hasil jepretan yang relatif ciamik membuat saya berspekulasi bahwa pelapak adalah orang yang cukup berada. Awalnya sih saya mengira pelapak sedang BU alias butuh uang, karena di masa pandemi ini banyak juga pesepeda yang rela menjual kendaraan mereka baik dalam bentuk utuh (fullbike) maupun perintilan (sparepart). Rupanya pelapak menjual dengan harga Rp. 400.000,- saja karena ingin barang tersebut segera enyah dari pandangan. Tawaran ini sangat menarik bagi saya yang telah menganggarkan Rp. 500.000,- dari tabungan saya untuk pembelian suku cadang awal sepeda. Berhubung belum spesifik saya akan membeli apa terlebih dahulu, roda bisa jadi pengawal.

Foto roda belakang

Foto roda depan

"Kemungkinan dino iki tak putuske ro Habib, ketoke bakalan deal 400rb."

'Arep tok bayari?' ujar Bekti dengan logat khas Jogja. Meski hanya teks, saya bisa mendengar suaranya.

"Woya dong. Sebagian sudah dianggarkan~"

Iya, saya memang menganggarkan Rp. 1.000.000,- untuk peningkatan gaya hidup setiap bulannya. Sebagian anggaran sudah saya belanjakan kimono dari pembelian daring guna kebutuhan self rebranding. Sisanya? Sepeda sebagai bagian dari gaya hidup yang akan saya promosikan di saluran saya.

Bekti meneruskan isi percakapan dia dengan sang pelapak.

[16/5 10.15] Bekti: Kui sak vbrake e to?
[16/5 10.15] Bekti: Sak set depan belakang ? 🤣
[16/5 10.16] Pelapak: Ameh nempil opone meneh
[16/5 10.16] Pelapak: Iyo aman ndan
[16/5 10.17] Pelapak: Stang ada.

Stang bawaan LTB, salah satu model keinginan saya

[16/5 10.17] Bekti: Stang Piro kui regane
[16/5 10.17] Pelapak: Hayo rareti aku mas😂
[16/5 10.17] Pelapak: Mbok regani dewe ae
[16/5 10.18] Bekti: Asemikk 🤣

Disaat menjapri saya, Bekti juga mengupayakan nego barang-barang lain yang dimiliki si pelapak. Sang pelapak mengirimkan foto stang asli bawaan LTB juga, terserah saya sebagai penadah mau menghargainya berapa.

'100 kelarangan ra?'

WOYA TIDAK DONG. Langsung saya cek saldo tabungan saya dan menghitung tanggal gajian saya berikutnya. Kalau bujet aman, tentu saya ambil. Oh ya, beginilah realita seorang karyawan. Hidup bisa jadi cuma menunggu waktu gajian. 😂

Sepeda kustom dari pemilik ybs


Sepeda yang dibeli pelapak adalah London Taxi Bike 700c warna merah. Sepeda tipe roadbike ini dihargai Rp. 3.800.000,- di kebanyakan portal jual beli daring. Bukan yang saya incar sih karena secara model saya lebih suka CRMO 700c dengan rangka ramping dan roda lebih tipis, sayangnya dompet tidak kesampaian. Nah, rupanya pelapak ini beruntung bisa membeli LTB 700c seharga Rp. 2.500.000,- saja dari salah satu toko luring yang sudah akan menutup gerai mereka. Karena suka dan hanya butuh bingkainya saja, maka Ia jual komponen lain yang tidak dibutuhkan. Bekti pun pengen misuh karena betapa beruntungnya pelapak ini. 😂

Sebagai bonus, pelapak akan memberikan pedal bawaan LTB juga untuk Bekti karena sudah jadi penyalur mencarikan pembeli. Saya pun menerima kontak ybs. dan membuat janji untuk COD (cash on delivery) barang yang sudah dijanjikan malam hari, di Tugu Pal Putih. Roda LTB, v-brake, reflektor, dan stang dihargai Rp. 500.000,- saja.

***

Memasuki petang, saya sedikit gusar. Ini adalah kali pertama saya akan bertemu tatap muka dengan pelapak dari situs yang tidak bereputasi untuk jual beli. Bisa dibilang, ini kali pertama saya melakukan COD untuk barang yang cukup besar nilainya. Tentu khawatir dong. Bahkan sebelumnya saya sudah menjanjikan pada pihak ybs., kalau barangnya cocok, nanti saya transfer uang di tempat atau tarik dana dari ATM terdekat. Iya, supaya tidak dirampok karena membawa dana dalam jumlah besar. Maklum parno karena saya sudah dua kali alami kejadian terkait kriminalitas selama wabah dalam dua hari berturut-turut namun tidak saya laporkan karena sedang malas berurusan dengan kepolisian. Pertama, saya dipalak di Jembatan Baru UGM dini hari setelah hujan deras melanda Jogja. Kerugian materiil hanya uang Rp. 80.000,- raib dari dompet. Lalu yang kedua hampir dibegal di Selokan Mataram dekat Westlake. Beruntung begal tidak berhasil menangkap saya karena terkena kubangan lalu jatuh sewaktu pengejaran.

Saya pun mengonfirmasi lagi identitas pelapak ke Bekti, dua jam sebelum transaksi. Kata Bekti, pelapak juga bakul mi ayam, tepatnya Bakmi Jowo. Warungnya mulai beroperasi pukul 14:00 dan tutup pukul 20:00. Maklum bulan puasa ditambah wabah ikut membatasi jadwal operasi warung sehingga transaksi terpaksa dilakukan jelang tengah malam. Beberapa teman dekat Bekti pun ada yang sudah kenal dengan ybs. karena sama-sama ada di komunitas sepeda. Jadi ada jarak satu pertemanan diantara mereka.

***

Malam pun tiba. Tepatnya pukul 22:30. Pelapak sudah berada di tempat. Saya pun segera mendatangi Tugu Pal Putih. Setibanya di lokasi, beruntung polisi yang ditugaskan berpatroli membubarkan kerumunan juga ada di lokasi. Saya bisa langsung hampiri beliau-beliau selaku aparat keamanan apabila transaksi terkendala.

Pelapak rupanya membawa teman. Dengan motor matiknya, Ia meletakkan kedua ban di pijakan kaki depan dan suku cadang lain dalam kardus dan kantong plastik merah. Pelapak orangnya sangat ramah. Ia bercerita memang kurang suka dengan sepeda rakitan pabrik (termasuk LTB) yang menurutnya terlalu standar dan pasti banyak pesepeda yang punya model sama. Apalagi kawan-kawannya di komunitas pesepeda Godean juga mendesak Ia untuk mengustom sepedanya. 😮

Akan jadi seperti apakah sepeda saya nanti?


Setelah deal dengan kondisi barang, saya segera membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sesuai harga kesepakatan Rp. 500.000,- Sayang jelang tengah malam, aplikasi perbankan suka tidak merespon. Akhirnya saya sambangi ATM terdekat, dibayar kontan!

Maaf ya mas pelapak, terlalu paranoid dengan orang asing dan baru kejadian hampir dirampok jadinya ya begini. 😂

Komentar