Tour De Java - Sepeda Sirkus

Meninggalkan Kota Tua dengan banyak landmark khasnya, Stasiun Jakarta Kota (Foto oleh Achmad Jaka Pahirah)

"Ameh nandi (mau kemana)?" tanya saya pada Riko.

"Kota Tua wae piye? Opo kowe ono saran nggon pora (Kota Tua aja gimana? Elu punya saran tempat gitu nggak?" Riko kembali bertanya.

Sebagai orang yang pernah tinggal di sekitaran ibukota medio 2010-2015, Jakarta menawarkan banyak tempat yang asik buat nongkrong. Kebanyakan sih mal dan museum.

Jari-jemari saya lincah menulis nama-nama taman di atas papan ketik. Satu per satu rekomendasi tempat di Google Maps muncul. Semuanya menarik.

Masalahnya, "... pas pandemi ngene emange nggone podo buka (... saat pandemi gini memang tempatnya dibuka)?"

Mau buka atau tidak, saya, Riko, dan Bang Pepe sudah sangat bosan cuma leyeh-leyeh di sekretariat. Jarpo sih sedang tidak enak badan, jadi memilih rehat seharian. "Yawis, teko nututi aku wae (Ya sudah, tinggal ngekor gue aja)," saya memegang kendali navigasi—ponsel Riko saya masukkan saku kaki.

Dari Rawamangun, kami hanya tinggal mengikuti Jln. Pemuda ke arah Pasar Pramuka. Jalanan benar-benar enak bagi kami pesepeda karena 'karpet hijau' itu steril dari kendaraan yang parkir. Di Pasar Pramuka, kami ambil lajur paling kanan melewati jalan layang yang bercabang ke arah Salemba. Tentu berbahaya bagi pesepeda yang semula berada di lajur paling kiri lalu mengambil jalur kanan. Belum lagi pengendara di Jakarta tidak sedikit yang kebut-kebutan.

Untuk berpindah lajur, biasanya saya akan memberikan sinyal dengan tangan kanan/kiri. Beberapa pengendara ada yang memelankan kendaraan mereka, sisanya bablas atau membunyikan klakson. Setelah ada di jalur yang tepat, barulah sepeda dikayuh lebih kencang menuju tanjakan.

Entah sudah berapa lama saya tidak melewati Jln. Kramat Raya untuk menuju Stasiun Pasar Senen. Kondisi jalan yang ditandai dengan banyaknya tukang cat duco ini sudah jauh lebih baik dengan penutupan beberapa persimpangan dan jalur putar arah serta perbaikan ruang pedestrian. Jalan utama memang masih cukup lebar dengan empat lajur, seharusnya bisa dong dibikin lajur khusus pesepeda di sini, lebar tiga meter cukup. Ruang pejalan sudah sangat baik sudah dilengkapi jalur difabel. Tiap tiga ratus meter, ada halte bus umum yang didesain modern, lengkap dengan petunjuk rute angkutan umum dari FDTJ (Forum Diskusi Transportasi Jakarta).

Dalam setengah jam saja, kami tiba di taman yang dituju.

***

Lapangan Banteng, salah satu ruang publik yang ciamik

Tidak Sekadar Monumen


Taman pertama yang kami sambangi adalah Lapangan Banteng. Taman kota dengan ciri khas Monumen Pembebasan Irian Barat ini dulu sebenarnya adalah hutan belantara ketika Belanda membangun Batavia di pesisir utara. Lalu pada 1632, Anthony Pavilijoen menjadi pemilik resmi hutan ini dan menamainya Paviljoensveld (Lapangan Pavilijoen). Pavilijoen lalu menyewakan pekarangannya untuk dijadikan kebun pada para Tionghoa dengan sisa pekarangan untuk peternakan sapi.

Lapangan Pavilijoen sempat bergonta-ganti kepemilikan. Pada abad ke-19, lapangan ini dimiliki oleh seorang Dewan Hindia-Belanda, Cornelis Chastelein, yang mengubah nama lapangan menjadi Waltevreden. Area Waltevreden pun menjadi tempat berkumpulnya kaum elit Hindia-Belanda di Batavia dimana ada pergelaran pertunjukan musik di setiap sorenya.

Pada tahun 1815, di Eropa barat terjadi peperangan antara Napoleon (Perancis) dengan pasukan gabungan Inggris - Belanda - Jerman. Perang ini pecah di dekat kota kecil Waterloo yang berjarak 15 kilometer di selatan Brussel, ibukota Belgia. Patung singa pun didirikan di Waltevreden sebagai bentuk kemenangan Belanda atas peperangan kala itu. Sayangnya patung singa dihancurkan oleh imperialisme Jepang di Indonesia pada 1942.

***

Untuk memasuki Lapangan Banteng di masa pandemi, setiap orang diwajibkan mengisi buku presen di pintu selatan untuk mempermudah tracing. Para petugas mengecek suhu tubuh dan mewajibkan pengunjung untuk cuci tangan setelahnya. Berhubung sepeda dilarang masuk, kami menitipkan sepeda di tenda petugas.

Meski sudah cukup sore, masyarakat tetap berdatangan dengan outfit olahraga mereka. Ada yang berseragam silat, bersepatu roda, membawa tali lompat, atau mengenakan sport wear yang klop dengan pasangannya. Karena sepeda dilarang masuk, kami hanya memotret sekitar. Riko dan Bang Pepe kurang berminat untuk difoto dengan latar monumen tanda awal penjajahan Papua oleh Indonesia itu.

Riko dan Bang Pepe berpose dengan latar Monas

Selesai menikmati ciptaan Tuhan, kami beralih ke Monumen Nasional. Rupanya proyek mubazir terowongan bawah tanah antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral benar-benar dikerjakan. Di Jln. Ir. H. Juanda, lalu lintas kendaraan di Minggu sore benar-benar lengang. Baru kali ini saya bersepeda melewati Jln. Veteran III yang notabene pintu samping Istana Merdeka.

Kami berhenti sejenak di pintu barat laut Monumen Nasional (Monas). Seperti dugaan saya, Monas masih ditutup. "Yowis kene kowe-kowe nggaya men tak fotone (Yaudah sini kalian bergaya biar gue fotoin)," dengan segera Riko mengangkat sepeda tingginya yang mungkin lebih ringan dari Kromo saya. Melihat gerbang tertutup dan dijaga polisi, beberapa goweser yang kecewa pun hanya bisa menelan kekecewaan dengan berfoto dari luar pagar.

"Mas, bisa minta tolong fotoin kami?" ujar seorang mbak-mbak bersama suaminya. Oh, mereka pasangan serasi dengan sepeda lipat Brompton.

Dua sepeda tinggi ini tampaknya jauh lebih ringan daripada Kromo


Biasanya ketika ada yang minta difoto, saya akan mengarahkan objek dan subjek yang akan difoto. Namun melihat reaksi pasangan itu yang rada was-was begitu saya akan menggeser sepeda Brompton mereka, rasanya jepret asal aja gapapa. 😑

Ada beberapa pengunjung Monas yang ingin tahu soal sepeda tinggi. Beberapa dihadiahi stiker aksi yang dibawa Riko. Rasanya sepeda Brompton boleh mahal, tapi sepeda tinggi tetap yang dikenal.

***

Selesai dari Monas, kami melanjutkan eksplorasi ke Kota Tua. "Ngko bengi cah Tallbike Cengkareng arep ngajak ketemu (Nanti malam anak sepeda tinggi Cengkareng ngajak ketemuan)," seru Bang Pepe. Okelah, kalau begitu kami tunggu saja di Kota Tua, toh strategis dan adil letaknya di tengah-tengah.

Dari pintu barat laut, saya menyeberangkan Kromo melewati pedestrian tengah taman. Bang Pepe dan Riko memilih memutar jauh ke arah selatan lalu mendahuli saya di depan ke arah Glodok.

Di pertigaan Istana negara, saya menggowes pelan si Kromo. Tiba-tiba dari sisi kanan ada motor besar (mungkin Vixion) ingin ambil kiri naun menabrak ban belakang sisi kanan sepeda saya. Sepersekian detik, saya terbanting ke arah kanan dengan ekor sepeda terlempar ke kiri. Untung kedua tangan sigap mendarat di aspal, sakit dan pegal...

Pengendara sepeda motor pun kabur ke Jln. Abdul Muis.

Stiker sepeda tinggi, MK Kustom, dan stiker aksi dibawa Riko untuk dibagikan pada masyarakat


Sedikit shock, saya lanjutkan gowes dan kembali jatuh. Rupanya RD Shimano Altus saya bengkok akibat senggolan tadi. Duh sial, mana mahal pula kalau mau ganti.

Segera saya telepon Riko yang mungkin sudah ada di Jln. Gajah Mada. Dengan segera Bang Pepe dan Riko datang, mengecek saya, dan memperbaiki RD sepeda. Tentu mereka khawatir, apalagi mereka diamatkan abang untuk menjaga saya. "Ora, rabakal tak gawe status kok (Enggak, nggak bakal gue bikin status kok)," yakin saya pada mereka supaya tidak memancing keruh seperti di Indramayu kemarin.

Sepeda beres, hanya saja sesekali rantai lepas dari gigi. "Jal dideleh ning gigi tengah (Coba diletakkan di gigi tengah)," instruksi Bang Pepe pada Riko supaya rantai tidak lompat. Berhasil. Mungkin saya harus ingat-ingat untuk tidak mengoper gigi sebelum tiba di sekretariat nanti mengingat konfigurasi gearset saya 3x9 sedangkan gigi belakang hanya punya 8 kecepatan.

***

Hiburan Sederhana


Saya masih sedikit shock begitu tiba di Kota Tua. Ingin rasanya segera merebahkan badan ke bangku taman meski malam Minggu ini ramai lalu-lalang orang. Namun begitu tiba, kedua sepeda tinggi ini memancing para ibu-ibu berseragam olahraga itu datang. Wawancara singkat pun terjadi.

"Ini gimana caranya naik ya bang," sahut ibu-ibu dengan hijab berpunuk itu. Tampaknya antusiasme pengunjung Kota Tua juga sama, banyak pasang mata memandang kami.

Dengan sedikit terpaksa Bang Pepe meragakan cara naik dan turun, untuk kesekian kalinya.

"Mau nyobain nggak bu?" tawar Riko. Tampaknya si Ibu ingin, namun takut ketinggian—sama seperti saya. Bahkan terkadang buat saya memanjat tangga atau menaiki atap genteng jauh lebih mengerikan daripada disuntik berkali-kali. Nyali saya memang berkebalikan dengan Bang Pepe yang wis kulino (sudah terbiasa) dengan dunia adrenalin. 😗

Di Kota Tua, kami memarkirkan sepeda di ujung area dengan diikat pada kunci sepeda. Sebenarnya kurang aman, tapi toh siapa yang mau mencuri sepeda tinggi. 😅

Ini adalah kali kedua saya menyambangi Kota Tua Jakarta. Area ini jauh lebih baik daripada sepuluh tahun lalu. Iya, saya menyambangi Kota Tua sudah satu dekade lamanya, namun tampaknya tidak banyak yang berubah. Hanya ada satu yang tampak mencolok, di tengah-tengah Kali Krukut sudah ada taman mengambang berbentuk tunas kelapa. Pramuka? Entahlah.

Dengan gitar kecil dan potongan botol atau plastik bekas wadah permen, anak-anak mencari rupiah di jalanan


Kota Tua Jakarta mengingatkan saya pada semaraknya Malioboro. Keduanya tipikal, sama-sama kawasan bersejarah dan ramai orang. Dipenuhi pedagang, dan orang-orang yang rela keluar melawan wabah demi cuan. Nihilnya bantuan Pemerintah menjadi sebab kenapa orang tidak bisa #dirumahaja dan mati perlahan akibat kelaparan.

Dari ujung Jln. Kunir hingga Museum Bank Indonesia, banyak ragam manusia dengan kisah perjuangan mereka. Ada yang menjajakan kerak telor, menjual masker, pernak-pernik khas Kota Tua, menjual nasi pecel, mengenakan kostum peraga dari noni-noni Belanda, tentara kemerdekaan, hingga anime, juga mengamen.

"Wah jarene sing cah Cengkareng lagi ono urusan lain, dadi rodo wengi morone (Wah katanya anak Cengkareng lagi ada urusan lain, jadi bakalan rada malem datangnya)," kabar Bang Pepe pada kami. Okelah, semoga saya tidak ngantuk berat sepulangnya dari sini. Apalagi rencananya besok pagi kami akan menghadiri car free day yang sebenarnya ditiadakan. Dan tentu, saya yakin animo pesepeda tetap tinggi besok.

***

"Bang, ini cara naiknya gimana bang?" tiba-tiba muncul sosok anak, mungkin umuran SD, dengan ukulele kecilnya. Mungkin pengamen. Tak lama, satu rombongan kecil anak-anak datang mengekor di belakang. Mereka semua memegang gitar kecil, beberapa ada yang mengumpulkan recehan dari plastik bekas wadah permen yang dilipat dan diikat di ujung gitar itu.

Sorrr... pecahan demi pecahan rupiah disortir dan dihitung ulang. Simpul senyum sedikit terbentuk, tampaknya hasil malam ini mendingan.

Anak-anak bergantian menjajal sepeda tinggi Riko


Bang Pepe yang baru akan duduk, kembali terjaga. Sama seperti kemarin, Ia membantu anak-anak untuk menaiki sepeda ungu itu. Begitu juga dengan Riko, tampaknya Ia kewalahan memilih mana anak yang ingin didahulukan.

"Kak, cobain ya kak..." ujar si adik-adik berkerudung merah jambu, "... tapi pegangin." Tumben ada orang yang ingin menjajal sepeda saya. Biasanya, melihat bodinya yang karatan, orang sudah keburu jijik untuk menyentuh si Kromo.

Baiklah dek, kita pusing-pusing di jembatan.

***

Ngomong-ngomong soal sepeda tinggi, saya pernah dengar celetukan abang kalau sejarah sepeda ini memanglah dari sepeda sirkus. Ia tampak berbeda dari sepeda kebanyakan, spesial, dibangun dan dikendarai dengan teknis khusus sehingga tidak dimiliki kebanyakan orang. Khususnya di Jogja, sepeda ini dibawa oleh sebuah kelompok atraksi sirkus: Cyclown Circus—yang pemainnya berasal dari berbagai negara, pada akhir 2006 lalu. Waktu itu, salah satu pemain sirkus asal Italia bernama Pierro melakukan barter sepeda tinggi rakitannya dengan tatto dari karya Mas Kampret (Dhomas Yudhistira). Selain barter, tak lupa Pierro juga mengajarkan bagaimana caranya membuat sepeda tinggi dari dua rangka sepeda sepeda (frame) yang dirangkai dengan besi-besi tidak terpakai sehingga jelas ramah lingkungan.

Lebih dari satu jam sepeda tinggi menghibur anak-anak di Kota Tua


Meski sederhana, untuk membuat satu sepeda tinggi modalnya lumayan juga. Bekti—rekan saya di Garuk Sampah butuh modal hingga tiga setengah juta untuk membuat sepeda tinggi yang sudah dibawanya menuju Bali. Semua tergantung suku cadang dan bentuk sepeda yang ingin dirakit. Tapi namanya juga hobi, saat ini sudah ada lebih dari 200 orang pemilik sepeda tinggi seantero DI. Yogyakarta.

Dan sekali lagi, sepeda tinggi menjadi primadona di masyarakat karena keberadaannya saja sudah menghibur.

***

Anak-anak ini rupanya hanya warga sekitar yang biasa diminta mengamen oleh orang tua mereka. Sebenarnya kasihan sih jadi pekerja anak, namun tentu berat juga bagi keluarga marjinal untuk tetap bertahan di tengah pandemi—yang akhirnya memaksa semua anggota keluarga untuk mencari uang guna dinikmati bersama-sama.

Menanti kedatangan kawan dari Cengkareng


Tidak terasa sudah hampir satu jam kami bergiliran menghibur anak-anak ini dengan sepeda tinggi. Dari kejauhan, sang senior memberi aba-aba untuk kembali bernyanyi di jalanan, mengharap penghargaan kecil para pengunjung dalam peser-peser rupiah. Mereka kembali berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil lalu mengitari kawasan Kota Tua. Sayang sekali ya dek, masa kecilmu terenggut oleh tidak adilnya pembangunan kota.

***

Kami menyingkir dari kerumunan. Tak lama, dua anak sepeda tinggi Cengkareng datang dengan membawa gorengan. Tentu saja Riko langsung melahap kudapan ini karena perut akan sakit kalau makan berat sekarang. Dari obrolan malam itu, saya baru tahu kalau dulu di Jakarta sudah ada sepeda tinggi yang populasinya terus menurun hingga sekarang dapat dihitung jari saja. Jaka, inisiator sepeda tinggi di Cengkareng bercerita, "Dulu banyak di Kalideres juga. Biasa keluar pas lagi CFD. Cuma ya sekarang udah jarang keliatan."

Dari Jogja ke Jakarta, kembali menemukan keluarga (Foto oleh Achmad Jaka Pahirah)

CFD? Oh iya, besok hari Minggu. Sepertinya kami harus segera mengakhiri obrolan malam ini supaya bisa bangun pagi esok. "Besok ketemuan di GBK aja," terang Bang Pepe. Oke, kami segera mengayuh pedal menuju Rawamangun.

Saya masih was-was kalau sepeda ini tidak segera dicek RD-nya, maka akan bermasalah lagi di jalan. Setibanya di sekretariat, Riko dan Bang Pepe segera mengecek RD si Kromo supaya bisa digowes ke CFD lima jam lagi. Padahal tentu keduanya sudah sangat capek hari ini. Terkadang saya jadi pekiewuh (merasa sangat tidak enak) ketika harus merepotkan orang karena masalah yang dihadapi, walaupun yang mereka lakukan hanya menjalankan 'tugas' dari sang abang.