Dari Pabrikan ke Rakitan: Sepeda Idaman, Sepeda Impian

Memiliki sepeda impian rupanya tak semudah yang dibayangkan. Sepeda adalah identitas diri bagi si empunya.

London Taxi Bike CRMO 700c adalah daftar keinginan saya untuk tahun ini, dan akhirnya urung


Sebenarnya saya sedikit kesal karena tabungan yang sudah dikumpulkan sejak Januari 2020 selalu kandas untuk kebutuhan lain. Ya, mulai dari pembayaran kosan, reparasi motor, tabungan untuk kursus bahasa, hingga keperluan mendadak seperti mengirimi orang tua. Meski bekerja di Jogja, biaya hidup bulanan saya sangat rendah dan tidak jauh dengan kebutuhan sewaktu kuliah. Makan dua kali sehari sudah cukup bagi saya yang berbobot 67 kilogram ini. Untuk malam hari, biasanya saya lebih memilih camilan ketimbang makanan berat. Setiap bulan, setidaknya saya bisa menabung dari 2 hingga 2,5 juta rupiah.

Sepeda idaman saya adalah London Taxi Bike CRMO 700c. Ya, sepeda seksi itu terpampang di salah satu sudut mal ternama di DIY. Setiap kali menyambangi pusat perbelanjaan itu, saya tidak pernah absen untuk melihat sepeda balap dengan gaya desain semi kolonial itu. Rangkanya, rodanya, stang kemudinya, indah untuk dipandang. Saya terpana, saya jatuh cinta. Saya ingin segera memilikinya. Bahkan sepeda ini jadi salah satu keinginan terbesar tahun ini.

Sayangnya, cinta kami tidak bertemu.

Jelang akhir April 2020, saya baru menyadari bahwa Jefferys Indonesia selaku importir sepeda LTB sedang mengadakan promo. Sepeda LTB CRMO 700c yang sedang saya incar didiskon dari semula Rp. 7.980.000,- menjadi hanya Rp. 5.200.000,- saja. Penurunannya benar-benar gila! Sayangnya harga yang tertera untuk barang yang dikirim dari Jakarta. Ditambah biaya kurir antar yang bisa mencapai Rp. 400.000,- tergantung volume dan jasa kurir yang dipilih, tampaknya saya jadi berpikir ulang untuk memiliki sepeda ini.

Mal terbesar di Jawa Tengah relatif sepi di bulan Ramadhan 1441 H ini


Tapi saya tak kehabisan akal. Misal gerai di lantai 2 mal itu adalah cabang dari jaringan yang ada di Jakarta, tentu ada harga diskon juga dong. Maka tanggal 1 Mei 2020 saya segera menyambangi gerai di mal tersebut.

Meski sedang dilanda wabah dengan kasus positif aktif mencapai 150 jiwa, rupanya mal di Jogja masih dibuka terbatas. Parkir tidak lagi di basement, melainkan di ground floor dengan kapasitas terbatass. Untuk memasuki mal, pengunjung diharusnya memakai penyanitasi tangan dan dicek suhu badannya. Saya memasuki mal. Kondisi 'normal yang baru' benar-benar terasa begitu melihat orang-orang menggunakan masker serta menghindari untuk menyentuh objek yang rentan dipegang banyak orang seperti hand-trail eskalator. Segera saya sambangi gerai yang dituju, ada dua orang SPB (sales promotion boys) berjaga di sana.

"Ada yang bisa dibantu mas?" sapa seorang SPB dengan ramahnya.

"Saya mau tanya mas. Kemarin saya lihat di portal jual beli daring ada promo untuk sepeda yang CRMO 700c ya? Ini berlaku di toko offline juga nggak?"

"Biasanya kalau ada promo online, berlaku juga buat offline kak. Kebetulan harga sepeda ini sekarang jadi Rp. 5.080.000,- saja. Sebentar ..." sang SPB melihat ke arah layar ponselnya. Mungkin Ia sedang mengecek pesan dari atasan, atau... "... oh malah jadi Rp. 5.000.000,- saja. Tiap minggu kami memang ada promo kak."

Mata saya terbelalak kaget begitu harganya benar-benar jatuh. Wabah memang menurunkan daya beli masyarakat, apalagi sepeda sebagai peralatan hobi/olahraga adalah kebutuhan tersier. Apabila masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhan primer, bagaimana mereka akan berbelanja produk kebutuhan tersier?

Senang mendengar pemaparan SPB, saya segera berlalu, "Kalau saya jadi ambil, mungkin besok ke gerai ini lagi mas, hehe."

***

Sayang sekali, saya tidak mengambil kesempatan itu. Selain karena tabungan belum mencukupi karena selalu tereduksi setiap minggu, saya tidak menemukan orang yang mau dan mampu menalangi saya. Meski pendapatan hampir mencapai 5 juta rupiah, harga segitu tetap berat diongkos. Sahabat saya sampai merasa bersalah tidak dapat membantu memenuhi keinginan saya, namun menurut saya diri ini yang terlalu ego sehingga merepotkan kawan secara batin. Alhasil, dengan berat hati saya urungkan keinginan terbesar itu. Sedih sih, karena begitu tahu diskon, saya sampai susah tidur. Tapi ya tak apalah, kebutuhan tersier perlu dipikirkan ulang. Apalagi pandemi belum jelas akan berakhir sampai kapan.

Sepeda fixie rakitan yang langsung membuat jatuh hati

Rakit Sepeda? Boleh Dicoba.

Kebanyakan rekan saya merakit sepeda mereka. Terutama dari komunitas Sepeda Tinggi Yogyakarta yang mendaur ulang dan meningkatkan nilai (upcycling) besi-besi bekas mulai dari tiang hingga teralis, justru praktik yang mereka lakukan ini lebih ramah lingkungan. Emisi karbon dari pemanfaatan besi bekas jauh lebih kecil. Apabila sepeda yang telah dirakit sering digunakan, maka kadar emisi akan jauh lebih rendah karena memanfaatkan barang yang sudah ada.

Saya berencana mereplika sepeda serupa, namun dengan beberapa komponen berbeda dari ini


Awalnya saya sama sekali tidak tertarik dengan sepeda rakitan. Selain karena umumnya menggunakan komponen bekas, susah untuk bisa menemukan komponen sepeda yang cocok dengan keinginan. Pengennya instan dengan rakitan pabrikan yang tentu sudah melewakti tahap kualifikasi kendali mutu (QC pass). Namun di sisi lain, sepeda LTB incaran saya tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi dan keinginan, kecuali bingkainya yang berbahan chromoly sehingga rangkanya ringan dan kuat untuk dibawa ke medan aspal mulus pegunungan.

Suatu petang, Magnet mengundang kawannya untuk datang ke basis MK Garage. Karena tidak kenal, saya ya cuek aja. Rencananya malam itu teman-teman basis akan bersepeda. Setelah semua kawan berkumpul dan rekan basis MK mempersiapkan sepeda mereka, saya kepincut salah satu sepeda yang dimiliki teman Magnet. Sepeda fixed gear dengan tipe doltrap itu tidak tampak mengilap, berwarna merah marun dengan bingkai minimalis. Persis dengan ada yang di dalam benak saya selama ini, frame balap jadul tipis dengan wheel set hitam seksi. Tanpa waktu lama, saya langsung jatuh hati dengan sepeda ini.

"Rakit sendiri mas? Habis berapa?"

Total Rp. 2.500.000,- Ia habiskan untuk sepeda ini. Kecuali frame, semuanya relatif baru. Saya pun akhirnya tertarik.

"Murah juga ya?"

"Ya lumayan, bisa jadi lebih mahal ketimbang beli sepeda bekas," ujarnya.

Sejak malam itu, saya kembali alami insomnia. Pikiran terus-menerus terpaku pada bodi sepeda yang luar biasa aduhai itu. Tidak sabar untuk bisa memiliki sepeda yang sama, atau setidaknya serupa. Bahkan awalnya saya berencana untuk membeli sepeda milik ybs. "Enggak dijual mas." 😂

Tidak jarang harga sepeda rakitan bisa melebihi harga keluaran pabrikan karena komponen disesuaikan keinginan empunya


Tekad saya yang semula goyah dan runtuh karena gagal meminang LTB pun menguat untuk memiliki sepeda rakitan sendiri. Mmm, sebenarnya desain sendiri, tapi dirakitkan kawan saya di MK Garage sih. 😅 Oke, kalau begitu saya akan memulai merancang sepeda saya, supaya memiliki kepuasan batin. Entah lebih murah atau lebih mahal dari harga pabrikan, sepeda ini akan jadi identitas saya.

Komentar