Tour De Java - Tidak Sebercanda Itu

Saya sudah bersiap-siap. Beberapa kali saya mondar-mandir ke rumah teman di Museum Kereta yang saya titipi ngecas ponsel untuk sekadar mengecek indikator baterai. Semua barang yang diperlukan, baik keperluan pribadi maupun kebutuhan kelompok sudah dipersiapkan di sepeda.

Berbeda dengan tiga etape sepeda jarak menengah sebelumnya, kali ini saya akan mengendarai Kromo—sapaan untuk sepeda baru saya, menuju Jakarta. Sepeda ini sudah rampung dirangkai dan dikebut sejak Senin (6/7) lalu. Beruntung semua komponen sudah saya dapat meski dengan harga yang relatif lebih tinggi. Di masa pandemi ada lonjakan pesepeda. Bersepeda menjadi tren karena dinilai menyehatkan oleh WHO, namun dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Alhasil tingginya permintaan sepeda dan suku cadangnya membuat harga melambung tinggi. Sampai-sampai saya pun kudu impor suku cadang dari Cina. 😐



Ujicoba si Kromo di jalanan Kota Jogja dengan berbagai kondisi medan


Beberapa bagian sepeda saya pinjam dari teman. Ada u-brake yang sulit ditemukan, akhirya Arfian secara sukarela meminjamkan miliknya pada saya. Ada pula keranjang depan dan rak belakang serta tas touring sepeda yang dipinjamkan Bang Febri untuk ekspedisi kali ini. Bahkan teman-teman dari MK Kustom membuatkan dudukan keranjang depan untuk diselipkan pada stem tanpa saya minta. Iyasih, percuma wong saya juga kurang paham soal sepeda. 😂

***

Bersepeda ke Jakarta? Dengan satu syarat...

Awalnya hari Minggu (5/7), saya tidak ada pikiran sama sekali untuk ke Jakarta. Adalah Jarpo, sebagai bagian dari Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia yang menggagas ide bersepeda ke Jakarta. Kalau sudah membawa nama serikat, tentu agenda bersepeda ini bukan hanya keisengan belaka. Agenda sepeda ini muncul sebagai bentuk kebuntuan soal ide aksi protes yang akan diekspresikan sebagai bentuk penolakan RUU Cipta Lapangan Kerja atau Omnibus Law yang terus dibahas oleh legislatif dan didukung eksekutif. Iya, pandemi Covid-19 masih berlangsung sehingga membuat para aktivis, LSM, dan organisasi pergerakan kebingungan. Membuat aksi tentu akan mengundang massa dalam jumlah yang cukup besar sehingga physical distancing sebagai kunci menghambat penularan tak ideal untuk dilakukan. Alhasil, bersepeda Jogja - Jakarta mungkin bisa jadi ide bagus untuk memancing perhatian masyarakat khususnya di wilayah yang dilalui, serta melalui rekan media.

Hari Senin (6/7) petang, muncul pesan dari sahabat sekolah saya, Rein. Di grup kecil beranggotakan tiga orang itu, dia bilang kalau sahabat kami yang sudah satu dekade bersama—Rofi namanya, akan melangsungkan pernikahan pada Minggu (12/7) pagi. Mendadak pikiran saya buyar. Saya ingin-ingin saja bersepeda ke Jakarta karena penting bagi buruh (kelas pekerja) seperti saya untuk menolak RUU Omnibus Law ini. Namun disaat yang bersamaan, ada agenda datang ke pernikahan sahabat. Dia menjadi pionir diantara rekan-rekan seangkatan yang menikah duluan. Ini wajib. Pasti. Walau risikonya adalah terpapar penyakit, saya ambil.

Aktivitas di MK Kustom jelang hari keberangkatan

Dan saya pun setuju untuk berangkat bersepeda ke Jakarta, namun dengan satu syarat...

"Nek iso Minggu esuk utawa Sabtu bengi wis tekan Karawang (Kalau bisa Minggu pagi atau Sabtu malam sudah tiba di Karawang)," ujar saya pada Jarpo. Dengan skema demikian, berarti keberangkatan akan diajukan pada Kamis (9/7) malam. Jarpo menyanggupi, bahkan apabila peserta hanya dua atau tiga orang saja, "Dhewe tetep bakalan budhal (Kita akan tetap berangkat)."

Rencananya memang begitu. Rombongan pesepeda ditargetkan tiba di Karawang, tepatnya di Kosambi dimana sekretariat Serbuk Indonesia berada. Namun jadwalnya jatuh pada hari Senin (13/7) dan otomatis saya tidak akan ikut serta aksi bersepeda kalau jadwal tidak dimajukan sehari sebelumnya. Beruntung Jarpo setuju, segera saya beli tiket shuttle supaya menjadi acuan untuk segera tiba tepat waktu.

Tidak sebercanda itu...

Satu per satu suku cadang terpenuhi. Sepeda yang saya targetkan selesai pertengahan Juli justru akan selesai di minggu pertama. Sebagai bentuk dukungan terhadap aksi bersepeda ke Jakarta, rekan-rekan saya di MK Kustom bahkan rela lembur malam untuk menyelesaikan perangkaian sepeda. Padahal tentu mereka sudah lelah dengan pekerjaan utama di siang hari. Saya lepas tangan begitu saja.

Habib (kiri) dan Riko (tengah) sibuk mengecek ulang kesiapan sepeda saya


Tibalah pada hari Rabu (8/7), saya ambil si Kromo dari Museum Kereta untuk melakukan test ride. Si Kromo saya bawa keliling Kota Jogja sambil mengecek semua fitur yang ada. Pindah gigi RD dari 1 ke 9, FD dari 1 ke 3, mengecek rem depan dan belakang yang masih keras karena kampasnya baru, menjajal sepeda untuk melewati segala jenis medan dari jalanan paving, aspal rusak, bebatuan, tanah, hingga jalanan becek. Enak juga.

Sepeda begitu ringan dan tampak kokoh, tangguh meski sebenarnya frame-nya sudah sangat tua. Tentu, sepeda yang saya bangun di MK Kustom memang sengaja balap jadul karena gagal beli London Taxi Bike seharga laptop gaming spek rendah itu. Masih menggunakan u-brake ketimbang v-brake atau disc brake supaya kesan lawasan masih ada. Oke, segera saya akan muat semua barang yang saya butuhkan.

Tiga sepeda buatan MK Kustom akan menyambangi Jakarta sejauh 525 km


Dua puluh jam sebelum keberangkatan pada Kamis (9/7) sore, saya sudah meminjam alat-alat dari teman. Ada tas pejalan 25 liter, kantong tidur, power bank, senter LED, hingga lampu isyarat LED. Setidaknya tiga stel pakaian santai, satu stel pakaian untuk ke pernikahan sahabat, serta laptop saya bawa. Hah, bawa laptop? Meski sedang dalam masa work from home, saya tetap bertanggung-jawab atas tugas yang diberikan kantor meski jam kerja hanya 4 jam saja. Toh tidak berat membawa tas pejalan dengan isi laptop saja.

***

Berhenti sejenak di LLDIKTI DIY


Jarpo dan Riko sibuk memindahkan barang-barang keperluan kelompok. Kami membagi beban bawaan. Sepeda jangkung dengan cat merah mengilat itu memiliki keranjang kayu di bawahnya. Riko membuatkannya untuk perjalanan kali ini. Meski terbuat dari limbah kayu lapis, keranjang tampak cocok dengan sepeda tinggi Jarpo sehingga memiliki karakter tersendiri.

Berfoto bersama abang saya (kiri nomor dua) dan Habib (tengah)


Jam berangkat sudah lewat, namun Bang Pepe tidak kunjung tiba. Mendadaknya pergantian jadwal memang merepotkannya, salah saya sih. Apabila berangkat pada Jumat (10/7), Pepe sudah mengantongi izin dari bos tempat Ia bekerja. Keberangkatan yang maju sehari pun membuat Ia harus menyelesaikan pekerjaan di hari Kamis ini sebelum ambil cuti esok.

"Sudah ditunggu di Demak Ijo," kami bertiga bergegas mengayuh pedal menuju LLDIKTI DIY. Di sana sudah ada banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi serta Aliansi Rakyat Bergerak yang mendukung aksi kami bersepeda ke Jakarta. Akan ada pelepasan sekaligus peliputan dari media pergerakan. Kawan-kawan dari MK Garage dan komunitas Kanal Muda pun ramai-ramai mengarak perjalanan kami.

Tiba di LLDIKTI, massa berkaos hitam masih menduduki gedung dua lantai itu. Ya, tuntutan mereka jelas, pembatalan UKT di masa pandemi. Konkret, karena pandemi membuat banyak orang kehilangan penghasilan sedangkan kampus-kampus tetap menarik UKT dalam jumlah normal meskipun para mahasiswa/i tidak menggunakan fasilitas kampus. Penarikan UKT penuh tidak rasional.

MK Garage juga menyuplai alat-alat reparasi sepeda selama perjalanan


Selesai isya kami dilepas oleh aliansi. Tak lupa kami memanjatkan doa dalam kepercayaan masing-masing. Lagu Darah Juang yang populer di setiap aksi mahasiswa pun dilantunkan. Puluhan lensa kamera ponsel menyorot kepergian kami. Selamat tinggal Jogjakarta, nanti kita bertemu kembali...