Kisah 4 Pesepeda Remaja Asal Yogya ke Jakarta untuk Temui Presiden, Ini Harapan yang Mereka Bawa

Mereka murni ingin memperjuangkan aspirasi dari hati nuraninya sendiri.

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kamis malam tanggal 9 Juli 2020, nampaknya menjadi hari bersejarah bagi Fajar Setyo Nugroho dan ketiga temannya.

Keinginan kuat untuk mendobrak hati nurani para wakil rakyat yang kini duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, mereka buktikan dengan beresepeda dari Yogyakarta menuju Jakarta.

Berharap Presiden RI dan Ketua DPR dapat menemuinya dan mendengar aspirasi yang mereka bawa.

Fajar dan ke empat kawannya itu mendesak agar DPR RI supaya menghentikan dan menghapus Rancangan Undang-undang (RUU) Cipta Kerja atau Omnibus Law secepat mungkin.

Sampai siang ini, mereka sudah sampai di Kabupaten Kebumen dan kini sedang malanjutkan perjalanan menuju Banyumas.

Empat remaja asal Yogyakarta berteduh di tengah perjalanannya ke Jakarta, Jumat (1072020)

Sepanjang perjalan, ada kisah haru yang mereka temui. Mulai dari kebaikan warga yang menolong, hingga kisah menyentuh lainnya.

Ketika sedang beristirahat di kawasan pertokoan sekitaran Gombong, Kabupaten Kebumen, Jumat (10/7/2020) siang, Fajar bersama tiga kawannya, Johan Ferdian Juno, Pepe Hidayat, dan Riko Lesmana didatangi orang tak dikenal.

"Orang itu datang, menanyakan beberapa hal, kami datang dari mana, dan hendak kemana," kata Fajar melalui sambungan Video Call.

Setelah lama berbincang-bincang, pria tersebut kemudian memberinya uang senilai Rp100 ribu.

"Katanya untuk bekal perjalanan. Bapaknya kasih uang Rp100 ribu. Mungkin merasa empati. Kami pun menjelaskan maksud tujuan kami ke Jakarta. Ingin menemui presiden dan menolak RUU Omnibus Law," imbuhnya.

Ia menegaskan, dalam aksinya tersebut tidak ada yang menyuruh atau pun yang membiayai.

Mereka murni ingin memperjuangkan aspirasi dari hati nuraninya sendiri.

Ada enam tuntutan yang ia bawa ke Jakarta dan berharap didengar oleh Presiden Joko Widodo.

Pertama, Mereka mendesak supaya batalkan omnibus law untuk semua klaster, atau bukan hanya klaster ketenaga kerjaan saja.

Kedua, Fajar menuntut penghentian pembahasan Omnibus Law dan mendesak Negara memfokuskan diri menyelesaikan penanganan Covid-19.

Ketiga, mereka ingin PHK massal segera diakhiri. Keempat, mereka menutut Negara agar segera menjalankan reforma agraria sejati untuk petani, buruh tani, peladang tradisional dan rakyat miskin.

Kelima, Fajar dan kawannya menyuarakan anggota Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) untuk bersatu.

Aspirasi terakhir, mereka menyuarakan persatuan gerakan para buruh dan tani untuk menuntut keadilan.

"Ada enam yang ingin kami sampaikan kepada Presiden dan wakil rakyat. Tidak ada yang menyuruh, ini murni kami terpanggil," tuturnya.

Uang Rp100 ribu bagi mereka tak terasa berarti, jika aspirasi mereka tertahan di depan pintu gerbang istana.

"Makanya saya berharap, Presiden Joko Widodo bersedia menemui kami," ungkapnya.

Jsnis sepeda yang mereka gunakan untuk perjalanan pun cukup unik. Mereka menggunakan sepeda BMX yang sudah dimodifikasi dengan frame yang tinggi.

Mereka mentargetkan sampai di Jakarta hari Senin (13/7/2020) mendatang. Untuk bekal makan mereka saat ini, hanya memanfaatkan uang Rp100 ribu pemberian orang.

"Sampai saat ini ya hanya uang pemberian dari orang itu yang kami gunakan untuk makan nanti," tutur Fajar.

Targetnya, besok mereka sudah harus masuk ke Kabupaten Brebes, untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Indramayu-Karawang-Bekasi dan sampai ke Jakarta. (*)

Anda mungkin menyukai postingan ini

  1. Untuk menyisipkan sebuah kode gunakan <i rel="pre">code_here</i>
  2. Untuk menyisipkan sebuah quote gunakan <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.