Tour de Java - Hari Aksi

Persiapan keberangkatan menuju Senayan

Tumben pukul 7 pagi saya sudah terjaga. Mungkin karena di lantai 2 sekretariat sudah lebih dulu ada lalu lalang para anggota serikat. Mereka datang dari berbagai aliansi buruh perusahaan-perusahaan di area DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.



"Hari ini adalah hari besar bagi perjuangan kita," buka salah seorang bapak yang saya duga koordinator aksi. Lantas memberi sambutan, Ia membagikan masker dan penyanitasi tangan pada semua anggota. "Ada beberapa dus nanti kita bagikan di lapangan," sambungnya.

Barisan buruh dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Kasbi)

Saya segera mandi dan mengenakan kaos aksi merah berlengan panjang itu. Kami berempat kembali mendekorasi sepeda, mempersiapkan semua atribut agar menarik perhatian massa dan media. Tentu barang-barang seperti pakaian kami tinggal di sekretariat.

Oh ya, rupanya kami kedapatan pasukan tambahan. Pesepeda lowrider dari Cibitung sudah gowes sejak subuh supaya bisa ikut rombongan aksi menuju Senayan. Mereka tentu datang tanpa atribut. Wow, pagi sekali.

***

Membelah Ibukota dengan Sepeda

Semua bersiap. Rombongan motor berangkat lebih dulu. Seperti sewaktu konvoi di Pantura Kawasan Industri, kami dikawal depan belakang. Maklum, lalu lintas Jakarta jauh sangat semrawut dan membahayakan pesepeda, apalagi, "Kita lewat Cawang." Serius? Simpang susun jalan tol dan LRT itu?

Meski hujan sempat mengguyur kawasan Senayan, gelora penolakan tetap digaungkan


Dari Rawamangun, rombongan melalui Velodrome menuju ke arah Cawang. Di petak ini kami melewati jalanan yang super-duper tidak ramah pesepeda. Maklum, orientasi pembangunan di DKI Jakarta tetap pada penyediaan jalan untuk kendaraan roda 4 atau lebih. Maka wajar apabila terjadi kepadatan maupun kemacetan lalu lintas, jalan tol selalu dijadikan opsi untuk menuntaskan persoalan tersebut. Padahal, jalan tol hanya efektif dalam 3-4 tahun saja. Selebihnya pemerintah pusat melalui BUMN pengelola jalan tol hanya berbisnis kemacetan semata.

Kami bersepeda di sepanjang kolong jembatan layang. Di beberapa titik, ada proyek ekspansi jalan tol rupanya. Mungkin sedang dibuat jalan keluar-masuk tol yang baru. Banyaknya proyek di sepanjang jalan cukup membuat lalu lintas semrawut. Pengendara di jalur kiri bisa mendadak ambil kanan, begitu pula sebaliknya. Akibat proyek pula jalanan jauh lebih berdebu.

Di simpang susun Cawang, kami berbelok ke arah barat menyusuri Jalan Gatot Subroto. Di sepanjang jalan arteri ini, gedung-gedung ikonik berjejeran, menjadikan salah satu kawasan paling strategis di bilangan Jakarta Selatan. Untuk menunjang konektivitas para komuter, LRT Jabodebek dibangun di jalanan ini. Sebagai pesepeda, baru kali ini saya menyambangi Jakarta dengan kayuhan pedal.

Biasanya sih naik bus bareng rombongan dengan agenda menyambangi kantor-kantor pers.

Proyek LRT yang belum rampung membuat saya bingung mengambil jalan. Ada kiri dan kanan dengan tujuan yang sama menuju Semanggi. Akhirnya sama pilih kanan.

Meski masih di wilayah ibukota, jalanan di Jakarta Selatan memang relatif tidak begitu datar, sedikit ada tanjakan dan turunan di beberapa titik. Tanpa disadari, saya tertinggal sangat jauh dari rekan-rekan sepeda tinggi yang tampaknya begitu terburu-buru begitu merasakan rintik hujan.

Saya mencoba mengimbangi kecepatan teman-teman di depan. Jalanan sangat tidak rata begitu saya melewati kolong stasiun LRT. Goncangan keras membuat saya khawatir terjatuh, sayang penyesalan terlambat...

Ponsel Samsung A70 saya terbanting dan terpelanting di atas tanah.

Ia memang biasa disematkan di penahan ponsel (phone holder) yang sengaja dipasang di stang supaya memudahkan saya mengambil dokumentasi.

Ponsel pun jatuh tertelungkup. Dengan terburu-buru saya ambil ponsel tersebut sebelum terlindas kendaraan bermotor. Untung kawan-kawan Cibitung responsif menghentikan lalu lintas. Namun terlambat, layar ponsel sudah retak parah dan tidak lagi menyala.

Dalam hati saya hanya pasrah... ya sudahlah.

Ponsel saya remuk, konsekuensi perjalanan jarak jauh

***

Rombongan baru tiba di Tugu Pancoran rupanya. Bang Pepe sempat mengalami sedikit kendala. RD sepeda jangkung itu kembali mengunci. Untung Ia sigap turun ke aspal sebelum terkuncinya RD membuatnya terbanting dari atas jalan layang. Sepersekian detik, Ia selesaikan kendala berulang ini.

Perjalanan dilanjutkan namun sedikit santai begitu kami telah melihat Simpang Susun Semanggi. Toh meski gerimis mengguyur sedikit lebat, rupanya massa aksi #TolakOmnibusLaw harus sedikit bersabar karena di hari yang sama, ada demonstrasi penolakan #RUUHIP. Kami berempat bersama rombongan dari Cibitung diminta berhenti sejenak di Taman Ria sembari menunggu massa aksi #RUUHIP bergeser ke utara.

Dua aksi besar hari ini benar-benar mengunci lalu-lintas di sekitaran gedung dewan. Kendaraan yang melaju di Jln. Gatot Subroto menuju Cawang/Grogol berusaha memasuki tol dalam kota, kendaraan lain hanya mengikuti pengaturan lalu-lintas dari kepolisian.

"Tidur aja dulu nggak papa," saran saya pada anak-anak Cibitung yang tampak sangat lelah.

Meski tengah masa pandemi, adanya aksi demonstrasi justru memancing para pedagang untuk mendekat. Dari gerobak bakso, mie ayam, hingga ketoprak dan starling, berjajar di pinggiran Jln. Gatot Subroto. Beberapa demonstran ada yang santai duduk makan, ada pula yang asyik berbincang dengan aparat kepolisian.

Riko, Jarpo, dan Bang Pepe menuntun sepeda tinggi mereka

Memasuki area aksi

Riko dan Bang Pepe memasuki area aksi (Dok: KPBI)


***

Demokrasi Mati Suri

Dua jam menanti, akhirnya kami diminta mendekat titik aksi. Massa bergerombol, tetap menggunakan masker meski tentu aturan physical distancing gugur dalam demonstrasi. Di jalan utama, tiga kendaraan bak digunakan orator untuk berorasi. Mereka menggaungkan semangat penolakan #OmnibusLaw hingga menggema diantara gedung-gedung perkantoran. Di sudut lain, orator wanita menggelora, Ia tak hanya menolak #OmnibusLaw, namun juga mendesak DPR untuk segera mengesahkan RUU PKS yang dicoret dari Prolegnas 2020 dengan alasan 'terlalu sulit dibahas'. Padahal saat ini Indonesia juga sudah sangat darurat kasus kekerasan seksual yang terutama mengorbankan wanita.

Jalur utama terhalang demonstran, kami melewati jalur busway. Makin mendekati titik aksi, massa menyambut kami dengan riuh. Yel-yel disuarakan, gaungnya menggetarkan hati, menyegarkan aksi. Mendadak massa aksi mendapat suntikan energi baru begitu tahu ada empat pesepeda yang rela menempuh jarak 525 kilometer, meninggalkan zona nyaman, ruang pertemanan dan setumpuk pekerjaan demi menolak #OmnibusLaw.

Ribuan mata kamera menyorot kami yang bergerak pelan menuju gerbang DPR/MPR untuk menyampaikan sepucuk surat pada Dewan Terhormat. Tepuk tangan mencairkan suasana yang terlanjur kaku akibat aparat yang kolot dan Dewan yang bolot. Kami terus menuntun sepeda kami ke arah gerbang utama.

Serikat buruh dari berbagai bendera kompak menolak Omnibus Law (Dok: KPBI)

Kaum tani dan pegiat lingkungan turut hadir dalam aksi tolak Omnibus Law (Dok: KPBI)

Orator perempuan dengan lantang menyuarakan aspirasinya (Dok: KPBI)

Ragam kata-kata dalam poster penolakan Omnibus Law (Dok: KPBI)

Dengan sengaja baik legislatif maupun eksekutif mengabaikan kedaruratan wabah dengan membuka karpet investasi (Dok: KPBI)

Massa aksi tidak hanya dari masyarakat awam dan para buruh saja, melainkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi


Sialnya kawat berduri menghentikan kami.

Surat yang sudah bertengger di tangan saya sedari tadi tidak tersampaikan, hanya karena proteksi berlebihan para anggota dewan.

Di tengah massa aksi, saya mengedarkan poster-poster buatan saya pada massa. Saya meminta mereka memegang poster-poster yang sudah lecet tertekuk dan basah itu. Isinya tidak lain menyoal omnibus law dan tuntutan kami sebagai pesepeda untuk penyediaan ruang sepeda. Konkret. Wabah sempat membuat tren pesepeda melonjak, gaya hidup sehat yang bisa dilakukan segala kalangan. Sayangnya infrastruktur dasar tidak tersedia sehingga tidak sedikit tewas atau terluka akibat kecelakaan lalu-lintas.

Belum selesai saya memotret poster-poster itu, tiba-tiba terjadi keributan dari sudut gerbang. Aparat mendorong kawat berduri ke arah massa aksi. Saya pun sempat jatuh dan hampir terinjak. Massa yang emosi melempar beberapa botol mineral ke arah aparat. Untung koordinator lapangan segera menenangkan massa. Memang polisi anti huru-hara biasa memancing massa dengan membuat gara-gara supaya punya alasan untuk segera membubarkan aksi.

Kami mengungsi sejenak ke selatan. Diskusi berlangsung alot. UU Cipta Lapangan Kerja yang tentu akan berdampak pada buruh tidak melibatkan perwakilan buruh dalam pembahasannya, hanya anggota Dewan dan para investor saja. Tidak demokratisnya pembahasan UU yang merangkum dan mengubah 72 undang-undang sekaligus inilah yang membuat omnibus law harus konsisten ditolak.

***

Sepucuk surat tidak tersampaikan ke meja anggota dewan

Bersama kawan-kawan Dapur Custom Cikarang

Jalur sepeda di area Gelora Bung Karno menggunakan ruang trotoar

Jalur sepeda timbulan terproteksi (popped-up bike lane) digelar tiap pagi dan sore di kawasan perkantoran Jakarta

Demonstrasi masih berlangsung baik oleh massa penolak #OmnibusLaw maupun #RUUHIP. Keduanya membombardir gedung perwakilan rakyat dengan seruan dan orasi. Sayangnya nurani anggota dewan telah mati sehingga enggan membukakan pintu bahkan untuk perwakilan kami.

Kami selesai meskipun demonstrasi belum usai. Bersama teman-teman dari Cikarang, kami meninggalkan lokasi pergelaran. Sepeda-sepeda usang kami membelah belantara beton Jakarta, menjadi saksi bagaimana kota ini menjadi barometer perekonomian Indonesia.