Tour De Java - Dua Hari, Dua Malam

Kami tiba di Jakarta Senin (13/7) petang, jauh sebelum aksi dilangsungkan pada hari Kamis (16/7). Ya gara-gara saya sih memang karena ingin tetap ada di dua agenda besar ini. 😅 Untungnya tiga rekan saya tidak keberatan. Karena datang lebih awal, otomatis Selasa dan Rabu kami tidak ada kegiatan. Di sekretariat, saya hanya buka tutup laptop, baca harian pagi di aplikasi, atau sekadar latihan berdansa dengan teve. Buat saya yang memiliki banyak perangkat saja dua hari itu membosankan, apalagi buat Jarpo, Riko, dan Bang Pepe.

Kerja dari Jauh

Meski sedang di Jakarta dan ada agenda, saya tetap mengerjakan tugas kantor secara jarak jauh. Kolapsnya sektor TI yang dialami perusahaan tempat saya bekerja sukses memotong jam kerja dari 9 hingga 4 jam saja. Sebenarnya kantor bisa dibilang melanggar kontrak, namun apadaya tampaknya saya salah satu yang paling terdampak. Ketika periode kerja bulan Juli (dari 26 Juni ke 25 Juli) jam kerja dikurangi, saya nego ke HR...


"Kalau begitu saya boleh dong memboyong monitor kantor untuk WFH (work from home) dalam jangka panjang sampai kondisi keuangan benar-benar normal?" tawar saya.


Selama pandemi, dalam satu minggu karyawan diwajibkan masuk kantor dua hari secara bergantian. Apabila minggu ini saya masuk di hari Senin - Selasa, maka minggu depan hari Rabu - Kamis gilirannya, Jumat WFH. Diizinkan sih, tapi tetap saja menyebalkan ketika setengah harimu jadi pengangguran.

Srawung, salah satu kultur masyarakat Jawa, apalagi kalau sedang di perantauan

Karena sudah WFH jangka panjang, berarti diizinkan untuk tidak ke kantor. Waktu saya bebas untuk melakukan apa saja selama mematuhi protokol kesehatan. Dan momen inilah saya pakai untuk kabur ke Jakarta ikut bersepeda #TolakOmnibusLaw. Ups, maaf. Harusnya tidak kemana-mana. Toh saya sendiri telah berikrar untuk karantina mandiri selepas ini. Apakah kalau saya meminta izin kantor untuk ke Jakarta akan diizinkan? Entah, mungkin tidak.

***

Di sekretariat, waktu saya habiskan di lantai dua. Lantai dasar masih ada lalu-lalang karyawan konfederasi sehingga memalukan kalau belum mandi turun-turun ke bawah. Sekalinya ke bawah, saya hanya mengecek si Kromo, 'Makin parah aja karatnya,' batin saya sedikit kesal. Karena karat ini, si Kromo jadi terlihat jelek tidak seperti 5 hari yang lalu.

Oh ya, malam hari ini saya cukup terselamatkan dengan rencana Riko dan Bang Pepe menemui rekannya Edwin, kawan di Jogja. Namanya juga orang Jawa, srawung adalah kultur wajib. Bahkan teman-teman di Jogja banyak yang ingin mengenalkan temannya—bahkan yang belum kami kenal, untuk sekedar bertemu sapa. Ya bisa aja sih, tapi ngapain habis itu? 😅

Andai saja semua transportasi publik di kota-kota besar andal

Bang Pepe bersiap mendemonstrasikan cara naik sepeda tinggi


Maghrib, Riko dan Bang Pepe 'melucuti' bawaan sepeda termasuk atribut aksi. Kami pun tidak mengenakan kaos aksi dan memilih melepas jaket karena Jakarta lembab. "Ketemuan nandi (Ketemuan dimana)?" tanya saya pada Riko. Sebuah angkringan tak jauh dari Velodrome Rawamangun jadi tujuan malam itu.

Tak lama setelah singgah, anak muda berambut gelombang itu datang. 'Mesti ini yang temennya Edwin,' gumam saya. Jelas, siapa lagi yang punya kaos hitam bertuliskan Jogja Last Friday Ride yang didesain oleh Petrus itu kalau bukan di lingkar pertemanan sepeda tinggi. Obrolan malam itu cukup sendu, apalagi ketika perantau mengenang kisah di kampung halaman. Buat saya yang hidup nomaden sih susah untuk mengenang kampung sepertinya. 😅

Saya jadi kangen Jogja—bukan karena kotanya, melainkan orang-orang yang ikut mengisi cerita selama saya di sana: orang-orang Garuk Sampah, MK Kustom, Sepeda Tinggi YK, Greenpeace Youth, rekan kuliah, dan abang saya. Sayangnya, baru juga sampai Jakarta. Belum nanti setelah pulang harus karantina mandiri dulu.

Pukul 10 malam kami tiba di sekretariat. Rupanya empunya rumah sudah tidur. Kami menyusul.

***

Esok paginya, agenda kemarin berulang. Riko dan Bang Pepe adalah pelaku seni. Riko biasa membuat pernak-pernik dari limbah kayu lapis sedang Bang Pepe diandalkan di sablon tempatnya bekerja. Mereka berdua dengan sabar menyulap frame aluminium yang terlindas kemarin untuk kenang-kenangan.

Tidak kemana-mana dan hanya sibuk dengan urusan rumah tangga, rasanya seperti dikarantina


Dipotongnya spanduk bekas itu membentuk lingkaran. Di pinggirannya dilubangi supaya tali rafia bisa dianyam melalui lubang jari-jari. Di bagian atas, logo komunitas kami berasal ditempelkan. Khusus Garuk Sampah digambar manual karena tentu, Garuk Sampah anti #sampahiklan sehingga tidak membuat stiker. 😅

Di lain ruangan, Habib Syekh—nama sapaan, dengan anjingnya Ramon asyik meracik masakan dari bumbu dapur yang tersedia. KPBI sebagai konfederasi juga menghimpun bahan pangan untuk buruh dan pekerja yang terdampak wabah di ibukota. Sebagian kecil stok makanan tentu kami konsumsi, dan unik juga. Dalam seporsi makanan, kami melahap nasi dari petani Kendeng, telur dari peternak Bogor, hingga ikan asin dari petambak Karawang. Lengkap, selera rakyat.

Ikan asin buatan petambak Karawang


Sederhana memang, namun perpaduan nasi hangat dan telur orak-arik kok pas ya sama ikan asin


"Raoleh metu-metu, terutama sing sepeda tinggi (Tidak boleh keluar-keluar, khususnya yang sepeda tinggi)," perintah Jarpo pada kami bertiga begitu tahu kalau semalam kami bertiga keluyuran. Memang tidak salah, karena sepeda tinggi adalah minoritas di Jakarta. Kami harusnya tiba di Jakarta setidaknya sehari sebelum aksi #TolakOmnibusLaw, atau tepatnya hari Rabu (15/7) ini. Yasudah toh kami juga butuh mengisi ulang energi untuk besok hari.

Ramon, anjing lucu yang justru ditakuti Jarpo, Riko, dan (terutama) Bang Pepe


Buah tangan Riko dan Bang Pepe


Makanan disantap lahap, kami segera istirahat. Hari ini saya tidur cukup awal setelah tahu jadwal agenda besok. Akan jadi seperti apakah aksi kami besok? Apakah kami berhasil masuk menghadap Dewan yang Terhormat hanya untuk menyampaikan aspirasi belaka?