Tour De Java - Menilik Istana Para Pesepeda

Saya berpose di depan gerbang utama stadion sepeda


Rencananya hari Kamis (17/7) ini saya habiskan dengan hibernasi jangka panjang. Aksi kemarin memang benar-benar menguras tenaga dan emosi. Selain karena sepeda yang berkejaran dengan cuaca, yang menyebalkan begitu tiba, aspirasi kami pun tidak sampai di meja para dewan. Ya, surat kucel itu masih di dalam tas saya.

Drung, drung, drung, drung...

Mesin cuci bergoncang keras begitu indikator menunjukkan mode pengeringan. Cuaca Jakarta harusnya cerah. Biasa, polusi pekat membiaskan cahaya sehingga langit hanya berwarna kelabu merata. Oh ya, selepas insiden jatuhnya ponsel dari holder kemarin, Jarpo meminjamkan ponsel Samsung J2-nya.


"Iki hapene dinggo wae sik," beruntung Ia membawa ponsel cadangan. Segera saya pasang aplikasi kantor yang dibutuhkan: ada Slack dan Trello.

Sejak awal tahun 2020, untuk presensi kantor saya menggunakan Talenta. Aplikasi yang melacak posisi dimana penggunanya clockin ini sebenarnya cukup meresahkan saya. Meski tujuannya untuk transparansi, saya khawatir aplikasi ini terus-menerus melacak lokasi keberadaan saya selama masih terpasang di ponsel. Privasi terbongkar.

Karena Talenta cukup besar untuk ponsel keluaran 2015, saya urung memasangnya. Di sekretariat KPBI, saya tetap mengerjakan tugas kantor seperti biasa hingga 4 jam terlalui. Gara-gara wabah dan etos kerja yang tinggi, kantor memangkas jam kerja saya dari semula 9 jam, mungkin untuk efisiensi keuangan walau beban kerja tetap sama. Hadeh.

***

Jakarta Belum Ramah Pesepeda

Tengah hari, saya segera merapikan meja kerja dan bergegas mandi. Agenda siang ini adalah menjajal jalanan dari Rawamangun ke Kelapa Gading sembari menuju gerai Mall of Indonesia menanyakan validitas garansi ponsel saya. Hape ini meski tergolong flagship nanggung, namun sudah banyak membantu saya untuk tetap produktif. Tidak terhitung lagi jumlah konten yang tercipta sejak saya memegangnya pada 9 September 2019 lalu. Belum setahun, semoga produsen menerima garansi ponsel ini. Tentu, syarat dan ketentuan berlaku. Jarpo memilih tidur ketika Bang Pepe dan Riko sedang asik dangdutan di ruang tengah.

Siang bolong, saya hanya mengenakan kimono jins yang juga saya pakai kondangan. Berbekal helm, sedikit air dingin, perjalanan dimulai.

Dari sekretariat, saya menuju Terminal Rawamangun. Adanya pandemi membuat lalu lintas di sekitar terminal tampak lengang. Menuju Perempatan Velodrome, lalu lintas relatif lancar. Saya mengayuh pedal ke arah Jln. Kayu Putih Raya. Meski terdapat Velodrome, jalur pesepeda absen di jalan ini.

Sepanjang jalan, saya kagum dengan jalur LRT Jakarta. Dalam jarak kurang dari satu kilometer, sudah ada beberapa stasiun yang dibangun berdekatan. Sayangnya kereta ringan ini terlihat kurang diandalkan masyarakat sekitar untuk berkomuter. Maklum sih, rutenya terlalu pendek dan ada di wilayah yang kurang potensial karena tidak ada kemacetan. Seharusnya yang diutamakan adalah BRT dahulu sebelum LRT.

LRT Jakarta (Foto oleh Flickr/M Bagas R Wijaya)


Untuk saat ini, LRT mungkin belum begitu ramai pengguna, namun lihat beberapa tahun ke depan begitu kawasan ini benar-benar dikembangkan.

Sepeda 700c ini terus melaju santai di atas beton yang tidak rata. Memasuki Boulevard Kelapa Gading, selain jalur khusus yang absen, lebih dari separuh badan jalan habis untuk parkir kendaraan roda empat. Kelapa Gading memang dikenal sebagai kawasan bisnis dan perniagaan, sekaligus zona kuliner yang cukup memikat kalangan menengah atas. Maka wajar kalau disediakannya jalan yang lebar justru beralih fungsi sebagai area parkir, bahkan area parkir (liar) jauh lebih lebar. Kelapa Gading makin terlihat gersang karena minim pohon peneduh.

Di Bundaran Kelapa Gading, saya mengambil keluaran pertama menuju Jln. Boulevard Barat Raya. Lagi-lagi ada proyek jalan layang di sini. Tinggi sekali, jalan tol? Entah, mungkin jalan layang ini mencoba menghubungkan Pulogadung dengan Sunter. Sebagai pesepeda, rasanya riskan gowes di bawah proyek ini.

Usai melewati jalanan bergelombang dan berdebu akibat proyek, saya tiba di Mall of Indonesia (MOI) Kelapa Gading. Untuk bisa memasuki mal ini, tidak ada pintu/portal khusus pesepeda. Terpaksa saya mengangkat sepeda melewati trotoar dan kembali ke jalur mobil.

Di pelataran, hanya ada ruang parkir bagi mobil dan sedikit ruang untuk parkir difabel.

"Mas, parkir sepeda dimana ya?" tanya saya pada petugas berseragam biru muda itu.

"Parkir sepeda enggak ada mas. Tapi bisa parkir di basement," petugas parkir mengarahkan saya untuk mengitari MOI terlebih dahulu sebelum akhirnya turun ke basement.

Mall of Indonesia Kelapa Gading (Foto oleh Flickr/Harry Purwanto)


Komplek ini benar-benar carsentric. Mungkin tak hanya MOI atau Kelapa Gading, melainkan seluruh wilayah di DKI Jakarta dan kota-kota lainnya dibangun supaya orang memiliki mobil. Memang masyarakat Indonesia dengan budaya gengsi menganggap bahwa memiliki mobil berarti sudah mapan. Selain tidak ramah lingkungan karena produksi emisi karbon, kultur seperti ini ikut mengacaukan tata kota. Jalanan terus dibangun dengan dalih mengentaskan kemacetan. Faktanya, seribu jalan baru dibangun tetap akan macet karena memantik induced demand. Jalan baru, kendaraan baru, masalahnya berlangsung sirkuler dan selalu begitu.

Saya tiba di basement yang dimaksud: gelap dan licin. Di sini kosong, area parkir yang potensial muat banyak sekali kendaraan. Dan tidak ada rak parkir pesepeda, seperti dugaan saya. Terpaksa si Kromo saya gembok ke pipa hidran.

***

Sepeda tinggi akhirnya bisa menapak di Jakarta International Velodrome, ibukota sepeda


Velodrome, Sang Istana Pesepeda


Kaki saya menapak trotoar. Sepersekian detik, makaroni favorit itu saya lahap. Untung dia punya cabang di Rawamangun dan harganya sama dengan di Jogja.

'Zah saya udah di trotoar bawah stasiun LRT,' kirim saya melalui pesan singkat. Sembari menanti balasan, saya mengedarkan pandangan. Rupanya tiap pagi dan sore hari Velodrome dibuka untuk publik yang ingin berolahraga atau sejenak melepas penat dengan adaptasi kebiasaan baru di tengah pandemi.

'Oh ya, tahu Velodrome buka gini, mending ajak Riko sama Bang Pepe sekalian,' segera saya panggil Riko—walau tentu dia cuma aktif kalau ada wifi, dan Bang Pepe suka lambat dalam merespon pesan.

Belum lima menit, Bang Pepe dan Riko muncul bersama anak-anak. Oh mungkin anak-anak kampung sebelah mengarahkan mereka ke Velodrome.

Tak lama guru favorit saya di masa SMA itu muncul. Beliau tetap tampil nyentrik dengan setelan pakaian berwarna senada. "Halo zah, apa kabar?" saya melipat kemasan makaroni, menyimpannya untuk nanti.

Si Kromo makin berkarat parah setelah berhari-hari ada di ibukota


Semenjak PSBB dilonggarkan, taman-taman di Jakarta mulai kembali dibuka. Begitu pula dengan Velodrome. Kami diwajibkan untuk selalu mengenakan masker selama di area publik ini, dicek suhu tubuh dengan thermometer tembak, diwajibkan cuci tangan, serta dianjurkan berolahraga ringan supaya masker tetap terpasang. Kawula muda-mudi, orang tua, anak-anak dari berbagai kelas sosial menikmati sore yang tumben cerah. Sorot senja keemasan membelah cakrawala. Kami berdua duduk-duduk di undak-undakan.

Melihat antusiasme masyarakat untuk berekreasi di Velodrome benar-benar menyenangkan. Muda-mudi berkumpul mengekspresikan keahlian mereka. Bakat-bakat kinestetik tersalurkan. Saya jadi teringat Jogja. Di kota yang sering diromantisasi ini, baru saja timbul polemik baru tentang pemagaran Alun-alun Utara oleh pihak Keraton Hadiningrat. Saya sendiri sih tidak masalah kalau niatnya ingin mengembalikan nilai-nilai historis dimana dulu Alun-alun memang dipagari. Namun menggelontorkan anggaran fantastis hingga 2,3 miliar rupiah untuk sebuah pagar yang merenggut ruang publik di tengah pandemi, dimana masyarakat Jogja banyak yang susah cari makan, mungkin kurang etis sih. Iya, merenggut ruang publik. Kalau saya jadi warga lokal Jogja, sedih sih. Anak-anak mereka kehilangan ruang hidup, taman, yang harusnya gratis dan mudah diakses siapa saja, menjadi komersil, berbayar untuk wisatawan.

Anak-anak menjajal sepeda tinggi

Sepeda tinggi sama seperti sepeda biasa, hanya perlu terus bergerak supaya tetap seimbang


"Bang, ajarin naiknya dong," sahut anak-anak meminta Riko dan Bang Pepe mengajari cara naik sepeda tinggi. Sebenarnya Riko sedikit malas meladeni permintaan anak-anak ini.

Dengan sabar Riko dan Bang Pepe memegangi sepeda mereka. Anak-anak itu bergantian memanjat rangka dan duduk di sadel. Begitu sepeda bergerak, Bang Pepe melepas sepedanya. Kata-kata makian alat Betawi menghiasi sore itu karena anak-anak takut jatuh. 😂

***

Zah Vera sudah pulang, dan kami masih bereksperimen foto hingga malam. Kereta LRT datang dan pergi setiap 5 menit sekali. Ingin rasanya mencoba perjalanan dari Stasiun Velodrome ke Stasiun Pegangsaan, apalagi saya penggemar transportasi umum.

Sorot cahaya malam, cukup ikonik apabila ditangkap dengan kamera mumpuni

Saya mencoba memotret Bang Pepe supaya fokus dengan latar kabur, memanfaatkan teknik fotografi


Belum lama bereksperimen foto, pengeras suara menggaungkan pengumuman bahwa Velodrome akan ditutup. Sebelum pulang ke sekretariat, kami cuci tangan dulu di pos satpam. Entah berapa banyak objek kami sentuh dan beruapa kali tangan mengusap wajah.