Tour De Java - Saudara Jauh

Sekali pesepeda, tetap bersepeda.

Jarpo, Riko, dan Bang Pepe berpose bersama kawan-kawan dari Pangorama JKT (saya sudah pergi dari lokasi)


Saya bergegas mandi begitu jam menunjukkan pukul 6 pagi. Mata saya masih cukup berat untuk melek dengan kepala sedikit pusing. Jam tidur normal bagi orang dewasa adalah tujuh jam, dan saya yakin kebutuhan itu belum terpenuhi sekarang. Tapi melihat Riko dan Bang Pepe yang masih sibuk membetulkan RD sepeda ketika saya sudah tidur dan kini semangat untuk gowes pagi, saya tidak mau kalah dong.

Pukul 06:40, kami berangkat. Jakarta di Minggu pagi ini cuacanya relatif cerah dengan langit kebiruan, namun di ujung pandangan tentu pekat kabut polusi menggulung tetap terlihat samar-samar. Setidaknya ada 10 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan bahan baku pembakaran batu bara yang aktif bekerja setiap harinya. Di hari kerja ketika pabrik dan perkantoran beroperasi, setidaknya 30% polusi udara disumbang dari PLTU-PLTU ini. Karena polusi ini juga, saya mencoret Jakarta dari kota tujuan pengembangan karir. Saya masih sayang dengan dampak kesehatan jangka panjang. 😅

Keluar dari kandang, kami disambut anak-anak Jakarta

Suasana Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Rawamangun


Keluar dari Cumi-cumi Raya, banyak anak-anak berkelana dengan sepeda mereka. "Bang, gimana cara naiknya?" teriak mereka. Berhubung kami sudah cukup kesiangan untuk ke CFD, hiraukan saja. 😁

***

Semarak Minggu Pagi


Saya baru tahu kalau CFD tidak hanya dilaksanakan tersentral di kawasan perkantoran Sudirman - Thamrin saja. Kebijakan ini tampaknya masih relatif baru dan juga diterapkan di sepanjang Jln. Pemuda Rawamangun. Hal ini dilakukan supaya dapat memecah konsentrasi massa yang ingin berolahraga di akhir pekan tanpa menciptakan klaster baru persebaran virus.

Jalan Pemuda ramai warga yang berolahraga: mayoritas jogging. Begitu tiga sepeda tinggi ini membelah kerumunan, puluhan pasang mata terpana melihatnya. Beberapa warga ada yang spontan mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan sepeda yang jarang terlihat di wilayah mereka.

Menyeberang flyover Pramuka

Membelah jalanan Menteng yang memiliki jalur sepeda


Meski sudah pukul 7 pagi, jalanan Jakarta dari Rawamangun menuju Bundaran HI relatif lengang. Kami dengan santai memakai dua jalur kiri. Meski belum sempurna, tata kota DKI Jakarta jauh lebih rapih karena kawasan perumahan, industri, perkantoran, dan perniagaan sudah terpetakan dalam area-area tertentu. Wajar kalau akhir pekan lalu lintas di daerah yang biasa macet di minggu kerja jadi lengang.

Tiba di Simpang Mampang, kami berpapasan dengan banyak pesepeda. Asumsi saya mengatakan kalau kami cukup mengikuti jalur sepeda akan tiba di Bundaran HI dengan sendirinya. Ya, ketimbang melalui Manggarai dengan jalan turun naik yang merepotkan sepeda tinggi. Namun Google Maps merekomendasikan untuk melewati Jalan Tambak - Jalan Sultan Agung baru berbelok ke Jln. Teuku Cik Di Tiro, 'Lah ngalang (muter) dong?' Ya sudah saya arahkan kawan-kawan melewati jalan versi Google, keluar dari jalur sepeda.

Kekurangan Google Maps di Indonesia memang belum bisa menggunakan fitur pesepeda. Fitur ini baru akan aktif apabila di suatu wilayah memiliki jalur sepeda dan terverifikasi Google, sedang jalur sepeda di Jakarta relatif masih baru.

Kami kembali dengan jalur sepeda di Jln. Diponegoro, Menteng. Karpet hijau di wilayah ini benar-benar asik. Meski lebarnya tidak seberapa, namun lajur hijau ini benar-benar steril dari kendaraan bermotor, termasuk yang parkir. Belum lagi jalanan yang didekorasi dengan taman dan dilengkapi pohon peneduh, bersepeda di Jakarta terasa asik kalau semua wilayah berstandar seperti Menteng. Maklum, kawasan elit.

Biasanya Riko dan Bang Pepe akan berangkulan di lampu merah

Jarpo dan sepeda merahnya siap memancing perhatian masyarakat ibukota


Sepuluh menit kemudian, kami tiba di Bundaran HI dengan landmark khasnya, Patung Selamat Datang.

Ekspektasi kami benar. Meski Pemprov DKI Jakarta meniadakan CFD sehingga kendaraan bermotor bebas berlalu-lalang di Sudirman-Thamrin, namun antusiasme warga untuk bersepeda di kawasan ini tetap tak terbendung. Polisi dan Dishub berulang kali berujar melalui pengeras suara, "Hari ini tidak ada car free day." Tampaknya pengumuman itu tidak begitu dihiraukan, terbukti setengah badan jalan sisi kiri terisi penuh oleh sepeda dan dibatasi cone-cone yang terhubung tali.

Lagi-lagi sang 'sepeda sirkus' menarik perhatian publik. Banyak orang yang ternganga melihat ketinggian rangka-rangka besi yang disambung ini. Supaya menarik perhatian, kami lakukan konvoi kecil menuju Bundaran Thamrin (Patung Kuda Arjuna Wijaya). Sebagai dokumentator, saya memegang ponsel Jarpo dengan lihai. Sayangnya kekurangan ponselnya adalah minusnya fitur super stabil sehingga video tampak bergoncang.

Di area CFD, beragam jenis sepeda keluar. Dari yang saya lihat, di DKI Jakarta kebanyakan pesepeda menggunakan fixie dan seli (sepeda lipat) karena kota yang relatif datar. Untuk kelas pekerja, tentu sepeda lipat Brompton menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan karir (baca: gengsi). Brompton boleh mahal, namun kali ini sepeda tinggi yang jadi pusat perhatian dan terkenal.

Kami kembali gowes ke arah selatan.

"Dhewe wis kangsenan karo Cah Cengkareng ning GBK sisan syuting (Kita sudah janjian dengan Anak Cengkareng di GBK sekalian syuting)," arah Jarpo.

Membelah arteri Thamrin - Sudirman, saya menyadari banyak orang mengekor di belakang. Beberapa ingin mengajak ngobrol rekan-rekan yang bersepeda tinggi, entah Jarpo, Riko, atau Bang Pepe. Karena ketinggian, mereka urung dan memilih mengobrol dengan saya. Pertanyaannya standar: darimana, ngapain, gimana cara bikin sepeda tinggi, cara naik dan turun, kalau macet gimana, kurang ada pertanyaan yang menarik.

Kami berputar arah menuju GBK. Peniadaan CFD benar-benar menyebalkan ketika kami harus berbagi ruang dengan pesepeda motor. Sesekali kami berpapasan dengan para penjaja starling yang sibuk menuangkan saset demi saset minuman instan ke gelas plastik, juga muda-mudi yang berswafoto berlatar gedung-gedung kaca Jakarta.

Beberapa mobil terlihat memasang ekstensi rak sepeda di belakang. Mobil-mobil besar itu segera masuk ke gedung dan melepas muat sepeda. Namanya juga sedang ngetren sepeda, macak sehat itu perlu supaya dimaklumi untuk bisa keluar dan kumpul bersama teman-teman.

Sepeda-sepeda kami terus melaju ke arah barat daya. Karena susah untuk berputar arah tepat di depan f(x) Sudirman karena tingginya separator jalur busway, kami memutari Patung Pemuda Membangun lebih dahulu. Setelah putaran, sorot mentari benar-benar menyilaukan mata.

Semenjak pandemi, jalanan di kawasan perkantoran ibukota membelakukan jalur khusus pesepeda


Untuk memasuki kawasan GBK, tiap pengunjung diwajibkan menggunakan masker dan hanya bisa melewati Pintu 5 dan Pintu Panahan. Di kedua pintu ini, setiap pengunjung dicek suhunya, satu per satu meskipun hanya berolahraga di Jalan Lingkar GBK.

"Tiga enam koma, tiga," petugas mempersilakan saya masuk.

Segera saya menaiki sepeda, dan mengayuh pedal... tapi...

Gubrak!

Seketika saya kehilangan keseimbangan gara-gara vertigo. Untung Riko belum jadi naik sepedanya, bisa-bisa saya tertimpa sepeda tingginya.

Tak sedikit pesepeda yang akhirnya mengikuti rute kami


Mengitari jalan lingkar GBK, ramai orang-orang berolahraga. Tidak sedikit pesepeda ikut check-in di sini dengan berfoto di tiap sudut yang sepi pengunjung. Pintu Kuning adalah favorit orang untuk berfoto, sayangnya khusus pesepeda dilarang melewati pita plastik merah yang diikat antar bollard itu.

***

Kami bertemu dengan anak-anak Cengkareng, kali ini Jaka bawa rombongan yang cukup banyak. Kami sama-sama bersepeda, dan tentu Jaka membawa sepeda tingginya. Di GBK, kami melepas penat di bawah rindangnya pepohonan taman. Sesekali kami usil menggoda pengunjung GBK yang lain. Sesekali pengeras suara mengumumkan agar pengunjung senantiasa menggunakan masker dan menjaga kebersihan.

Bersama kawan-kawan dari Tallbike Cengkareng


"GBK lovers... kalau bukan kita, siapa lagi?" ucap narator dengan nada sedikit nyaring sehingga mudah terngiang-ngiang di kepala.

Belum lama kami berbincang dengan Jaka dan kawan-kawan, sayangnya kami harus berpindah tempat.

"Pindah ngidul adoh ning Eleven Trees (Pindah jauh ke selatan, di Eleven Trees)," terang Jarpo. Kami semua segera berfoto di depan pintu utama Stadion GBK. Meski singkat obrolan pagi ini, semoga semua tersimpan baik dalam memori.

Berfoto bersama di gerbang utama Stadion Gelora Bung Karno


"Jo, kowe sing nggoceki GPS yo (Jo, kamu jadi navigator ya)," Jarpo mengoper ponsel berselubung merahnya pada saya.

***

Eleven Trees terletak di Cilandak, Jakarta Selatan. Dari GBK, mudah saja. Kami hanya perlu mengikuti Jln. Asia Afrika ke selatan hingga Jln. Hang Tuah, berbelok ke arah Blok M dan mengikuti jalur MRT untuk tiba di sana. Jalan Fatmawati tidak begitu lebar, dan relatif sepi di Minggu pagi. Beberapa kali bising suara MRT melintas menggema diantara ruko-ruko. Meski jalan tidak begitu lebar, dari Senayan hingga Cilandak sudah ada jalur sepeda dan cukup steril karena parkir kendaraan ada di pelataran ruko. Saya suka penataan ini. Hampir tiba di Eleven Trees, kami harus memutar di Simpang Susun Tol Desari (Depok - Antasari).

Meninggalkan Jakarta Pusat, menuju Jakarta Selatan

Sepeda-sepeda kami membelah kawasan hits Jakarta Selatan


Di Eleven Trees, para kru dari kanal Catatan Si Buluk sedang mempersiapkan diri untuk rekaman kami. "Jadinya jam 1 siang ya," oke, setidaknya ada selang waktu bagi kami untuk beristirahat. Selesai mandi, kenyang sarapan, syuting pun dimulai.

Berdasarkan skenario, saya akan duduk di samping Bang Buluk (Laksmana Rakalogatama). Lalu datanglah kawan-kawan dari sepeda tinggi langsung memanjat pagar. Ya, kami syuting di balkon lantai dua. Syuting kali ini pun disponsori oleh 2 produk kuliner, satu kopi dan satu lagi bakmi; dan satu kaos dari NUCT.

Biar nggak penasaran gimana serunya obrolan kami, simak saja video berikut:



Syuting selesai. Tak lama, Honda Freed perak memasuki pekarangan kafe. Bagas tiba rupanya, ah tidak sabar rasanya saya untuk segera bertemu sahabat saya, Dwi. Segera saya berpamitan, mohon maaf tidak bisa ikut ke Volunteer Hub (by Indorelawan) dan meninggalkan si Kromo di kafe.

Syuting program Catatan Si Buluk bersama Laksmana Rakalogatama


***

Hai!


"Oh jadi gitu," Dwi tampak tertegun sedikit lama mencerna kalimat saya. Sebagai sahabat, kami sudah berpisah lebih dari satu tahun. Meski pada Desember 2019 lalu saya sempat menyambangi ibukota, kesibukan dan minimnya waktu membuat kami sulit bertemu.

Dan kali ini, meja berisi sisa makanan instan ini menjadi penengah kami, ketika aturan bermasker dan jaga jarak cukup ketat digencarkan di jaringan restoran cepat saji ini.

"Jadi, gimana rencana lu ke depan?"

Seperti biasa, topik membahas masa depan menjadi pembuka pembicaraan. Topik ini yang paling kami suka, berangan-angan sukses meraih cita-cita dalam definisi masing-masing.

Kru Cabul menjajal sepeda tinggi

Tiba di Eleven Trees, kami mendapat jamuan makan siang

Riko mempraktekkan cara naik dan turun sepeda tinggi


"Tetep sama kok," jawab Dwi. Kami berdua memang punya target yang sama: lanjut studi. Dwi memilih manajemen bisnis UGM, sedang saya mematok studi tata ruang kota di Institute of Housing and Urban Development, Erasmus University. Terlalu tinggi? Mungkin. Akankah tercapai? Bisa jadi. Bagi saya, studi tata urban menjadi penting karena Ia cukup sentral dalam penyelesaian beragam masalah sosial di masyarakat.

Sayang wabah menunda rencana indah kami.

Dan malam itu, saya habiskan waktu untuk berbincang persoalan A hingga Z, bersama Dwi, Bagas, dan Laras. Rusaknya ponsel benar-benar membuat obrolan jadi lebih berkualitas, tanpa distraksi aplikasi. Menertawakan masa lalu, dan bertanya-tanya soal kabar rekan seperjuangan di masa perkuliahan. Kereta LRT Jakarta memang bising, namun suaranya kalah saing dengan gelak tawa kami. Semoga lain kali bisa bertemu lagi.

***

"Tidak Ada yang Berkeinginan Hidup Seperti Ini"


Honda Freed Bagas berputar arah, mungkin Ia segera masuk pintu tol Fatmawati menuju rumahnya di Bintaro. Gelap malam, satu setengah jam menuju tengah malam, saya masih di Eleven Trees. Riko, Jarpo, dan Bang Pepe tentu sudah pulang. Saya membuka pesan...

'Ngko nek bali akon kancamu wae ngeterke. Pitmu iso dicopot bane men muat. (Nanti kalau pulang minta temenmu aja yang mengantarkan. Sepedamu bisa dilepas rodanya supaya muat dalam mobil.),' pesan Riko.

Bang Pepe dan kaos Pit Dhuwur YK kebanggaannya


Tentu saja saya tidak mengikuti keinginannya. Meski mata sudah pedih karena kurang tidur, saya memilih tetap menggowes Kromo meski jarak Cilandak ke Rawamangun cukup jauh. Opsi ini kurang baik untuk pendatang baru (new comer), namun tidak merepotkan orang adalah prinsip saya.

Eleven Trees sudah terpaut sepi, namun salah satu studio dengan monitor ekstra lebar sedang menyunting video kami tadi siang. Video itu memang ditargetkan tayang hari Rabu esok. Tanpa mengganggu editor, saya segera mengikuti petunjuk peta Google Maps yang saya lihat tadi petang di ponsel rekan.

Dari Cilandak, saya hanya perlu berputar menuju Jln. Pangeran Antasari. Malam hari, jalanan benar-benar sepi. Sialnya saya lupa mengambil lampu LED dari sepeda tinggi Riko. Cukup riskan juga kalau disundul kendaraan dari belakang, atau ditabrak dari samping.

Bersepeda di bawang jalan layang non-tol Antasari mengingatkan saya pada kunjungan media beberapa tahun lalu. Vice, salah satu media kenamaan Amerika Serikat kami sambangi, namun bertempat di Kolega Antasari. Maklum, kantor media ini berada di ruko sehingga tidak memungkinkan untuk disambangi 40 orang sekaligus.

Salah satu bengkel di Eleven Trees


Kantor Walikota Jakarta Selatan menjadi patokan pertama saya. Mengikuti ingatan, saya harus berbelok ke timur melalui Jalan Wijaya. Beruntung di jalan ini sudah tersedia jalur sepeda dan steril dari parkir liar. Dari Jln. Wijaya, saya berbelok ke Jln. Wolter Monginsidi, mengambil jalur layang menuju Cawang. Di atas tol Cawang - Grogol, saya sedikit takut terserempet mobil jalanan terlalu lebar sehingga banyak blind spot.

Belokan berikutnya adalah Jalan Otista (Otto Iskandar Dinata) yang akan mengarahkan saya ke Jatinegara. Lalu saya tinggal berputar di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, mengikuti Jln. Bekasi Timur Raya yang akan mengarahkan saya menuju tujuan. Flyover Klender adalah patokan terakhir supaya saya bisa tiba di sekretariat. Sebenarnya ada banyak sekali opsi jalan pintas, namun apadaya rusaknya ponsel memaksa saya mengandalkan ingatan semata.

Sepanjang pinggiran rel antara Jatinegara dan Klender, ada banyak sekali perempuan berdandan seksi, berpakaian minim, dengan riasan yang sedikit memaksa. Makeup yang digunakan boleh seadanya, namun pengaplikasiannya sedikit berlebihan. Saya berhenti sejenak sembari meminum tegukan terakhir dari botol yang saya bawa. Di ujung pandangan, seorang perempuan tampak sedih. Tanpa ragu, saya mendekatinya.

***

Namanya Rini (bukan nama sebenarnya), Ia adalah ibu dari dua orang anak. Suaminya? Entahlah, Ia sendiri mengakui kalau anak-anaknya lahir akibat hubungan haram dalam beberapa tahun silam. Tidak tega untuk menggugurkan kandungan, Rini memilih merawat darah dagingnya itu. Salah satu anaknya kini menginjak sekolah dasar.

Wajahnya sedikit kecut, berulang kali Ia menghela nafas. Benar, tak lama setelah kami berkenalan, Ia segera meluapkan segala keluh-kesahnya.

Bersantai di Volunteer Hub, Jakarta Selatan


Pandemi Covid-19 benar-benar memukul perekonomian keluarga kecilnya. Sebenarnya Rini sudah lama mencoba keluar dari industri perlendiran. Namun lagi-lagi stigma buruk kepadanya, bahkan ketika Ia mencoba memanjat tinggi tembok tinggi 'label' penghalang tersebut, memaksa Ia kembali menggeluti industri

"Biasanya jualan ketoprak gue tuh, di seberang sono (tangannya menunjuk ke arah seberang rel kereta)" logat ibukota kental dalam bait-bait perkataannya. Rini bercerita, pandemi benar-benar membuatnya tertekan secara mental. "Ngerawat dua bocil kagak gampang bang," apalagi dengan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ), kebutuhan benar-benar meningkat. Alhasil, suka tidak suka Ia kembali menjajakan diri di pinggir jalan, melambaikan tangan pada setiap kendaraan yang berjalan pelan sembari mengharap pelanggan bersedia membayar Rp. 400.000,- untuk sekali pelayanan. Ya, bea jasa itu pun belum bersih karena masih dipotong biaya sewa rumah bordil dan setoran pada germo yang ikut membantunya mencari pelanggan.

Mendapatkan kaos dari NUCT


Saya tersentuh ketika mendalami kehidupan dalam perspektif Rini. Ya, sangat mirip dengan yang dinarasikan dalam artikel Vice, para PSK yang terpaksa menggeluti profesi perlendiran karena himpitan ekonomi harusnya termasuk PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) yang wajib mendapatkan perhatian dari pemerintah. Sayangnya PSK tergolong ke dalam sektor informal sehingga sulit kemungkinan untuk mendapat bantuan sosial, terlebih lagi pemerintah pun ikut menstigma negatif para PSK.

"Andai roda kehidupan bisa diputar ya bang, enggak pengen gue terjun ke dunia yang begini kalo nggak kepepet. Toh siapa sih yang bercita-cita mau jadi PSK?" tutup Rini, menyudahi percakapan kami berdua.

***

Saya tiba di sekretariat, menarik sarung untuk segera tidur, tentu setelah mandi. Hari ini, saya bertemu banyak orang dengan beragam perspektif mereka dalam menjalani kehidupan. Semoga semuanya baik-baik saja.

Komentar