Aloha-aloha Bandung

Kota Bandung di Minggu pagi rupanya juga ramai oleh goweser


"Makasih kang," salam saya pada Bung Andi. Pria yang belum sempat saya kenal ini rela mengantarkan saya ke Galuh Mas, salah satu proyek kota mandiri yang menurut saya kurang ramah pesepeda dan pejalan kaki. Kota ini berjarak tiga belas kilometer dari sekretariat Serbuk Indonesia di Kosambi. Masih pagi, namun namanya juga Karawang, hawanya sama sekali tidak dingin. 'Terlalu pagi rupanya,' saya rehat sejenak di Festive Walk sebelum akhirnya menaiki shuttle dan berpaling menuju Bandung.

***

Lima belas menit sebelum keberangkatan, saya telah bersiap. Saya tunjukkan e-tiket yang saya dapatkan dari aplikasi berlogo burung biru itu. Murah. Untuk perjalanan Karawang - Bandung dihargai Rp. 85.000,- saja. Saya kira karena wabah, penyedia jasa travel akan meminta surat dokter atau hasil rapid test. Beruntung tidak sama sekali, karena saya juga tidak ingin buang-buang rupiah untuk tes yang hasilnya jauh dari kata akurat itu. E-tiket diakui penyedia jasa travel, saya segera masuk. Minibus berangkat.



Saya sedikit terkejut ketika saya adalah satu-satunya penumpang dalam perjalanan ini. Ya, hanya ada saya di deretan kursi paling belakang, lalu sang supir di depan. Padahal sewaktu membeli tiket di aplikasi, tersedia dua bangku terakhir. Dari dua bangku yang direservasi penyedia aplikasi itu, rupanya hanya saya yang berangkat. Lucu, terkesan saya membeli seluruh kursi minibus ini dengan memesan supir pribadi. Setidaknya momen pagi ini sedikit menghibur dan mengistirahatkan emosi - pikiran saya dari kejadian semalam. Abang saya di Jogja pun berpesan supaya saya lebih sumringah dan enjoy di hari Minggu pagi ini. Belum lagi dalam beberapa jam saya akan menuju pernikahan sahabat saya, Rofi. Jangan sampai mood rusak hanya gara-gara memori semalam. 😑

Meski dijadwalkan tiba dalam dua jam, rupanya pukul 7 pagi saya sudah tiba di Pasteur. Maklum, lewat jalan tol. Di Pasteur, jalanan Bandung pagi-pagi terlihat relatif sepi. Bergeser ke timur, saya melihat banyak sekali barudak-barudak yang bersepeda pagi. 'Paling cuma beberapa aja, toh Bandung kotanya naik-turun,' benak saya. Argumen saya langsung terpatahkan begitu shuttle melewati Jembatan Senopati menuju Jln. Tamansari, tepatnya di sekitaran kampus ITB. Para pesepeda tengah menikmati atmosfer pagi yang masih dingin dengan duduk-duduk manja di kursi trotoar.

Tibalah saya di Simpang Dago.

Bagai raja, sang supir memberi salam dan ucapan terima kasih pada saya, satu-satunya penumpang pagi ini. Wah, pelayanannya prima dan paripurna. 😂

Menjadi satu-satunya penumpang layanan shuttle


***

Minggu Pagi di Dago


Jalan Dago atau Ir. H. Juanda sangat ramai. Bukan oleh pengendara kendaraan bermotor, namun oleh pesepeda. Baru kali ini saya ke Bandung di hari Minggu pagi, dan melihat besar sekali animo pesepeda di kota yang bahkan lanskap geografisnya tidak datar ini. Arus pesepeda dominan menanjak ke arah Dago atas. Jenis sepeda yang mereka pakai pun beragam, bukan mountain bike (MTB) seperti yang saya bayangkan. Ada sepeda balap, sepeda kota dengan keranjang, sepeda anak, BMX, hingga fixie. Wow, fixie. Enggak kebayang bagaimana pegalnya kaki mendorong tubuh dan sepeda melawan gaya gravitasi. 🤔

Saya jalan kaki saja di trotoar. Tidak sedikit pula pedagang menggelar lapak jualan mereka. Umumnya produk yang dijual adalah perlengkapan bersepeda, dari helm, kacamatan, sarung tangan, sampai masker khusus. Di salah satu sudut trotoar ada kelompok pengamen dengan biola dan saxophone mereka. Masyarakat tumpah ruah di jalan ini. Mereka yang lelah melepas penat dengan duduk-duduk santai di kursi meja yang telah disediakan Pemkot Bandung. Trotoar yang lebar memang asik untuk nongkrong.

Salah satu landasan aturan bersepeda ditulis di badan Jalan Ir. H. Djuanda


Masyarakat tumpah ruah di Dago

Mobil pelat merah terus-menerus memberikan sosialisasi aman berolahraga di tengah wabah

Petugas Dishub Kota Bandung bersama relawan Eco Transport memisahkan jalur pesepeda dengan kendaraan bermotor

Salah satu relawan dari Eco Transport memberi sosialisasi kepatuhan lalu lintas kepada sesama pesepeda

Sosialisasi rutin digelar setiap hari libur, khususnya akhir pekan


Di beberapa titik jalan, terlihat petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) sibuk memberikan pengumuman supaya masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan. Di Simpang Taman Dago, petugas Dishub bekerja dengan lebih intens lagi. Dibantu relawan dari komunitas pesepeda, Dishub berusaha memisahkan lajur sisi kiri jalan supaya dilewati pesepeda dan kanan untuk kendaraaan bermotor. Relawan dari komunitas pesepeda juga memberikan edukasi pada pesespeda supaya tidak menerobos lampu merah dengan membentangkan spanduk sosialisasi. 😮

Lapar, makan apa ya?

Di sepanjang area CFD, saya jarang menemukan ada penjaja makanan. Tidak seperti CFD di Sunday Morning UGM yang justru penuh sesak pedagang dan kendaraan parkir, CFD Dago cenderung steril. Cuma ada penjaja cilor dan kue pancong. Okelah kue yang juga disebut bandros ini mendarat di pangkuan saya.

Kue pancong, relatif sulit dicari di Jogja

Pengguna kursi roda terbantu dengan infrastruktur ramah difabel, meski Kota Bandung masih jauh dari kata ramah difabel

Sesama pesepeda saling mengingatkan soal kepatuhan dalam berlalu-lintas

Terlihat kurir dengan sepeda kargo yang telah tergabung di Indonesia Bike Messenger Association (IBMA)

Semua kalangan memanfaatkan infrastruktur ramah pesepeda yang tersedia
Jalur sepeda di salah satu sudut Kota Bandung

Rambu peringatan adanya jalur pesepeda menjadi pelengkap untuk lajur khusus sepeda

Saya kembali mengedarkan pandangan, tampaknya destinasi populer di Kota Bandung ini relatif jauh lebih ramah pesepeda, bahkan jauh lebih baik daripada Jogja. Di sisi timur laut terdapat rak untuk bike sharing yang disediakan pemerintah kota setempat, sayangnya terlihat rusak dan kosong. Ada pula jalur sepeda yang mirip dengan Jogja, bedanya relatif lebih steril dari parkir.

***

"Kami ada di Unpad DU," sebuah pesan masuk dari rekan. Untuk menuju ke area pernikahan sahabat, saya butuh tebengan memang. Dago ke Dipati Ukur sangat dekat. Saya putuskan jalan kaki saja.

Alamat yang dibagikan Reza, rekan seangkatan sewaktu SMA menuju ke arah permukiman padat. Saya sih sudah terbiasa keluar masuk wilayah padat penduduk di Jogja dan Semarang, tapi Bandung? Sebanyak 2,3 juta penduduk harus rela berbagi ruang di wilayah seluas 167,7 km persegi saja. Mereka yang memiliki pendapatan tinggi tentu bisa memilih hunian yang nyaman, menyisakan mereka tidak mampu menyewa ruang untuk berbagi hidup di ruang terbatas.

Permukiman padat dan Unpad Dipati Ukur hanya terpisahkan oleh Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Monumen ini menggambarkan kontrasnya pengelolaan tata ruang kota antara Dago dengan wilayah sekelilingnya. Bahkan segregasi ini terlihat jelas dari citra satelit. Maka wajar di tengah perkampungan padat ini sangat sulit untuk bisa menerapkan protokol kesehatan. Lah bagaimana bisa, bahkan masyarakat ini pun tinggal di lingkungan yang sudah lebih dulu tidak sehat, terutama untuk sirkulasi udara, dan limbah rumah tangganya.

Saya tiba di kosan teman saya. Untuk sejenak saya rehat sembari menghimpun rombongan yang akan berpaling ke Bandung Selatan. Sudah ada Rizka dan Zikri yang tiba kemarin siang dari Depok.

"Nanti Reza, Firman, Hadi sama pacarnya, Rein, bakal datang," ujar Rizka. Kami rencana berangkat pukul setengah 12 siang setelah bingkisan selesai dikemas.

Sangat jarang bagi saya bertemu dengan teman lama. Maklum, semenjak perayaan kelulusan dari asrama, kami baru benar-benar menjalani kehidupan yang sebenarnya. Dunia perkuliahan menyajikan pengalaman berbeda dari dunia SMA. Apabila di sekolah menengah masuk bersama bisa keluar bersama, di perkuliahan kami berjuang masing-masing, baik berjuang secara akademik maupun finansial. Karena faktor inilah saya benar-benar sibuk mengejar kelulusan dengan predikat memuaskan, supaya bisa lekas bekerja menyeimbangkan kondisi finansial.

Gang demi gang saling tembus

Meski padat, perkampungan ini telah membangun saluran drainase menuju sungai

Perkampungan padat cenderung pengap ketika sirkulasi udara terganggu

"Oh ya, masih inget nggak dulu elu..." saya mengenyitkan dahi, berusaha mengingat momen lampau yang sudah cukup usang. Siapa yang masih bisa dengan baik mengingat peristiwa lebih dari lima tahun lalu kalau tidak begitu berkesan?

***

Tahapan Baru Kehidupan


Satu per satu kawan kami datang. Mereka memarkirkan motor jauh di gang yang lebih lebar.

"Jon, keluar bentar yuk beli hadiah," hadiah? Wah, saya kira pernikahan ini akan dirayakan dengan tradisi amplopan seperti biasa. "Kita kudu beli hadiah yang berkesan pokoknya," seru Reza meyakinkan.

Hadiah? Berkesan? Mungkin bingkisan yang bisa mengingatkan bahwa kami sama-sama tumbuh dalam didikan sekolah asrama. Segera saya memutar otak, mengingat-ingat benda-benda yang cukup bernilai di asrama. Ada! Setrika!

Kami berdua keluar gang, mencari toko perabotan. Hari Minggu di tengah pandemi dan masih cukup pagi, sedikit sulit untuk menemukan toko buka. Saya sempatkan bertanya pada warung kecil yang menjual perabot plastik, "Ada A', ke gang depan belok kanan. Deretan toko kanan ada yang jual seterika."

"Ada setrika nggak teh?"

'Ada A', mau yang mana?'

Salah satu setrika merek Philips tampak tidak asing dengan setrika yang ada di asrama dulu. Tanpa basa-basi, meski mahal, "Bisa EDC teh?"

***

Bandung siang bolong rupanya tetap terasa panas. Terik matahari kemarau membakar kulit, apalagi cuaca benar-benar cerah. Motor matik ini meliuk-liuk, melewati satu per satu jalan searah di Kota Bandung. Ketimbang Jogja, saya rasa kawasan pemerintahan dan elit Kota Bandung jauh lebih hijau. Pohon-pohon perindang tua meneduhkan jalan. Para pesepeda yang sepagi tadi gowes memang tidak terlihat, namun kota ini tampaknya relatif ramah pesepeda. Kota Bandung memang jadi destinasi wisata populer bagi warga ibukota, sayangnya jalanan kota memang tidak begitu lebar sehingga rawan macet. Apalagi transportasi publik sangat payah di kota ini. 🙄

Akhirnya Sah!

Setrika yang akan memanggil memori di masa sekolah asrama

Kami berpose dengan pengantin baru


Keluar kawasan kota, kesemrawutan baru terlihat. Bandung selatan menyebalkan. Jalanan sempit, dan hanya ada satu jembatan saja untuk menyeberangi Citarum. Jalan ini benar-benar macet, bahkan bukan di jam pulang-pergi kerja. Belum lagi area ini adalah kawasan rawan banjir sehingga bekas ketinggian lumpur terlihat jelas di dinding bangunan, menciptakan debu parah di siang kering berangin. 

Kami tiba di lokasi pernikahan sahabat saya. Tenda sederhana itu menjadi saksi dua insan yang sudah menjadi pasangan yang sah, dan sakral. Saya bangga, meski yang termuda, sahabat saya ini paling mapan mental untuk mempersunting anak orang. Apalah saya yang paling tua kedua, namun belum siap modal. Lagipula, toh siapa yang akan saya nikahi, belum ada. 😂

Tenda boleh sederhana, namun kudapan tamu empat sehat lima sempurna. Kami merayakan pernikahan perdana angkatan sekolah dengan foto-foto bersama, menyeringai dan tertawa akan masa lalu yang mulai memudar dari ingatan.

***

Saya duduk-duduk manja di bangku pedestrian Dago yang cenderung sepi. Tempat ini teduh, enak untuk bersantai apabila rehat sehabis bersepeda. Di depan saya, Rein menyeruput kuah Bakso Cuanki (cari uang jalan kaki) yang menurutnya sedikit mahal. Kami akan berpisah, shuttle dari penyedia jasa yang sama akan berangkat dalam 20 menit. Langit pun sedikit mendung, dan Rein harus segera kembali ke Jatinangor.

"Gue masih enggak nyangka Rofi udah nikah. Rasanya aneh aja gitu," Rein mengangguk setuju. Kami bertiga memang sahabat sejoli dengan karakter kepribadian yang berbeda, namun Rofi tetap yang termuda. "Dia udah naik ke tahapan kehidupan yang baru. Kayaknya besok-besok kalau mau ngajak main kudu izin istrinya dulu," tutup saya dengan tawa perpisahan.

Rein menyantap Bakso Cuanki di trotoar Dago

Minibus ini kembali melaju kencang menuju Karawang, menuruni lereng Cipularang dengan garang. Dalam satu jam, saya sudah tiba di Festive Walk. Kali ini ojek daring menemani saya hingga sekretariat, sembali mengumpulkan tenaga untuk besok kembali bersepeda, menuju ibukota Jakarta.