Tour De Java - Aspal-aspal Pantura

Sisa-sisa Tenaga

"Jo, tangi ayo lanjut meneh," ajak Jarpo.

Sedikit malas dan pusing, saya menaiki Kromo, berusaha mengayuh pedal dengan sisa tenaga terakhir. Maklum, perjalanan pulang malam hari ini bisa dibilang nekat, karena kami sangat kurang istirahat. Bahkan sepulang dari rumah Faiz, kami hanya punya waktu sekitar 30 menit untuk mengemasi semua barang. Selesai itu, segera kami melewati rute keberangkatan secara reverse (berbalik arah). Kami kembali melewati jembatan layang Klender yang meneduhi jalur kereta arah Bekasi. Di pinggir kiri-kanan jembatan, muda-mudi memadu asmara mereka dengan gelas-gelas kopi instan. Begitu tiga sepeda tinggi lewat, tentu saja mereka berdecak kagum.

Sepanjang jalan menuju Bekasi, jalanan relatif sepi. Sudah tidak ada lagi kereta komuter berlalu-lalang karena sudah out of service. Saya terus mengayuh meski kepala sudah sangat pusing dengan mata yang kian berat. Andai saja perjalanan dimulai sore-sore dengan istirahat siang sebelumnya, mungkin kepala tidak akan seberat ini. Apalagi ponsel Samsung A70 saya rusak, tidak ada hiburan selama perjalanan kecuali melamun dan bergumam.

Sedikit lelah di Stasiun Bekasi

Memasuki kawasan industri Cibitung, truk-truk ekspedisi bergerak. Truk-truk ukuran medium hingga besar—baik yang menggunakan bak atau kontainer—keluar dari gerbang-gerbang pabrik. Pantura di malam hari memang selalu ramai oleh truk. Mereka lebih memilih mengaspal di sepanjang Pantura ketimbang melewati Tol Trans Jawa karena bisa memangkas biaya hingga hampir separuhnya. Hanya saja tenggat waktu pengiriman yang menjadi tantangan. Para supir truk pun biasa keluar pada malam hari karena lalu lintas relatif lengang dari arus komuter masyarakat, atau titik kemacetan seperti di pasar tradisional.

Di Pasar Tambun, kami berhenti. Jarpo mengkonfirmasi dimana kami akan bermalam, tentu menumpang di rumah rekan-rekan pesepeda. Kali ini, kawan-kawan dari Dapur Custom Cikarang membukakan pintu mereka. Kami cukup gowes sedikit lagi sampai di tujuan.

Di kiri-kanan jalan, tampak gadis-gadis belia dengan pakaian minim mereka. Sudah bukan rahasia lagi kalau prostitusi dijajakan di pinggiran Pantura, bahkan jauh pada masa jalan ini dibangun guna membendung kekuatan Perancis di era Napoleon. Ketika kami lewat, secara iseng Riko teriak, "Berapaan teh?" Teteh-teteh yang sedang membonceng motor itu pun mengangkat jari tangan kanannya, kecuali jempol.

Keluarga Baru di Cikarang

Belum cukup berkeringat meski malam hari di Bekasi relatif hangat, kami bertemu rekan Dapur Custom. Mereka rupanya sudah menanti cukup lama dengan nongkrong di sisi utara jalan. Kami bersalaman, lalu diarahkan ke rumah tempat kami singgah, "Rumahnya Dede bang." Begitu tiba, kami disambut hangat oleh keluarga Dede, sampai-sampai ibunya menunda tidur lebih awal. Di teras rumah sudah ada banyak gorengan dan minuman tersaji hangat. Saya yang sudah terkantuk memilih izin meninggalkan rekan-rekan, menunda santap jamuan, dan tidur dengan kipas angin yang berputar.

Beristirahat di rumah salah satu rekan Dapur Custom


Pagi-pagi, hal pertama yang saya lakukan adalah check-in presensi kantor. Ya, rusaknya ponsel memang membuat saya kesulitan untuk mengakses informasi proyek dan tugas dari kantor. Namun di sisi lain, saya tidak perlu khawatir lagi dimata-matai kantor lewat aplikasi presensi yang memaksakan akses GPS itu. Semua tugas dan kewajiban tetap saya jalankan meski sedikit repot melakukannya di tengah perjalanan.

Sarapan selesai, kami segera mengemasi barang. Saya pun kembali mengikatkan bagasi pada rak belakang Kromo. Selesai mengikat, Bang Pepe dan Riko mengecek kesiapan sepeda kami, termasuk ikatan bagasi tadi. Sepeda balap jadul ini pun berkarat begitu hebat. Rangkanya memang kokoh, namun parahnya karat mmebuat saya riskan kalau sepeda ini sudah rapuh dan bisa patah kapan saja Ia dikayuh.

Berfoto bersama sebelum meninggalkan kawasan Jabodetabek

Sebelum beralih, kami berpamitan dengan Dede, keluarga, dan para tetangga. Tak lupa, satu-tiga potret kami abadikan kalau kami pernah singgah di Cikarang. Potret selesai, doa dipanjatkan, kami kembali bergerak.


Rekan-rekan dari Dapur Custom mengawal kami bersepeda, ada yang juga memakai sepeda, sisanya mengendarai motor karena sebentar lagi masuk jam kerja. Melewati Jln. Yos Sudarso, Cikarang, saya baru tahu kalau KRL Jabodetabek sudah diekspansi hingga kawasan industri sini. Saya jadi tidak sabar KRL Jogja - Solo untuk segera jadi. Tentu akan mudah bagi saya untuk berkomuter ke Solo untuk sekadar mampir main di taman kotanya yang rapih.

Sampai di SPBU Kaliulu, rekan Dapur Custom berpamitan balik arah. Mereka memang tidak bisa mengantar lebih jauh, dan tidak perlu diantar jauh-jauh. Kami bersalaman dengan lengan tangan kanan di bawah terik matahari yang kian terang benderang.


Malam Panjang Pantura

Pukul 11 siang, kami sudah memasuki Kabupaten Karawang. Memasuki kota, saya berhenti di depan minimarket. Saya dan Kromo rupanya sudah melesat jauh di depan para punggawa sepeda tinggi. Saya pun memberi aba-aba kawan yang tertinggal di belakang untuk rehat sejenak sembari mengisi cairan.

Seperti biasa, Bang Pepe dan Riko mengecek kondisi setiap sepeda, khususnya sepeda saya yang masih terkendala FD dan RDnya. Selesai, kami lanjut membelah beton Pantura.

Berpose bersama gadis belia Karawang kota



Di depan Kantor Bupati Karawang, tiba-tiba ada gadis-gadis yang mengajak kami berfoto. Dengan pose sedikit kaku, kedua gadis tersebut berfoto diantara sepeda tinggi.

Dan tibalah kami di sekretariat Serbuk.


Mulut tak henti-hentinya menguap panjang ketika sorot mentari sore menyilaukan mata. Setidaknya sudah dua jam saya terlelap, melepas lelah akibat terpanggang selama bersepeda dari dari Cikarang ke Kosambi. Kami memang memutuskan untuk istirahat siang di sekretariat Serbuk karena pekatnya polusi industri dan PLTU membuat nafas jauh lebih pendek. Saya tidak bisa bayangkan berapa banyak partikel PM 2.5 masuk ke peredaran darah sehabis ekspedisi ini.

"Awak dhewe budhal bar maghrib (Kita jalan sehabis maghrib)," ujar Jarpo. Kami segera bergantian mandi sore, ya walaupun nanti bakalan berlumuran keringat dan debu lagi.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyebalkan. Sebagai satu-satunya yang mengendarai sepeda pendek (dan balap), saya tidak bisa leluasa ngobrol dengan ketiga kawan saya. Yasudah, akhirnya saya hanya bergumam sepanjang jalan.

Melewati jembatan layang Stasiun Cikampek, mendadak Jarpo mendapat panggilan. Rupanya pihak serikat menginginkan kami untuk segera tiba di Jogja dan mengisolasi diri. Wajar, kami sudah ikut aksi besar pada 16 Juli lalu, dan lebih bijak memang segera mengisolasi diri. Namun di sisi lain, Bang Pepe dan Jarpo juga sudah terlanjur membuat janji temu dengan berbagai komunitas sepeda sepanjang Pantura—terutama sepeda tinggi.

"Piye iki Pe?" tanya Jarpo meminta kebijaksanaan.

"Dhéwé nggolek omprengan sik," sahut Riko.

Kami segera tiba di Simpang Jomin, mengambil jalan sisi atas menuju arah Pamanukan, Subang. Di sini, sepanjang malam truk-truk berukuran besar dan super panjang hilir mudik. Mayoritas ke arah timur didominasi truk dengan muatan hasil industri, dan arah barat melaju truk-truk dengan muatan kosong atau membawa bahan mentah. Dari truk kecil, bak terbuka, truk logistik dengan boks, hingga ekspedisi antar pulau kami temui. 

Dan kini waktunya mencari tumpangan, supaya bisa segera pulang. 

Saya diminta duduk santai sembari menunggui bawaan kami. Jarpo yang pernah magang di Karawang, sibuk ke SPBU seberang jalan, menanyai bilamana ada truk menuju Jawa Tengah. Hmm, sebenarnya ada yang salah deh.

"Kudune awaké dhéwé nggolek SPBU kiwo dalan. Truk jarang mampir ngisi nek seberang jalan (Harusnya kita cari SPBU yang ada di kiri jalan. Truk jarang mampir isi bensin di arah lawan)," pinta Riko. Kami berempat setuju lanjut gowes sampai ketemu SPBU di depan. 

Benar, tak sampai 500 meter, ada SPBU Pangulah Jomin. SPBU ini lebih ramai dan kebetulan ada beberapa truk mengantre solar. Ada satu truk besar dengan bak kosong besar terbuka. 

Dengan segera, Jarpo dan Bang Pepe turun dari sepeda tinggi, menyandarkannya pada pagar, lalu menghampiri sang pengemudi yang tengah menunggu kembalian. 

Awalnya, Jarpo ditanyai dalam rangka apa bersepeda ke Jakarta, namun rupanya sang supir mengerti, "Saya tidak tanggung-jawab kalau kenapa-kenapa di jalan ya, termasuk muatan saya," terang beliau. 

Truk masih mengisi bahan bakar, segera kami buka pintu belakang dengan memanjat sisi samping bak. Sepeda-sepeda tinggi ini dimasukkan terlebih dahulu, baru si Kromo yang terakhir.

Dengan segera, truk berpelat K ini melaju santai di Pantura. Kami berempat di bak sibuk mengikat keempat sepeda ini supaya stabil di tengah. 

Meski truk bergerak lambat, guncangannya tiap melewati aspal yang tidak rata benar-benar terasa. Sesekali keempat sepeda yang sudah diikat ini terlempar, membuat cat pada frame sedikit lecet karena saling bertumbukan. Si Kromo sih sudah berkarat parah, jadi saya tidak begitu peduli dengan penampilannya lagi.

"Jun, kowe turuo ning ngisor kene. Wis kesel to? (Jun, kamu tidurlah di bawah sini. Sudah capek kan?)" Bang Pepe menggantikan posisi duduk saya di atas gulungan kabel sebelah kanan. Kini kakinya menginjak frame sepeda supaya tidak terlempar keras. Di sisi kiri, Riko melakukan hal yang sama meski kantung mata sudah sangat bergelambir.

Ya, saya memang orang dengan stamina rendahan. Maka, perjalanan bersepeda Jogja - Jakarta ini benar-benar menjadi momen kemenangan saya menaklukkan batasan diri sendiri, sekaligus momen langka karena tidak banyak orang yang benar-benar mau melakukan perjalanan sepeda jarak jauh, apalagi disambi mengerjakan tugas.

Malam panjang dimulai ketika tanpa kami sadari sudah memasuki Indramayu. Di sini, tiba-tiba hujan mendera. Dengan segera saya membuka rain cover tas supaya laptop aman. Beruntung Riko masih menyimpan jas hujan plastik pemberian Bokir sewaktu hujan di Ajibarang, segera kami pakai terutama untuk menutupi pakaian ganti dan alat-alat elektronik.

Mempertahankan posisi sepeda supaya tetap di tengah

Tiba-tiba truk berhenti. Sang supir dengan tergopoh-gopoh meminta kami untuk masuk ke kabin. "Dek, pindah njero wae (Dik, pindah dalam saja)," ujar beliau melawan derasnya suara hujan. "Mboten sah pak! Lanjut mawon mboten napa-napa (Tidak usah pak! Lanjut saja tidak apa-apa)," Bang Pepe menimpali. Bapak supir menanyakan pertanyaan yang sama sekali lagi, siapa tahu kami berubah pikiran dalam sepersekian detik, namun tidak.

Hujan benar-benar deras, beruntung hanya 10 menitan saja. "Mungkin mung udan liwat (Mungkin cuma hujan lewat)," terang Jarpo. Meski hanya sebentar, pakaian kami benar-benar basah. "Jun, kowe ora arep ganti klambi wae? (Jun, kamu nggak ingin ganti baju aja?)" saran Bang Pepe. Tidak. Selain malas, pakaian saya banyak yang ditinggal di sekretariat untuk dikirim paket ke Jogja.

Saya pun lanjutkan tidur dengan alas jas hujan. Dingin, diselimuti hembusan angin malam.


Truk berhenti di Kabupaten Tegal. Sang supir makan malam—atau tepatnya, dini hari. Kami berempat pun ikut turun makan di warung yang bertengger di badan jalan.

Di Tegal, hawa yang semula dingin sudah cukup menghangat. Sudah waktunya saya buang air kecil karena cairan tubuh sudah luluh untuk menghangatkan diri dari Cirebon hingga Brebes.

Di warung yang bertengger ini, rupanya tidak ada air. Sekalinya ada, tentu cuma untuk mencuci peralatan makan. Terpaksa saya kencing menghadap got di kiri jalan—sedikit kurang beradab, dan ya, ini kali pertama saya kencing di luar kamar mandi. OH IYA.

Sedikit risih karena tidak bisa cebok, terpaksa saya naik lagi ke bak truk, memastikan Jarpo, Bang Pepe maupun Riko tidak di atas, lalu ganti celana dalam, di bawah langit cerah bertabur bintang. Wow.

Sepiring mi instan goreng dengan telur tersaji. Tanpa basa-basi, saya santap habis dengan Coffeemix hangat. Setidaknya setengah jam kami berhenti hingga pak supir menghabiskan rokok dan Bang Pepe beres solat isya'.



Perjalanan dilanjutkan, kali ini saya merebahkan badan menghadap angkasa. Sangat cantik, indah. Langit kota-kota kecil justru berhias bintang ketika warga kota besar hanya bisa pasrah dengan pekatnya polusi udara dan polusi cahaya. Jarang-jarang momen seperti ini membuat saya overthinking, tentang betapa kecilnya diri ini dibanding alam semesta.

Sorot mentari pagi di Jawa Tengah