Kedigdayaan Sang Kapten (bagian 1)

"Perkenalkan, saya kapten kalian," ujarnya lantang.
Tiap tur terdiri dari minimum 8 dan maksimal 15 orang

Hari kedua kami di Karimun Jawa rupanya tidak begitu baik. Bila hari sebelumnya kami bisa menikmati terik matahari meski tidak berjemur, pagi ini kami disambut awan putih nan menggulung.

“Buruan mandi Wo,” perintah Hilda ke Bowo yang sedari tadi sibuk dengan ponsel kecilnya. Sebenarnya mandi maupun enggak kami akan basah-basahan lagi, karena hari ini adalah jadwalnya island hopping.

Di depan kamar, ibu-ibu paruh baya itu menyediakan peralatan snorkeling yang akan kami bawa. Di setiap pelampung, snorkel, hingga kaki katak sudah dilabeli ‘FH’ di belakangnya. “Nanti kalian ke dermaga saja. Sudah ditunggu sama rombongan yang lain.”

Peserta tur island hopping duduk berderet sembari mengenakan pelampung

Berhubung kami cuma berlima, kami dialihkan untuk bergabung dengan rombongan dari homestay lain. Setidaknya masing-masing dari kami hanya perlu merogoh kocek Rp. 150.000,- saja untuk tur keliling pulau ini. Oiya, untuk mengikuti tur island hopping ini, kami memesannya melalui Pak Arief — pemilik Firzah Homestay, seminggu sebelum ke Karimun Jawa, bersamaan dengan memesan kamar dan menyewa sepeda motor untuk jelajah pulau kemarin. Beruntung Pak Arief dengan ramahnya mau membantu segala kebutuhan kami.

***

Sluruuup...

Tidak ada yang lebih nikmat dari menyeruput teh Sariwangi hangat di pagi hari. Kami tinggal menunggu Hilda selesai mandi, lalu segera menuju ke dermaga. Lokasi dermaga tempat kami akan melangsungkan island hopping tidak jauh dari warung Bu Ester yang melegenda itu. Di pagi hari, Karimun Jawa bak kota mati. Tidak ada masyarakat berlalu lalang dan hanya ada angin sedikit kencang berhembus, “Pake mendung segala sih.” Kami menggerutui cuaca hari ini.

Tiba di dermaga, ada banyak kapal bersandar. Sebagian besar nelayan yang enggan melaut karena sudah memperkirakan cuaca akan buruk seharian. Saya berpaling melihat puncak gunung, awan kabut tipis segera menghantam hutan tropis itu dengan lembut. ‘Okelah. Terlanjur pesan tur juga,’ gumam saya.

“Hei kalian yang dari Firzah,” seorang pria berkulit hitam kelam dengan kacamata di atas topinya memanggil kami. Tubuhnya tegap, rambut landak dengan janggut dan sedikit kumis. Yah tipikal anak laut pada umumnya. Namanya? Kapten Arif. Humm, familiar dengan nama bapak penginapan.

Rupanya sudah ada sepasang suami-istri yang menunggu kedatangan kami. Tinggal satu rombongan dari penginapan lain. Usai semua berkumpul, sebelum perahu kecil ini menjelajah, kami diberi pengarahan terlebih dahulu. “Ketika kapal melaju, usahakan tetap berada di posisi dan tidak berpindah supaya kapal tetap seimbang,” okelah. Setidaknya kalau kapal terbalik saya sudah aman dengan jaket pelampung ini.

Hilda, meski tinggal di pesisir Pekalongan, Ia juga belum bisa berenang

Pertama kalinya saya mencoba snorkeling


Berhubung belum dapat berenang, saya cukup bersenang-senang dengan mengapung saja

***

Jrasssh

Kapten Arif menyelam, melepas tali yang mengikat kapal pada dermaga. Diberinya aba-aba pada nahkoda di belakang. Nahkoda lalu menarik tali motor ... brummm. Kapal mulai membelah lautan.

Apabila ditanya kapal naik perahu, “Baru kali ini. Jadi masih rada takut-takut gitu.” Saya memilih duduk di sebelah kiri belakang bersama Hilda. Entah mengapa rasa riskan masih menghantui tiap kali menyadari bahwa pagar kayu ringkih ini sebagai salah satu pegangan kami bilamana kapal terguling, “Tapi gue nggak bisa renang Jun.” Lah, kalau nggak bisa renang kenapa jadi orang yang paling semangat ke Karimun coba? 🐵

Meski mendung, ombak masih relatif tenang. Dari dermaga menuju spot pertama: snorkeling di Menjangan Kecil. Tiba di area spot, wakil kapten segera menyelam bebas dengan jangkar kecil di genggamannya. Dicarinya batu karang yang jauh dari terumbu dan biota. Dapat! Diikatnya kapal supaya tidak hanyut terbawa arus.

Kepalanya menyembul dari dalam air, diacungkannya jempol pada kapten Arif. “Oke, kapal sudah bersandar.” Bersandar ndasmu, lha wong ngambang ngene og.

Sebenarnya saya sedikit parno dengan laut. Bukan, saya memang suka dengan bulir-bulir pasir pantai kemarin, atau senja di ufuk barat Gunung Kidul. Tapi di tengah laut seperti ini, tanpa ada bakat renang yang turun dari papa saya sebagai Ambonese kali ini. Duh, gimana ya. “Ada bulu babinya nggak mas?” colek saya pada kapten Arif. “Ada tapi aman kok,” sedikit medhog. Yamasa jauh-jauh ke Karimun enggak snorkeling sih.

Oke. Dicoba. Saya mengambil peralatan snorkel dari dalam keranjang, FH tentunya. “Wo, kaki katak yang ini gue kesempitan. Coba tukeran dong,” saya pilih kacamata snorkel yang hitam. Ewh. Sebenarnya rada geli begitu memasukkan mouth piece di mulut. Rasanya saya sedang berakting di dalam video dewasa bergenre BDSM dimana ada adegan penyiksaan di dalamnya.

Leh barw branh get guewah kudhuuu bukha muluth,” Hilda keluar dari dalam lambung kapal. “Habis ganti pembalut gue.” Sial banget ya bagi Hilda, datang bulannya pas lagi liburan. “Kalo enggak pengen gue males turun. Gonta-ganti pembalut entar,” iya. Selain itu kamu bisa diterkam hiu yang suka bau darah amis. Kali aja. 😅

Melihat Lintang dan Hero yang ambisius terjun duluan, menarik saya untuk terjun juga. “Wo, mau turun nggak?” Bowo masih asyik dengan Canon 700D-nya. Enggak turun juga nggak masalah. Lumayan ada seksi dokumentasi.

Aslinya, terumbu karang masih sangat cantik. Sayang air rada keruh akibat cuaca buruk

Ikan-ikan berenang bebas diantara para wisatawan



Byurrr

Hal pertama yang saya lakukan adalah injak-injak air. Berikutnya tarik nafas panjang, masukkan kepala ke dalam air …

Keren banget gilaaa ~’ gumam saya kagum pada kondisi terumbu karang yang masih asri tepat tiga meter di bawah saya. Ikan-ikan bergerombol mendekati sang kapten yang membagikan remahan roti. Ia membagikan potongan roti ke setiap peserta tur supaya mencoba bagaimana rasanya ujung-ujung jari dicium ikan.

Ikan-ikan kecil ini bergerak cepat. Tidak ada satu pun yang berhasil saya raih. Di bawah, saya coba menundukkan kepala demi melihat detil terumbu karang seperti apa. Ingat, terumbu karang itu bagaikan pohon di daratan: jangan diinjak. Mereka adalah habitat bagi sebagian besar ikan-ikan kecil di Karimun. Masih asri, masih berwarna. Beruntung pemanasan global belum memutihkan karang-karang ini sehingga masih sempat saya nikmati dan sayangi. Nun jauh di bawah, diantara selipan terumbu dan batu karang, ada bulu babi dengan bulu menyerupai jarum. Kira-kira jari-jari bulunya 30–50 cm. “Hati-hati, jangan sampai tertusuk bulu babi. Nanti bisa demam dan tidak balik ke Jawa loh,” pesan wakil kapten. Saya bergidik.

Peserta tur akan didorong kru kapal ke bawah agar bisa berfoto dengan terumbu karang
“Mbak, mau turun nggak? Kalo nggak berani mari saya bantu ajari renang,” goda Kapten Arif ke Hilda. Saya tahu itu modus mas. Sebentar, penampilan Hilda kali ini membuat saya dan Bowo bergelak tawa. “Mirip anjing laut di Nat Geo Wild Hild 😂,” ejek Bowo.

Sang kapten membantu Hilda untuk membiasakan diri. “Tenang mbak. Nggak bakalan kelelep og.” Wew. Kapten berusaha membantu Hilda untuk terbiasa berenang, sedang wakil kapten mengajak satu per satu dari kami untuk menyelam dua meter di bawah permukaan untuk diambil potretnya di dekat teru mbu karang. Dengan GoPro di tangannya, ia berusaha mengambil sudut terbaik guna mendokumentasikan perjalanan kami, ya walaupun jadi bahan promosi mereka. Sebentar. Dua meter, alhasil harus lepas jaket pelampung dong?

‘Gue harus menghindar, gue harus menghindar,’ sugesti saya mencoba berenang gaya entah apa ini tidak bisa dideskripsikan. Saya berusaha bersembunyi di sisi seberang sembari berpura-pura tidak dengar panggilan wakil kapten.

Selama kurang lebih lima puluh menit saya mengambang tanpa makna, akhirnya kami harus segera menuju tempat kedua. “Mungkin sekitar 45 menit,” prediksi yang nampaknya akurat. Kami segera beranjak, meletakkan kembali alat snorkel ke dalam keranjang, duduk manis di beranda kapal.

***

Perahu kembali membelah lautan. Nahkoda sedari tadi sibuk mengarahkan haluan kapal, bersama dengan kapten yang duduk di belakang. Langit mendung pun semakin muram, kami bertemu angin bertiup kencang. Riak dan ombak pun tercipta karenanya.

Perahu mulai oleng. Nun jauh di sana, kapal-kapal nelayan masih asyik menangkap ikan. Entah menggunakan pukat atau alat pancing, mereka juga terombang-ambing. Hanya ikat jangkar yang membuat mereka tetap pada posisi.

Cuaca kian memburuk. Kali ini gelombang-gelombang cukup besar dalam ritme terjadwal menerjang kapal. Peserta tur mencoba tenang. Hilda mungkin sedang merapal do’a. Di buritan, nahkoda dan kapten sama-sama memegang motor untuk diarahkan tegak lurus terhadap ombak supaya perahu tidak terbalik. “Kita ke Pulau Geleang, sekarang!”

“Ia tak mampu mengubah arah mata angin. Tapi ia mampu mengatur layar untuk mencapai tujuannya.”