Tour De Java - The Last Mile

Jarak Karawang - Jakarta terpaut tidak begitu jauh. Namun marabahaya justru banyak mengintai para pesepeda pada etape ini.

Saya lebih dulu bangun pagi daripada tiga rekan yang lain. 'Tampaknya perjalanan kemarin benar-benar melelahkan,' batin saya. Tentu menyelesaikan etape Brebes - Cirebon - Indramayu hingga Karawang tidak bisa dilakukan sekaligus. Ketika saya sedang menghadapi kernet bus sialan, rekan-rekan saya tetap mengayuh pedal mereka hingga kantuk berat. "Pepe mak tratap ning ndalan, untung rapopo (Pepe sempat kehilangan kesadaran di jalan, jatuh, tapi tidak apa-apa)," cerita Riko. Malam itu pun mereka bertiga singgah di kediaman salah satu anggota serikat buruh hingga pagi.

"Esuk-esuk dikawal tekan Kosambi (Pagi-pagi dikawal sampai di Kosambi)," sambungnya.

***
Konvoi sepeda dikawal Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia


Komando Satu Rasa

Sekretariat Serikat Buruh Kerakyatan (Serbuk) Indonesia kian ramai orang. Satu per satu anggota serikat datang dengan identitas korsa (komando satu rasa) mereka, warnanya merah cerah. Saya pun segera mengemasi barang-barang. Tidak banyak, paling hanya memasukkan kembali bawaan ke Bandung kemarin.

"Iki Jo klambimu, dinggo meneh (Ini Jo bajumu, dipakai lagi)," Jarpo menyodorkan kaos merah berlengan panjang itu pada saya. Harum, rupanya kemarin dicuci. Pantas tas sepeda saya berantakan.

Jarpo diwawancarai oleh media nasional di depan gerbang Kantor Bupati Karawang


Semua orang bersiap. Kali ini kami akan diarak rombongan pesepeda dan motor dari sekretariat di Kosambi menuju Kantor Bupati Karawang hingga perbatasan Bekasi. Di tapal batas daerah, akan ada serikat buruh lain yang lakukan estafet pengawalan hingga perbatasan Kota Jakarta Timur. Sebelum berangkat, lagi-lagi Riko dan Bang Pepe mengecek kesiapan sepeda. Tali saya biasa diikatkan mereka.

***

Rombongan berangkat. Di depan, motor matik kustom dengan sirine itu bertugas membuka jalan. Ada beberapa motor di belakangnya yang bertugas memblokade persimpangan. Meski Kosambi - Jakarta Timur sudah dekat, ada banyak sekali persimpangan jalan dan titik kepadatan lalu lintas yang akan kami lewati. Belum lagi semrawutnya lalu lintas cukup membahayakan bagi rekan saya yang bersepeda tinggi. Risiko ditabrak dari arah gang cukup tinggi.

Kami membelah Karawang kota. Warga berbondong-bondong melihat iring-iringan laiknya menyaksikan aksi karnaval. Ada yang penasaran, ada yang terhibur, ada pula mungkin yang bertanya-tanya kenapa serikat buruh mengawal sepeda-sepeda tinggi ini. Tak lama, kami tiba di Kantor Bupati Karawang.

Setiap kali berhenti, Riko menyempatkan untuk mengecek kesiapan sepeda


Satu hal yang terjadi dalam waktu singkat adalah... satpam menutup gerbang. Kedua gerbang ditutup rapat begitu kawanan buruh tiba. Sekejap, rekan-rekan buruh menyampaikan orasinya melalui pengeras suara, dan tentu... tidak ada satu pun perwakilan dari dalam Kantor Bupati Karawang yang keluar sejenak mencari tahu apa yang disuarakan. Okelah, setidaknya Jarpo sibuk diwawancarai salah satu media nasional.

Perjalanan berlanjut menuju Bekasi. Meski didaulat sebagai kabupaten dengan UMR tertinggi di Indonesia tidak serta-merta membuat Karawang terlihat bagus tata kotanya. Selain berdebu dengan langit kelabu, jalanan Karawang tidak begitu manusiawi bagi saya. Trotoar nihil di banyak tempat, sampah menumpuk di pinggir jalan jadi bukti pemerintah setempat gagal mengelola lingkungan. Segera kami meninggalkan Karawang dan memasuki Kabupaten Bekasi, dua wilayah yang sama-sama tumbuh dari sektor industri. Tampaknya atmosfer terlihat buruk, namun indikator kualitas udara dari KLHK mati.

Bendera KPBI berkibar sepanjang perjalanan dari Karawang menuju Jakarta


Berfoto di plang perbatasan Kabupaten Bekasi dengan Kabupaten Karawang


Di Bekasi, pengawal berganti. Kali ini serikat buruh dari Federasi Gabungan Solidaritan Perjuangan Buruh (GSPB) dengan korsa biru tua mengantar sepanjang perjalanan. Baik Serbuk maupun GSPB memang sama-sama di bawah bendera KPBI. Plang besar bertuliskan Jakarta 48 km membuat kami semangat, 'Ibukota sudah dekat.'

Omong-omong soal Bekasi, saya jadi ingat dulu pernah singgah di kota ini karena krisis 98. Ya, keluarga kami mengungsi dari Jakarta karena ada penjarahan dan kekerasan rasial. Meski ceritanya hanya minor, etnis timur juga mengalami diskriminasi laiknya etnis Tionghoa. Dari rumah di Jakarta Utara, kami sekeluarga mengungsi ke Bekasi. Sayang kami tidak bisa bertahan di Bekasi karena resesi ekonomi yang akhirnya mendepak ibu ke kampung halaman.

Konvoi sepeda menggunakan satu lajur jalan dengan sepeda di sisi kiri dan motor pengawal di sebelah kanannya

Plang rambu jarak bisa jadi penyemangat

Akankah krisis ekonomi serupa terjadi karena pandemi, yang kelak membuat saya tidak singgah di Jogja lagi?

Mungkin saja, apalagi resesi ekonomi sudah di depan mata—dan pemerintah selalu salah langkah dalam mengambil keputusan, baik pusat maupun daerah.

Kaki saya terus mengayuh pedal dengan santai walau telinga tidak tersumbat earphone. Biasanya saya memang menyumpalkan headset setiap sepedaan. Namun untuk menghormati kawan-kawan buruh yang mengawal, saya memilih menyanyi dalam batin dan mendengarkan musik dalam benak sambil mengulum permen berperisa dari Bang Pepe.

Tiba di Tambun, kami diarahkan masuk ke pelataran Gedung Juang 45. Rupanya kami dapat jamuan makan siang berupa seporsi ayam penyet ukuran besar. Nikmatnya ayam penyet membuat saya bernostalgia sewaktu SMA ketika guru akuntansi menghadiahi kelas IPS ayam penyet. Menurut saya ayam penyet yang dipersembahkan guru saya waktu itu yang terenak. Sayang kedainya sudah tutup.

Selain ayam penyet, kawan-kawan GPSB juga membekali kami beberapa botol bir pletok. Tengah menyesap hangatnya racikan bir, saya nyeletuk, "Pakai es enak nih." Dalam sekejap, kami dibawakan es batu. Merepotkan memang, tapi kapan lagi...

Bahu-membahu mendaki jalan layang Cikarang


Usai solat dhuhur dan berfoto ria di depan Gedung Juang dengan identitas pergerakan, kami melanjutkan perjalanan. Meski sebenarnya cuaca siang hari ini cerah, pekatnya kabut polusi di stratosfer membiaskan cahaya matahari. Sorot mentari tidak terlihat langsung, langit berwarna putih kabur. Tampaknya meski perjalanan relatif masih jauh, saya akan terus mengenakan masker sampai nanti pulang. Meski paru-paru saya masih sehat dan tidak sensitif terhadap polusi, tapi pekatnya pencemaran udara di Jakarta Raya bisa memotong umur beberapa hari dalam jangka panjang.

Bir pletok favorit saya, baru nemu yang seenak ini

Berfoto bersama kawan buruh dari GSPB


Tanpa saya sadari, ada beberapa orang mengikuti kami. Mereka tidak bersepeda tinggi, namun ikut bersimpati begitu tahu ada yang bersepeda tinggi dari Jogja ke Jakarta hanya untuk menyampaikan aspirasi. Mereka adalah pesepeda lowride dari Cibitung. Salam kenal, semoga kita rekanan.

***

Tragedi Bekasi

Kota Bekasi menyapa. Jelang sore hari, lalu lintas semakin padat oleh pekerja yang pulang kantor atau berangkat mengisi kerja shift malam. Meski dengan pengawalan ketat, lalu lintas terlampau padat. Suka tidak suka iring-iringan diperlambat. Saya tetap bisa duduk di jok ketika Pepe, Jarpo, dan Riko menuntun sepeda tinggi mereka.

Di tengah kerumunan kendaraan, kami menyelip supaya bisa di depan. Saya dan Jarpo mengambil celah di kiri ketika Bang Pepe dan Riko ambil tengah. Di jalan utama ini kendaraan besar juga ikut berhenti. Tampaknya cukup susah bagi sepeda tinggi untuk bisa mengambil ancang-ancang untuk mendaki sepeda lalu duduk mengendara seperti biasa.

Lampu menyala hijau, segera saya mengayuh pedal perlahan. Jarpo menginjak trotoar untuk memudahkan Ia menaiki sepeda ungu kepunyaan Bang Pepe. Sedang Bang Pepe mendorong cepat sepeda berkeranjang itu supaya dapat dipanjat.

Meski ada pesepeda, kendaraan bermotor lain tetap bersahutan membunyikan klakson. Bising parah.

Di sisi kanan Bang Pepe ada truk material.

Truk ini segera menancap gas begitu Bang Pepe memanjat sepeda tinggi.

Kencangnya gesekan angin membuat Bang Pepe kehilangan keseimbangan.

Ia jatuh ke kiri ketika sepeda terdorong ke kanan.

"ANJEEEEEEER," jerit Jarpo mengagetkan saya.

Rupanya Bang Pepe jatuh. Dengan singkat ban depan sepeda masuk ke kolong truk.

DLES, KREK, BESSS...

Dua ban besar di kiri belakang truk sukses menggilas ban sepeda ukuran 26 itu.

Dengan sigap Bang Pepe menarik sepeda ke pinggir jalan, naik trotoar di pelataran parkiran ruko.

Dan sayangnya sang supir truk pun lari.

Kami menenangkan diri.

Kejadian yang tak disangka-sangka akan terjadi, begitu cepat, dan mendadak


***

Kejadian super mengerikan tadi berlangsung hanya dalam beberapa detik saja, dan bisa jadi bukti otentik kalau jalanan di Indonesia tidak ramah pesepeda. Beruntung reflek Bang Pepe berhasil menyelamatkan dirinya dan sang sepeda dari hantaman kendaraan dari belakang. Di kota besar super macet seperti Jabodetabek memang berdampak psikis pada pengendara untuk segera ngebut ketika hijau menyala. Belum lagi kalau diklakson dari belakang.

Segera Bang Pepe dan Riko mengambil alat-alat reparasi di bagasi saya. Mereka melepas baut dari porok. "Kudu ganti iki (Harus ganti ini)," sahut Riko menjawab pertanyaan Jarpo untuk ganti ban. Sayang sekali wheelset Exotic mahal dari sepeda Jarpo yang belum sebulan ini harus diganti.

Melepas jari-jari sepeda dari pelek


Riko dan Bang Pepe selalu taktis, cepat mengambil keputusan yang tepat


Segera Jarpo berlalu dengan kawan buruh mencari toko sepeda terdekat. Banyak, namun kondisinya sama seperti toko sepeda di Jogja: banyak suku cadang habis akibat pandemi peningkatan tren pesepeda di musim wabah. Hampir menyerah, Ia coba bertanya-tanya pada warga. Dalam satu setengah jam, wheelset pengganti ditemukan. Tanpa pikir panjang apalagi nego, langsung Ia beli kontan karena perjalanan harus diteruskan.

Riko dan Bang Pepe selesai melepas tromol dan ruji dari pelek pesepeda. Mereka ikat pelek penyok itu, "Sopo ngerti iso nggo kenangan (Siapa tahu bisa untuk kenang-kenangan)." Jarpo datang dengan wheelset minus ban.

Bersama teman-teman Dapur Kustom di Bekasi


Memasuki kawasan megapolitan ditandai dengan banyaknya gedung pencakar langit

Ban dipasang, dipompa tangan, segera kami lanjutkan perjalanan. Sayang rekan-rekan lowrider hanya bisa mengantar sampai Bekasi kota. Okelah kawan, sebelum pulang kami akan bersambang.

***

Memasuki kawasan metropolitan, semangat kami menggebu-gebu. Banyak pencakar langit terlihat mulai dari Bekasi, Kranji, hingga Klender. Sorot mentari kian condong, menghilang di ujung horizon berganti malam gelap. Kami tiba di Rawamangun, tepatnya di sekretariat KPBI (Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia) yang mendukung aksi kami ke Jakarta. Dalam beberapa hari, tempat ini menjadi markas sementara.

Semangat Jarpo kian berapi-api begitu memasuki Kota Jakarta Timur

Tiba di sekretariat KPBI


'Selamat Datang di Jakarta,' batin saya dengan bangga karena menyelesaikan etape berangkat meski tidak genap 525 kilometer. 'Di kota ini, orang baik bisa jadi beringas,' sambung saya.

Komentar