Sektor TI: Sempat Bertahan, Kolaps Belakangan

Kamis pagi, saya baru saja terbangun dari lelapnya #satujamlagi. Saya memang sengaja menambah jam tidur ketika tugas pekerjaan relatif senggang supaya pikiran rileks dan tubuh fit selama harus #dirumahaja semasa pandemi. Pagi itu, pesan Slack masuk dari HR kantor saya bekerja. Ia meminta untuk bisa menelepon saya via WhatsApp, satu jam dari sekarang.

Saya memang selalu curiga kalau dapat pesan khusus dari orang kantor, khususnya HR. Apakah kinerja saya buruk sehingga dapat teguran? Mungkin tidak. Target pengerjaan desain selalu saya selesaikan dua - tiga hari sebelum target supaya bisa direvisi. Ataukah karena Rabu kemarin saya ambil BPKB di Magelang? Meski kantor menerapkan kebijakan protokol kesehatan dan larangan bepergian, sepertinya aturan ini relatif longgar karena rekan kantor saya banyak yang bisa pulang kampung semasa pandemi, ketika saya dengan rumah yang berjarak 50 kilometer saja tetap bertahan di perantauan.

***

Panggilan masuk. Isi panggilan tersebut kurang lebih adalah permintaan saya untuk mengurangi jam kerja yang semula 8 jam kerja 8 to 5, menjadi 4 jam saja. Saya bertanya, ketika kewajiban saya dikurangi, hak-hak apa saja yang ikut berkurang karenanya. Tentu, gaji pokok dan tunjangan kerja dari rumah (KDR/WFH) akan dipangkas. Tak lupa, sebelumnya pihak HR meminta maaf dan menjelaskan kondisi keuangan perusahaan ketika semasa pandemi ini. Saya sebenarnya diberi dua opsi. Opsi pertama, saya tetap bisa menerima gaji penuh plus tunjangan, namun bulan Juni ini menjadi masa purnatugas saya. Tentu dengan banyaknya sektor yang kolaps karena wabah, opsi ini saya hindari. Belum lagi saya orang dengan tipe malas adaptasi kalau harus bekerja di luar Jawa Tengah. Lalu opsi kedua, saya tetap bekerja namun beban kerja dikurangi. Otomatis hak saya pun demikian. Namun tentu pihak manajemen telah memikirkan kondisi ini dengan matang, apalagi saya bukan satu-satunya karyawan terdampak keputusan ini serta tidak diterapkan secara sepihak (karena masih diberi opsi).

***

Gambar oleh Unsplash/Mati Flo


Saya tentu memaklumi kondisi goyangnya sektor TI, dan sudah mempersiapkan skenario apabila fenomena ini terjadi. Satu hal yang sekarang jadi pikiran selain kerjaan sampingan apa yang akan saya lakukan semasa adaptasi pandemi adalah... kenapa sektor TI yang diprediksi aman tetap kolaps.

Ada banyak sekali analis ekonomi memprediksi bagaimana sektor-sektor usaha bertahan di tengah pandemi. Dari sekian banyak analisis tersebut, yang cukup menarik adalah yang dipaparkan oleh DCode Economic and Financial Consulting. Lembaga ini merilis prediksi sektor usaha yang kemungkinan menang, bertahan, dan kalah di Mesir. Meski prediksi dilakukan untuk negara di Afrika Utara tersebut, kontennya cukup relevan di Indonesia serta dijadikan rujukan bagi Institute for Essential Services Reform (IESR). Institut ini menggunakan referensi DCode guna menggambarkan dampak wabah pada sektor minyak dan gas.


Di Indonesia sendiri, sektor pariwisata dan perjalanan jelas kolaps. Sektor ini mengutamakan pelayanan yang didasarkan pada pergerakan manusia. Alhasil, wabah benar-benar memukul kedua sektor ini karena adanya kebijakan lockdown, atau PSBB, atau apalah suka-suka pemerintah menamainya, dikategorikan berada di zona merah. Lalu sektor yang ikut terganggu ada konstruksi, otomotif, dan manufaktur. Konstruksi dan manufaktur melibatkan banyak tenaga kerja. Kasus bagaimana klaster pabrik rokok di Surabaya tercipta adalah contoh nyata kasus ini juga memukul industri manufaktur. Sedang sektor otomotif terganggu karena daya beli masyarakat melemah semasa pandemi, apalagi Kamar Dagang dan Industri menyebutkan 15 juta tenaga kerja terkena PHK karena corona. Untuk sektor keuangan dan pendidikan, keduanya tetap bertahan dengan perubahan kebijakan. Layanan perbankan misalnya, menerapkan protokol kesehatan secara ketat, begitu juga sektor pendidikan yang mengandalkan tatap muka jarak jauh melalui pendayagunaan teknologi.

Sektor hijau didominasi oleh sektor yang esensial dan harus bertahan. Minyak dan gas berpeluang menang atau kalah sekaligus. Migas berada di zona kuning karena meskipun esensial, wabah Covid-19 sempat membuat harga minyak dunia anjlok. Menyusul anjloknya harga minyak dunia, harga BBM di berbagai negara turun, terkecuali Indonesia yang didominasi Pertamina sebagai BUMN. Sektor lain yang berada di zona hijau ada agrikultur, ritel daring, teknologi informasi, layanan kesehatan, distribusi pangan, hingga suplai medis.

Sempat Bertahan, Kolaps, Lalu Bangkit Belakangan

Ini adalah gambaran sektor TI belakangan ini, dan fenomena ini benar-benar nyata di mata saya. Apabila disebut 'sektor TI' saja, maka bidang usaha ini memiliki cakupan yang sangat luas karena teknologi informasi hampir mendisrupsi segala sektor. Di sektor jasa akomodasi dan transportasi saja, sudah ada AiryRooms yang kini terpaksa tutup layanan karena tidak mampu bertahan. Kompetitornya, OyoRooms dan RedDoorz membuka diskon besar-besaran untuk akomodasi hostel yang bernaung di bawah mereka meski sebenarnya larangan bermobilitas masih berlaku. Jasa jual-beli tiket seperti Traveloka dan Tiket tetap bertahan dengan kucuran modal yang tersisa. Secara umum, sektor teknologi yang terganggu adalah sektor yang mengutamakan relasi business to customer.

Sektor TI yang memiliki kaitan erat dengan sektor lain yang terganggu bisa ikut terdisrupsi. Gambar oleh Unsplash/Jakob Owens


Beberapa sektor yang lain memang tumbuh seperti jasa layanan cloud dan hosting server karena menjual jasa ke sesama bisnis (business to business). Namun jasa B2B belum tentu aman ketika klien bisnis mereka merupakan perusahaan yang bersangkut-paut dengan sektor lain. Besar-kecilnya goncangan yang dialami usaha yang bersangkutan tergantung bisnis yang digandrungi oleh usaha tersebut. Apabila memiliki kaitan langsung dengan sektor lain yang terganggu, maka disrupsi dapat dirasakan langsung. Begitu pula apabila tidak memiliki hubungan langsung, disrupsi dirasakan belakangan, vice versa

Ketika disrupsi karena pandemi berakhir, sektor TI yang sempat terganggu mungkin akan jadi yang paling akhir untuk bangkit. Apalagi semenjak pemerintah melonggarkan PSBB, roda perekonomian masyarakat kembali berjalan meski butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan guna mengoreksi keadaan. Sektor TI pun akan segera pulih ketika cash flow sudah kembali normal.