Yogyakarta-based designer. Someone who passionate with community dynamics, socio-environment talks, and more.

Tour De Java - Gamang di Semarang

Berbeda dengan keberangkatan, rute kepulangan melewati ibukota Jawa Tengah, Kota Semarang.
Meski matahari telah meninggi, tampaknya saya tidak begitu peduli. Perjalanan kali ini memang benar-benar menyita tenaga, sampai-sampai saya tetap ingin rebahan di bawah bayangan kawan-kawan yang duduk di atas gulungan kabel. 'Oh dasar stamina rendahan,' kutuk saya dalam diri. Terkadang, saya kagum dengan teman-teman saya yang seolah-olah tidak kenal lelah. Apalagi Bang Pepe, dari fisiknya Ia sudah terlihat sebagai orang yang paling bekerja keras di sini.

Sepeda Tinggi Yogyakarta di Kota Tua Semarang - 1

Jenggleng, jenggleng. Truk kembali melempar sepeda. Tampaknya Jarpo sudah tidak begitu peduli dengan cat sepeda tingginya yang lecet. Kadang memaklumi keadaan adalah hal termudah apabila menemui kendala di perjalanan. Riko meski duduk membungkuk, Ia masih sempat terlelap dengan kepalan tangan kanan menopang dagu.

Tak lama, kami kembali berhenti. Kali ini judul yang tepat adalah 'sarapan pagi di Pekalongan'. Jam menunjukkan pukul 8 pagi, "Ketoke nek meh do sarapan aku tak skip dhisik, ndak mules mengko (Sepertinya kalau kalian ingin sarapan, aku lewatkan dulu, takut sakit perut nanti)." Sudah jadi kebiasaan bagi saya untuk makan pagi setidaknya mendekati pukul 10 ke atas. Makan di bawah jam ini, biasanya akan berakhir dengan saya yang mondar-mandir kamar mandi. Penyebabnya? Kebiasaan di waktu kuliah adalah jawabannya.

Selamat Pagi Pantura!

Sewaktu kuliah, jadwal makan saya mengalami 'adaptasi'. Dulu sewaktu sekolah di asrama, makan tiga kali sehari sangat terjamin. Di masa kuliah, saya hidup mengandalkan uang living cost dari beasiswa dan kerja paruh waktu. Dan sebagai strategi bertahan hidup, makan dua kali sehari adalah jawabannya. Tubuh pun mengikuti ritme harian ini. Alhasil, saya sudah sangat terbiasa. Apabila kembali pada pola makan 3 kali sehari, justru malah repot kudu bolak-balik ke toilet. Kalau masih lapar, biasanya saya akan beli snek di waktu lapar melanda.

Truk berhenti di depan warung. Kami segera turun mengikuti perintah sang supir. Tentu saja Jarpo menyiapkan uang untuk makan pagi, saya cuma beli teh hangat. Beberapa truk ekspedisi pun ikut berhenti. Melihat bagaimana sang empunya warung asik berbicang dengan bapak supir, tampaknya ini tempat langganan beliau makan.

Supir Ekspedisi

Perjalanan kembali dilanjutkan. Sebelum itu, saya kembali masuk presensi kantor menggunakan ponsel Jarpo. Setelah mengecek percakapan di Slack dan nihil tugas, oke saya bisa bersantai. Truk bergerak lambat menuju Batang. Di sana terdapat PLTU terbesar di Asia Tenggara yang telah selesai dibangun, namun daya setrumnya belum benar-benar siap sambung dengan jaringan distribusi listrik Jawa. Oleh karenanya, kabel Siemens ini dikirim.

Memasuki Batang, truk berhenti karena lampu merah. Mendadak dari belakang ada orang naik. Mungkin karena kaget ada kami berempat, Ia hanya berdiri di ujung kiri truk sembari membuang muka ke belakang. Ngompreng? Bisa jadi. Tapi kayaknya orang ini belum izin supir asal naik aja.

Sepanjang perjalanan, saya dan Riko nggak bisa berhenti menahan tawa melihat orang itu. Wajahnya linglung berganti kaget begitu truk berbelok keluar dari Jalan Nasional 1. Ia ingin turun supaya tidak kelewat jauh, tapi sayang supir truk mana tahu ada penumpang gelap.

Penumpang tak dikenal pun salah tingkah selama perjalanan

Truk pun berhenti di tengah sawah, sembari menyiapkan dokumen surat jalan dan menanyakan arah pada warga sekitar. Tampaknya beliau masih bingung, "Tulung salah siji seko kowe-kowe ono sing ning ngarep navigasi (Tolong salah satu dari kalian ada yang duduk di depan navigasi)." Jelas banget saya yang ditunjuk, padahal enggak aleman (manja). Dengan terpaksa saya duduk di ruang kemudi sembari menyiapkan bahan obrolan supaya tidak kaku dengan orang yang baru dikenal dua belas jam ini.

Sembari memastikan truk bergerak ke arah PLTU Batang, saya lontarkan pertanyaan-pertanyaan umum seputar hidup di jalanan. Beliau, sebut saja Pak Supri (bukan nama sebenarnya). Domisili asli Kudus, namun sudah lama jadi supir truk sejak tahun 1990-an. Dari seantero Nusantara, beliau pernah singgah di Sumatera, Kalimantan, dan paling jauh Sulawesi.

"Paling enak ya nyopir di Jawa mas, aman jaya," tambahnya. Beliau berkisah sewaktu ekspedisi ke Sumatera dulu, tidak hanya bajing loncat yang jadi kendala di perjalanan. Pernah sekali beliau ditodong senjata api waktu sedang istirahat di warung makan bersama supir ekspedisi lain. Bagi beliau, menjadi supir ekspedisi bukan hanya bisnis antar barang, namun juga kepercayaan yang kadang nyawa bisa jadi taruhan. Beruntung, belakangan ini pengiriman disertai asuransi, "Pokoknya paling aman di Jawa dah."

Cerobong PLTU terlihat jelas dari jauh

Setiap sekali melakukan ekspedisi, beliau bisa berminggu-minggu tidak pulang. Di layar ponselnya, foto buram beliau berdiri merangkul istri dengan anak di depannya jadi salah satu penawar rindu. Tentu saja, beliau untuk ekspedisi yang kebetulan dipertemukan dengan kami saja sudah hari ke-22 tidak pulang. Padahal tidak banyak juga rupiah yang bisa dibawa pulang setelah dipotong ongkos operasional. Inilah mengapa beliau lebih suka menjalani ekspedisi sendiri ketimbang harus membagi nominal dengan supir pengganti, dan semua demi sesuap nasi di tengah pandemi.

Cerobong berwarna merah putih itu terlihat bahkan dari jarak 10 kilometer. Kami sudah dekat, dan tiba di pintu masuk proyek PLTU. Segera kami turunkan keempat sepeda karena tentu kami tidak boleh masuk meskipun Pak Supri sudah bernegosiasi dengan satpam. Ya, proyek ini tetap kontroversial di mata para penggerak lingkungan.

Sembari menunggu, kami mengecek dan merapikan bawaan. Sepuluh menit berselang, Pak Supri kembali datang. Rupanya kami salah lokasi. Memang benar kabel ini ditujukan bagi proyek PLTU, namun bagian distribusi alias gardu induk PLTU Batang.

Segera truk memutar arah, dan kami kembali memuat sepeda di bak. Kali ini tidak diikat karena waktu pengiriman ekspedisi sudah sangat mepet. Kembali saya pegang navigasi. Truk tetap melaju standar menuju Gardu Induk PLTU Batang. Di sisa-sisa menit terakhir, Pak Supri tidak juga ngedumel kalau salah tujuan. Beberapa kali ponselnya berdering, mungkin pihak PLTU sudah sangat menantikan paket pengiriman ini.

Dua puluh menit berlalu, kami tiba di Gardu Induk. Kembali kami turunkan sepeda, satpam mengizinkan kami duduk-duduk santai di pos jaga. Mereka juga suguhi kami dengan es buah. Lumayan. Pak Supri membawa truknya masuk untuk proses bongkar muatan.

PLTU Batang rupanya memang benar-benar besar, bahkan bisa dilihat dari Gardu Induk ini. Jaringan listrik Jawa - Bali super ruwet ditandai dengan banyaknya sutet dibangun ke berbagai penjuru. Proyek Nasional, bagus, untuk elektrifikasi pulau yang sudah kelebihan setrum. PLTU Batang menggunakan batubara, dan pernah viral dalam tayangan dokumenter Sexy Killers yang rilis tepat beberapa hari sebelum kontestasi Pemilu 2019 sebagai salah satu bukti berkuasanya oligarki di Indonesia. Asumsi saya, PLTU Batang dibangun juga menunjang industrialisasi di Jawa Tengah dan DIY. Ya, setelah adanya Bandara YIA, KSPN Borobudur, Kawasan Industri Sedayu dan Sentolo, Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah akan menjadi pemasok buruh murah yang jarang protes walau diupah UMR rendah. Begitulah.




Perjalanan menuju Semarang kembali dilanjutkan. Kali ini Pak Supri benar-benar memaksa kami berempat ada di ruang kemudi. Sepeda kami diikatkan kencang oleh beliau sehingga Jarpo, Riko, dan Bang Pepe tidak bisa beralasan 'menjaga sepeda' lagi. Dan benar, kami berlima akhirnya memenuhi ruang kabin, dan tampak canggung sepanjang perjalanan.

Pak Supri berbincang dengan Riko dan Bang Pepe

Di tengah perjalanan, saya mendapat notifikasi pekerjaan. Segera saya buka laptop yang kebetulan sudah diisi daya penuh dengan tethering dari ponsel lawas Jarpo. Laptopnya sih aman karena bisa sampai 3 jam penggunaan, saya cuma takut ponsel ini mendadak mati karena konfiguasi baterainya removeable.

Tugas selesai. Ponsel masuk mode pesawat, laptop masuk mode tidur. Bersamaan dengan masuknya kami di kawasan Alas Roban, saya tertidur meski dalam posisi tidak nyaman dengan Jarpo berhadapan.

Halo Semarang

Santap siang kami berada di Warung Makan Kopi Yaya, tepat beberapa kilometer sebelum memasuki Semarang. Ada berbagai makanan olahan laut di sini, saya asal tunjuk menu saja yang pasti akan saya santap habis. Kenyang, kami kembali masuk ke truk.

Etape terakhir sebelum sampai di Kaligawe, Semarang, saya jadi merasa gamang dan pekiewuh (enggak enakan) dengan Pak Supri. Ya meski di awal-awal perjalanan beliau terlihat dingin, tapi beliau tetap memperhatikan kami sewaktu hujan, juga mengkhawatirkan kami selama menumpang di bak belakang. Dan saya pun jadi merasa kasihan kalau sebenarnya beliau meminta kami duduk di ruang kemudi agar punya teman bicara. Walaupun bagi para supir ekspedisi berkendara sendiri sanadjan wis kulino (sudah biasa), tapi teman bicara tetap perlu untuk membunuh waktu.

Saya tetap membawa pekerjaan kemanapun saya pergi

Truk memasuki Kota Semarang. Reparasi jembatan Kalibanteng membuat Pak Supri terpaksa masuk lewat tol Krapyak - Kaligawe supaya lekas tiba di rumah. Tiba di Kaligawe, kami menurunkan sepeda, tak lupa memberikan cinderamata sederhana untuk beliau berupa masker, stiker, hingga beberapa media propaganda kami. Sewaktu akan diberi minuman, beliau menolak. Tulus sekali.

Kami berpisah. Truk segera berlalu menuju ke timur. Kami dengan sepeda besi ini menuju barat ke arah Kota Tua. Di sana, sudah ada penginapan yang dibantu-sewakan oleh sahabat karib Jarpo di Jogja, (Ardan) Kiting. Kami check-in dan segera istirahat. Meski hari ini perjalanan didominasi ngompreng truk, tapi tetap terasa cukup melelahkan. Saya segera selesaikan kerjaan kantor dan buat laporan progres harian di Slack.

Menurunkan sepeda kami di Kaligawe, Kota Semarang

Malam tiba, beberapa tamu datang. Bude saya memberi martabak terenak di Semarang. Tak lupa saya ucap maturnuwun meski tampaknya martabak ini hanya akan teronggok di meja sudut kamar. Ya, malam ini saya akan tidur lebih awal.


Hari kemarin benar-benar menguras emosi meski kami hanya duduk-duduk di bak dan kabin truk. Dan pagi ini, kami berempat berencana mengeksplorasi Kota Tua Semarang sembari menunggu salah satu rekan sepeda tinggi sekaligus penggagas gerakan Jogja Garuk Sampah (saat ini disebut 'Garuk Sampah' saja). Iya, dialah Willian Soemitrodihardjo, "Wis budhal kit esuk jare seko Blora. Paling wis tekan Demak."

Sarapan pagi ini kembali dibayari Jarpo. Kami datang ke kedai Soto Ayam Pak Nasiri di Jln. K.H. Wahid Hasyim. Kedai tenda ini menjual soto dalam mangkuk kecil ciamik, soto bening. Ada beragam topping dari perkedel hingga tempe goreng yang bisa jadi lauk pendamping soto.

Soto bening di Semarang

Saya berpose di salah satu bangunan di Kota Tua

Kawasan Kota Tua Semarang akan lebih ideal dengan kabel jaringan yang ditanam

Riko berpose di salah satu sudut Kota Tua

Kawasan Kota Tua terus menerus dipercantik meskipun kenyataannya krisis iklim akan membuatnya tenggelam

Berfoto, merekam momen

Selama sarapan, tentu penjual terus bertanya-tanya soal perjalanan kami. Tentu saja ketiga sepeda tinggi yang tersandar pada pintu ruko itu menarik perhatian serta memancing pertanyaan. "Iya sekarang kami kembali ke Jogja bu. Kalau berangkatnya kemarin lewat Purwokerto," terang Jarpo dengan logat Jawa ngapaknya yang masih jelas terdengar.

Selesai santap sarapan, kami menjelajahi area Kota Tua. Bulan Juli adalah puncak musim kemarau, masih pagi namun hawa gerah sudah mulai terasa. Saya mengabadikan momen di Semarang dengan hape Jarpo, alat dokumentasi terbaik yang kami miliki saat ini. Jepret, jepret. Kami bergantian.

Tak lama Bang Willy berkabar kalau Ia sudah tiba di Achterhuis Guesthouse. Kami bergegas, waktunya checkout.


"Awak dhewe mubengi kota sikek, njuk nyegat truk ning Kaligawe (Kita muterin kota dulu, habis itu nyegat truk di Kaligawe)," tutur Bang Willy dengan logat khas daerah plat K nan kental.

Barang bawaan sudah dicek. Kunci kamar sudah dikembalikan. Ikatan tali sudah dikencangkan. Rantai si Kromo sudah disesuaikan. Berangkat!

Mempersiapkan trailer sepeda milik Bang Willy

Persiapan keberangkatan meninggalkan penginapan

Si Kromo makin berkarat di Semarang

Saya berencana mengecat si Kromo meskipun dalam kondisi krisis keuangan

Sepeda Tinggi Yogyakarta di Kota Tua Semarang - 2

Sepeda Tinggi Yogyakarta di Kota Tua Semarang - 3

Pose terakhir sebelum meninggalkan Kota Tua

Dari Kota Tua, kami menyusuri jalan ke arah Simpang Lima melewati Jln. Pemuda, berbelok ke Jln. MH. Thamrin hingga Simpang Pandanaran, lalu berbelok ke kiri lagi untuk menuju alun-alun ikonik di Kota Semarang ini. Cuaca memang makin terik, namun saya kian bersemangat untuk menjelajahi Semarang. Kami hanya berfoto di plang nama Simpang Lima lalu lanjut gowes ke Tugu Muda. Saya menyadari kalau sedari tadi kami bersepeda, tidak ada jalur sepeda sama sekali di kota ini. Iya, tidak ada sama sekali. Sebagai kota terbesar kelima di Indonesia seharusnya Semarang tetap menyediakan jalur sepeda, toh jalan arteri di kota ini terlampau lebar dan cenderung steril dari parkir ketimbang Jogja.

Jalanan utama di Kota Semarang relatif lebar namun tidak memiliki jalur sepeda

Meninggalkan Kota Tua

Berpose di depan papan nama Simpang Lima

Menjadi pusat perhatian di Semarang

Kota Semarang sama sekali tidak punya jalur pesepeda meski Gubernur-nya gemar bersepeda

Saranghaeyoo dari Jarpo



Tiba di Tugu Muda, kami menikmati sejenak ikon kota ini. Sembari memotret sepeda, ada tiga anak-anak bertelanjang bulat yang sedang melepas gerah mereka dengan berenang di kolam air mancur Tugu Muda. Mereka bahkan beberapa kali lakukan backflip di kolam super cetek ini sembari menangkap lemparan koin dari Jarpo. Seolah tak peduli pandangan prihatin orang dewasa, mereka mengaku datang dari bukit di sisi tenggara. 'Oh kampung pelangi,' batin saya. Maklum bagi anak seusia ini berenang di kolam tengah taman. Banyak kota-kota di Indonesia tidak lagi ramah anak karena memaksimalkan keuntungan dari kapitalisasi modal atas tanah sehingga menyingkirkan taman sebagai fasilitas rekreasi anak. Termasuk di Semarang.

Meski panas, kami puas

Bang Willy melakukan test ride sepeda tinggi milik Jarpo



Berpose dengan latar Lawang Sewu



Berpose di depan gerbang masuk Sam Poo Kong

Puas berfoto di Tugu Muda, kami lanjutkan bersepeda ke Sam Poo Kong. Kelenteng ikonik di Semarang ini menjadi salah satu simbol keberagaman masyarakat Kota Semarang. Sayangnya kelenteng ditutup karena pandemi sehingga kami hanya bisa berpose di depan gerbangnya saja, Selesai, waktunya kami jalankan misi terakhir: mencari tumpangan ke arah selatan. Tentu kami hanya bisa melakukannya di Kaligawe, daerah industri yang ramai dilalui truk.

Semarang - Magelang

Saya sebenarnya sedikit malas untuk duduk di kabin (lagi). Kalau tidak diminta teman-teman saya untuk menemani sang supir, mungkin saya memilih rebahan dengan menghadap langit. Kali ini kami menumpang pada truk pasir pelat H. Namanya Mas Priyo, beliau biasa mengambil pasir di depo-depo yang ada di Magelang timur atau Sleman. Hari ini adalah kali ketiga Ia mengambil pasir untuk disetorkan pada pembeli perseorangan, atau pemilik toko material di kawasan Semarang. Karena masih muda, saya rasa obrolan kali ini akan sedikit renyah.

"Begitulah mas, dari awal pandemi sampai sekarang keluarga saya belum dapat bantuan sama sekali. Dikorupsi po ya?" keluh Mas Pri. Indikasi korupsi mungkin ada aja, apalagi semasa pandemi Pemerintah Pusat berjanji akan ikut membantu masyarakat dengan anggaran jor-joran triliunan. Namun apabila korupsi menyangkut bantuan sosial, tampaknya akan sangat keterlaluan.

Sepanjang perjalanan, saya bunuh waktu dengan ngobrol soal masalah sosial dengan Mas Pri. Penting bagi saya untuk tahu kehidupan sebagai keluarga muda, perspektif Ia terhadap persoalan negara dan regional, juga mengenai krisis iklim. Beliau paham pemanasan global, namun masih awam untuk istilah krisis iklim, dan tertarik untuk membahasnya.

Menumpang pada truk pasir untuk etape Semarang - Magelang



Menikmati pemandangan sore di Jalan Lingkar Ambarawa



Tak terasa, dua jam perjalanan melintas perbukitan Ungaran - Bawen hingga Pringsurat usai. Kami tiba di Payaman. Segera kami turunkan sepeda dan berterimakasih pada Mas Pri yang mau ditumpangi. Kami berpisah, dan sore ini waktunya istirahat sejenak sembari santap malam di rumah saya.


Beberapa tetangga rumah mengerumuni rumah saya. Bukan karena kepulangan anak laki-laki tertua dari tiga bersaudara, namun lagi-lagi sepeda tinggi jadi primadona. Satu per satu, Riko, Bang Willy, Bang Pepe, dan Jarpo bergantian mandi dengan dinginnya air Magelang. Santap malam yang sudah saya minta ibu untuk persiapkan juga habis dilahap. Energi penuh, kami lanjut pulang ke Jogja.

Berpose di depan kelenteng Liong Hok Bio, Kota Magelang


Foto terakhir sebelum akhirnya isolasi diri

Dari Magelang ke Jogja, jalanan dominan menurun dengan sedikit tanjakan di Blabak. Kami santai, namun saya tetap jadi yang tercepat. Jalan Nasional 14 alias Jln. Magelang dengan titik nol di Kota Jogja memang lebar sehingga menyisakan sedikit ruang untuk pesepeda di sebelah kiri. Posisi jalur sepeda yang di luar lajur cepat membuat perjalanan relatif aman dari kecelakaan lalu lintas.

Melewati gerbang Tapal Batas Jawa Tengah, tak terasa kayuhan saya makin cepat. Satu hal yang ada di benak, ingin segera tiba di kosan, mandi, dan tidur pulas. Di belakang, rupanya keempat sepeda tinggi tertinggal cukup jauh. Saya tunggu sejenak supaya bisa finis di gerbang masuk Kota Jogja bersamaan.

Kami pun berpisah di SPBU Jetis.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  1. Untuk menyisipkan sebuah kode gunakan <i rel="pre">code_here</i>
  2. Untuk menyisipkan sebuah quote gunakan <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.