Bersepeda di Tengah Wabah, Amankah?

WHO menganjurkan masyarakat Dunia menggunakan sepeda untuk bermobilitas sekaligus berolahraga.



Saya seringkali mendapat protes dari rekan-rekan setiap kali saya membuat pembaruan soal aktivitas sepedaan saya. Ya, medio 2019 hingga saat ini, sepeda menjadi gaya hidup yang saya pilih karena gagal untuk bisa mengakses langganan pusat kebugaran. Alasannya, saya suka bermobilitas sambil mengamati perilaku sosial masyarakat serta butuh olahraga rutin guna menjaga kondisi fisik. Semua itu terpenuhi dengan bersepeda. Selain itu, pusat-pusat kebugaran juga banyak yang tutup akibat wabah saat ini.

Sialnya, apa yang saya lakukan dianggap tidak menghargai mereka yang sudah berbulan-bulan #dirumahsaja. Padahal, saya keluar bersepeda pun dibarengi dengan agenda lain: entah berbagi takjil, giat rutin tiap Rabu malam, atau sekadar cari logistik karena persediaan sudah habis. Memang wabah kali ini tidak mudah dilalui bagi seorang perantauan. Apalagi selama berbulan-bulan salah seorang tetangga kamar mengalami batuk-batuk parah karena sering begadang mengerjakan proyek dosen kampus sebelah. Rasa khawatir berlebih menggelayut dalam pikiran setiap kali mendengar suara batuk sewaktu di kos-kosan. Meski ybs. sudah melakukan tes dan tidak reaktif, sikap penuh curiga justru memancing efek psikosomatis pada diri sendiri. Terkadang tenggorokan terasa gatal dalam hitungan jam sebelum akhirnya pulih dengan sendirinya.

Kita Tidak Bisa 100% Di Rumah Saja

Setidakya bagi orang yang memiliki privilege, mudah saja untuk tetap di rumah. Sayangnya tidak semua orang memiliki 'kesempatan' seperti ini. Terkhusus bagi kelas pekerja yang membutuhkan kontak fisik seperti jasa pengantar logistik, kasir, atau pun pegawai instansi kesehatan, mereka tetap harus berada di lokasi untuk bisa bekerja. Saya sendiri beruntung bekerja di sektor jasa teknologi informasi yang hampir tidak terdampak wabah sama sekali. Alih-alih merumahkan karyawan, justru kantor baru saja merekrut karyawan baru. Rasanya sudah tiga bulan saya melakukan kerja dari kosan (work from home) sejak awal Maret lalu.

Kos-kosan tidak seperti rumah. Di kos, saya harus memenuhi kebutuhan serba sendiri dengan fasilitas terbatas. Dengan absennya dapur, beberapa kali saya terpaksa keluar untuk mencari makan. Apabila tempat makan yang saya sambangi sedang sepi, tentu saya memilih makan di tempat untuk meminimalisir sampah kemasan. Namun bila ramai, saya akan segera kembali ke kos. Saya juga sering menggunakan jasa antar makanan, namun bisa membengkakkan anggaran makan karena terbebani bea jasa antar dan pajak.

Apabila kita menggunakan dua pembagian risiko aktivitas dalam kategori aman dan rentan, maka berdiam diri di rumah, mengisolasi diri di kamar serta mengurangi kontak dengan dunia luar menjadi salah satu cara supaya aman dari paparan Covid-19. Namun kita tidak bisa sepenuhnya berdiam diri di rumah karena membutuhkan pasokan logistik. Terkadang kita perlu keluar untuk sekadar mencari makan (bisa digantikan dengan layanan antar makanan daring), membeli kebutuhan pribadi, atau sekadar berkeliling supaya mengurangi stres setelah lama berada di rumah. Oleh karena inilah aktivitas tidak dapat dibagi ke dalam kategori aman dan rentan secara mentah. Lebih tepatnya, kita perlu menakar risiko setiap aktivitas yang dilakukan dengan menggunakan pertimbangan jarak fisik, durasi aktivitas, dan sirkulasi udara. Meski pengukuran ketiga hal ini cukup sederhana, namun untuk konteks persebaran penyakit cukup berdampak.

Dengan pertimbangan aman dan rentan, maka makan di rumah sudah pasti aman sedang di luar rentan

Berada di luar ruangan bisa jadi lebih aman daripada di rumah. Seperti dalam kasus saya, ketika tetangga kamar mengalami batuk berat sedangkan kami turut menggunakan banyak objek yang sama, mulai dari pintu, katup keran ruang cuci, dan garasi, risiko paparan bisa jauh lebih besar daripada saya beraktivitas di luar.

Seberapa Aman Bersepeda di Tengah Wabah?

Selama wabah berlangsung dan vaksin belum ditemukan, kita tidak bisa benar-benar menghilangkan risiko paparan. Hal yang bisa dilakukan hanyalah meminimalisir potensi risiko terpapar Covid-19, dan pengukuran ini relatif sesuai dengan kondisi yang berlangsung di lingkungan sekitar.

Sepinya kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta sewaktu pandemi saya manfaatnya untuk berswafoto

Risiko terpapar Covid-19 dari pesepeda atau pelari relatif rendah karena aktivitas dilakukan di luar ruangan dengan dukungan sirkulasi udara. Mengapa demikian? Ada perbedaannya besar antara sirkulasi udara di dalam dan luar ruangan. Udara di dalam ruangan relatif bergerak hanya di ruang tersebut. Seperti contoh kamar kosan. Rata-rata para indekos menggunakan satu kipas angin atau satu AC per kamar. Meski kedua alat tersebut menciptakan gerak udara, namun partikel hanya berputar di dalam ruangan itu saja. Berbeda dengan di luar ruangan yang meski tidak sedang berangin, sirkulasi udara dan cuaca bisa membuat lapisan lemak dalam dinding virus buyar. Selain itu, partikel virus yang menyebar melalui bulir-bulir ludah (droplets) memiliki variasi ukuran. Untuk bulir berukuran besar, akan segera jatuh ke lantai/tanah, sedang bulir yang kecil akan terbawa angin/udara. Dan tentu, kita tidak tahu seberapa kuat imun kita menerima paparan partikel virus hingga menyebabkan sakit.

Hal yang bisa dilakukan guna mewaspadai Covid-19 adalah dengan mengukur tingkat risiko paparan dari setiap aktivitas. Aktivitas di luar ruangan dengan sirkulasi udara yang baik bisa mengurangi risiko, namun interaksi sosial bisa meningkatkan risiko tersebut. Oleh karena itu, ketika berinteraksi dengan orang lain sangat disarankan untuk menggunakan masker supaya risiko terpapar kedua belah pihak dapat dikurangi.

Maskermu melindungiku. Maskerku melindungimu.

Pergi ke taman kota seperti Malioboro atau bersepeda di jalan, sebenarnya tidak benar-benar berisiko maupun benar-benar aman. Semua tergantung pada perilaku saat menjalani aktivitas tersebut. Dalam pandemi seperti ini, setiap orang memiliki tanggungjawab untuk menurunkan risiko paparan dengan mematuhi protokol kesehatan yang mencakup penggunaan masker, pengaturan jarak fisik, dan durasi selama berada di area tersebut.

Semua ini perlu dijalankan mengingat Indonesia sudah mulai melonggarkan aturan PSBB. Aktivitas harian kita mungkin akan sedikit berubah, namun hal tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko terpapar, namun kita tentu bisa mengurangi risiko paparan seminimal mungkin.

Komentar