Yogyakarta-based designer. Someone who passionate with community dynamics, socio-environment talks, and more.

Membangun Toto Kromo

Kromo—nama sepeda saya, dibangun disaat krisis Covid-19 berlangsung. Tentu saja disaat saya sedang mengalami krisis keuangan.
Si Kromo di Jembatan Layang Janti

Sudah sangat lama saya tidak menulis lanjutan soal bagaimana saya membangun si Kromo—panggilan sepeda saya. Sepeda yang dulu dibangun di awal-awal pandemi, lalu tetap saya usahakan selesai meski sedang krisis keuangan medio Juli - Agustus, hingga saya ajak bertualang antar kota antar propinsi dan akhirnya bisa mejeng di pelataran Velodrome Rawamangun yang saya anggap sebagai ibukota pesepeda (balap) Indonesia. Banyak momen tak terlupakan bersama sepeda rakitan ini.

Saat pos ini ditulis, Kromo hanya teronggok di sudut kamar kosan saya. Musim hujan yang intens serta gear sepeda yang belum diperbaiki membuat saya benar-benar malas untuk mengayuh pedal. Toh lagipula target 2020 km bersepeda di tahun 2020 saya sebagai penutup dekade sudah tuntas dilakukan, tentu berkat ekspedisi Tour De Java di pertengahan Juli kemarin. Beberapa kawan saya tentu kesal kenapa saya tidak lagi bergowes ria menjelajahi Jogja. Kesannya, saya seperti tidak menerapkan kultur 'Sego Segawe' (Sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe) yang sudah turun-temurun diturunkan dari generasi ke generasi masyarakat sini. Beberapa komponen sepeda seperti freehub dan gear belakang tampaknya perlu diganti. Konfigurasi shifter sepeda saya 3x9 kecepatan sehingga rantai seringkali 'melompat' karena gear-nya masih 8 kecepatan. Dan untuk mengganti gear, saya perlu mengganti hub supaya bisa dipasang konfigurasi yang sesuai. Tentu berbiaya. Jadi, tunda saja semua rencana bersepeda hingga memasuki 2021.

***

Awal Mula - MEI 2020

Sepeda yang langsung membuat saya jatuh hati

Saya tiba di kamar Alvin, kembali dengan topik obrolan yang sama: rencana beli sepeda. Pandemi membuat jalanan Jogja sangat sepi karena ekonomi setempat juga terpuurk karena bergantung pada sektor yang mengandalkan pendatang. Momen ini jadi keseruan tersendiri bagi saya untuk bersepeda keliling kota hingga pinggiran Jogja. Di kosan Alvin, berulang kali saya meminta pendapatnya soal sepeda yang saya bangun. Ini semua gara-gara kawan Magnet datang ke Museum Kereta dengan sepeda fixed gear-nya yang menurut saya terlampau seksi. Rangka balap jadul itu pun pernah coba saya tawar untuk beli seharga Rp. 2,5 juta. Namun apadaya, proses instan itu tidak terkabul karena sang empunya membangun sepeda ini dengan penuh perjuangan, satu per satu tahapan menggunakan tabungan yang tersedia. Okelah.

Sepulang dari Museum Kereta, bayangan sepeda merah itu terus terbesit dalam benak saya. Berulang kali saya menjelajahi internet untuk menemukan sepeda yang mirip secara model. Ketemu! London Taxi Bike CRMO 700c sedang didiskon dari harga 7 menjadi 5 juta saja. Hanya gara-gara sepeda bernuansa balap jadul ini, saya pun alami gangguan tidur. Lucu aja depresi gara-gara pengen punya sepeda. 😂

London Taxi Bike Crmo 700c yang dijual di Bukalapak

Awal mulanya, saya melihat promo sepeda ini di Bukalapak. Karena tentu pengiriman sepeda ini dari Jakarta akan kena ongkos kirim ekstra karena menggunakan kargo, saya putuskan untuk mencari gerai cabangnya di Jogja. Ada! Salah satu ruang di Hartono Mall Sleman rupanya menjadi showroom bagi sepeda bernuansa kota London ini.

"Mas, untuk sepeda CRMO 700c ada nggak mas?" tanya saya pada pramuniaga itu. Dengan sekejap Ia menunjukkan servis terbaiknya. Di gerai ini saya bisa lihat langsung bagaimana LTB Crmo 700c itu. Dari segi fisik, sangat menarik. Bentuk bingkainya sangat sesuai keinginan saya. Bahannya yang chromoly membuat bobot sepeda ini sangat ringan. Warna catnya yang hijau benar-benar memikat saya. Bahkan apabila jadi membeli sepeda ini, saya akan mengganti gaya berpakaian saya supaya cocok dengan sepeda mode lawas ini.

'Oh ya mas, kalau masnya beli di sini selama periode promo, harganya cuma Rp. 5 juta saja,' terang sang pramuniaga. Tentu ini tawaran menarik, harga masih lebih turun sedikit daripada yang dijual daring, dan bebas ongkir. Saya hanya cukup membawa pulang sepeda ini ke kosan saya di Pogung. Sayang sekali, saya belum punya uang untuk bisa membeli sepeda ini. Jadi saya bertingkah seolah-olah akan membeli si sepeda supaya tidak terlihat memalukan di depan pramuniaga, "Oke mas, makasih infonya. Saya pertimbangkan dulu, kalau misal jadi saya ambil paling nanti atau besok saya balik lagi."

Dan tentu, saya tidak pernah kembali lagi ke gerai itu.

Mengunjungi gerai LTB di Hartono Mall untuk melihat kondisi asli sepeda

***

"Pengen banget gue Vin beli, tapi apadaya tabungan gue belum cukup. Bulan ini aja duit gue kepake kemana-mana," keluh saya pada Alvin yang notabene seorang mahasiswa. Ia juga punya keinginan yang saya untuk punya sepeda baru, jenis MTB supaya bisa eksplorasi medan terjal seperti sekitaran Merapi.

Berhari-hari, bayangan meminang sepeda baru terus-menerus terbesit dalam benak saya. Di kantor, di kosan, di kampus, tempat makan. Berulang kali Samsung A70 saya menampilkan gambar-gambar sepeda balap jadul. Bahkan foto sepeda merah kala itu saya jadikan wallpaper ponsel saya. Well, sepertinya saya harus ubah strategi untuk bisa punya sepeda sendiri.

Awal Perburuan Komponen - Mei 2020

Saya berulang kali datang ke Museum Kereta. Di sana, ada Habib yang hampir setiap harinya sibuk memperbaiki sepeda tetangga, teman, dan kerabat dekatnya. Maklum, bulan keempat pandemi sepertinya bersepeda akan jadi tren sesaat mengingat orang-orang bosan di rumah, ada batasan keluar, padahal cuaca cerah. Setiap datang, saya perhatikan bagian demi bagian sepeda yang diperbaiki Habib. Tak jarang juga saya ikut merusuhi kerjaan Habib dengan pertanyaan yang tidak-tidak: umumnya buat tahu menahu soal komponen sepeda. 😅 Maklum, saya hanya orang awam, sedang Habib memang dari SMK otomotif sehingga paham betul persoalan sepeda dan sepeda motor.

Komponen-komponen dalam sepeda jadul, mungkin ada perbedaan istilah

Di sela-sela waktu luang, saya bergabung ke grup-grup Facebook, khususnya grup sepeda jadul. Banyak sekali referensi sepeda yang ingin saya bangun. Satu per satu foto sepeda yang masuk selera saya simpan ke galeri. Tak lupa saya juga menanyakan ke Habib komponen apa dan seperti apa yang harus ada di rangka sepeda balap jadul sembari membuat daftar belanja. Daftar belanja jadi, waktunya perburuan dimulai!

Seiring dengan meningkatnya tren bersepeda, banyak sekali komponen yang sulit dicari. Toko daring maupun luring kehabisan stok. Dari toko besar hingga yang kecil di penjuru kota, tidak banyak stok tersedia. Misal ada, mungkin tidak cocok dengan sepeda yang saya bangun. 

Satu per satu komponen dibeli. Pertama, ban. Berhubung hampir semua orang tahu saya akan membangun sepeda yang serupa LTB, Bekti membantu mencarikan saya komponen sepeda. Dapat! Dia menemukan seorang pelapak di Facebook Marketplace, membantu saya nego harga sehingga dengan Rp. 500rb saja, saya dapat banyak item.

Karena masih awam soal sepeda, berulang kali saya tanya ke Bekti apakah komponen yang dijual ybs. sesuai keinginan saya. Saya juga menegaskan apakah ini orang betulan jualan atau hanya penipu karena saking banyaknya item yang bisa saya dapat (modus penipuan di Facebook biasa begitu). Bekti verifikasi lagi latar belakang penjual, mencoba akrab dengan penjual. Akhirnya deal, saya ambil sepasang roda LTB, v-brake, reflektor, dan stang (aluminium) seharga Rp. 500rb dengan COD di sekitaran Tugu. Dengan metode COD ini saya bisa lihat barang yang ditawarkan sehingga... seharusnya tidak tertipu.

***

Saya masih saja sibuk mencari komponen lain. Maklum, harga barang semakin tinggi ketika saya juga ingin segera menyelesaikan sepeda ini, ya walau modal masih belum cukup untuk menyelesaikan semuanya secara instan. Kembali saya buka aplikasi jual-beli dari Bukalapak, Tokopedia, Blibli, hingga Shopee. Perburuan berikutnya adalah komponen dasar utama sebuah sepeda, dan seharusnya item ini yang dibeli pertama kali: frame/rangka. Lagi-lagi saya habiskan sela-sela waktu istirahat kerja, hingga waktu obrolan di tongkrongan untuk mencari rangka yang tepat dan cocok dengan ban yang saya beli. Dapat! Seorang pelapak menjualnya di Bukalapak lebih hemat Rp. 150ribu dari harga awal Rp. 350ribu. Rangka ini konon katanya berbahan chromoly, namun diambil dari sepeda balap jadul sehingga tidak sekinclong besi baru. Di ruang obrolan, saya meminta pelapak untuk mengirim beberapa foto supaya meyakinkan, meskipun permintaan lewat tengah malam. Cara ini juga saya pakai guna memverifikasi apakah pelapak benar-benar menjual rangka, bukan gambar belaka. Apalagi setelah saya cek profil lapaknya, pelapak adalah penjual komponen elektronik. Sebelumnya membeli di Bukalapak, saya juga sisir forum jual beli di Facebook, siapa tahu ada sepeda utuh (full bike) yang dijual cukup murah, dengan spesifikasi cocok, sehingga saya beli untuk dipreteli dan sisakan rangkanya saja. Setelah menimbang selama berjam-jam, tampaknya tidak ada salahnya saya mengambil rangka iki. Toh kalau tidak puas bisa didempul, dan dicat sesuai keinginan.

Jepretan layar sebelum saya memustukan membeli rangka sepeda dari Malang ini

Deskripsi barang yang akan saya beli waktu itu

Paket tiba dalam tiga hari, tepatnya 27 Mei pukul 11 siang. Rangka sepeda datang dengan kondisi dibungkus bagor. Mungkin jadi salah satu paket paling nyusahin bagi kurir di hari itu. 😂

Tak sabar, segera saya bongkar paket. Penggunaan bagor memang menyusahkan. Saya harus membersihkan remah-remah kemasan. Terbuka, kondisi rangka masih cukup baik. Saya melihat ke setiap sudut rangka, tidak ada karat sama sekali, termasuk di bagian dalamnya. Di bagian sambungan, terdapat bercak kuningan. Kalau kata Habib, pengelasan dengan kuningan memang dipakai pada besi jenis chromoly. Okelah, berarti bukan penipuan juga. Ada sedikit lecek memang, khususnya di area dekat seatpost. Namun lecet itu bisa ditangani dengan dempul.

Paket datang dari Malang

Saya mencoba mencocokkan ukuran ban dengan rangka di kosan

Sepeda tiba. Berhubung saya hanya tinggal di kosan sempit 2,5 x 3 meter, saya putuskan untuk menitipkan rangka sepeda beserta suku cadang lainnya pada Habib. Setidaknya sepeda baru saya akan ambil ketika perakitan selesai.

Si Kromo bertengger di sudut MK Garage

Si Kromo dirakit oleh Habib setiap malam sepulang kerja

***

Krisis Komponen Melanda - Juni 2020

"Bib, crank tuku nandi yo? Aku mau wis cek ning Orion do entek-entekan (Bib, crank beli dimana ya? Tadi aku cek di Orion sudah pada habis)," keluh saya pada Habib yang tengah memperbaiki sepeda lain. Saya sudah kembali menganggarkan dana untuk pembelian komponen lagi, kali ini sebesar Rp. 700ribu. 

Berhubung terlanjur beli Shimano Altus, untuk set FD saya beli dari merek dan jenis yang sama

Kondisi Si Kromo di awal Juni 2020

Masih ada banyak bagian komponen yang belum lengkap. Sayang sekali, tingginya permintaan karena bersepeda mendadak jadi tren olahraga membuat komponen yang saya butuhkan hilang dari peredaran, baik di toko daring maupun luring. Sekalinya ada, harganya terlalu tinggi di pasaran. Harga yang tinggi ini juga berlaku pada RD set saya beli secara daring melalui Shopee dan diimpor secara langsung dari Shanghai, Tiongkok. Shimano Altus m370 Set Derailleur dari RD, FD, hingga shifter dihargai Rp. 796.860,- pada 25 Juni 2020. Di luar musim pandemi ini, harga set berkisar antara Rp. 500-700 ribuan.

Semua komponen sepeda kian langka. Sekalipun ada, harganya di luar jangkauan saya. Maklum, cuma buruh biasa di Jogja. Alhasil, saya urung untuk segera menuntaskan sepeda ini. 'Masih ada waktu,' batin saya.

Tur Sepeda Trans Jawa - Juli 2020

Minggu (5/7) sore, Jarpo menghubungi saya. Sebagai member MK Garage, Ia termasuk orang yang paling beda karena aktif mengawal kebijakan yang khususnya berdampak pada buruh. Mendadak, Ia mengajak saya untuk melakukan aksi bersepeda ke Jakarta untuk #TolakOmnibusLaw karena saya juga ikut mengawal isu tersebut, namun di bidang lingkungan. Saya sendiri sih ingin saja, karena beberapa bulan yang lalu juga sempat melepas rekan saya Yunias Robby yang pulang ke kampung halamannya di Kalimantan, sembari mengampanyekan #SaveMeratus dari Jogja ke Surabaya, menyeberang ke tanah Dayak sana.  Apalagi ajakan ini hanya akan datang sekali seumur hidup. Tentu saja akan jadi pengalaman paling tak terlupakan.

"Sik tak pikire sik Po (Sebentar, aku pikirkan dulu ya Po)," saya menunda jawab.

Esok harinya, saya bekerja seperti biasa. Berhubung saya kena kebijakan pemotongan jam kerja, semua pekerjaan segera saya selesaikan. Mendadak, ada undangan masuk. Sahabat saya sedari SMP, Rofi Muhammad Nur Al-Asad, akan melangsungkan pernikahan di Bandung pada hari Minggu (12/7). Selain syok karena saya masih jomblo sedang sahabat sendiri sudah 'laku', saya bingung. Pandemi masih berlangsung, saya tidak punya cukup uang untuk menyambangi pernikahan sahabat saya, bahkan saya sudah berencana untuk bekerja dari kampung halaman (temporer). Di sisi lain, ada ajakan menuju Jakarta.  

Setelah tiga jam memikirkan agenda ini secara matang, akhirnya saya putuskan...

"Oke Po, aku melu. Nanging syarate awak dhewe mangkat ora Jumat, dimajukke Kamis. Dino Minggu aku kudu mangkat menyang Bandung, rabine sobatku (Oke Po, gue ikut. Tapi syaratnya kita berangkat bukan Jumat, maju ke Kamis. Hari Minggu gue kudu berangkat ke Bandung, ada pernikahan sahabat)," terang gue sebagai prasyarat. Tentu saja Jarpo setuju. Dengan segera, saya beralih ke masalah lain: sepeda yang belum rampung.

Beruntung, semua komponen sepeda yang belum selesai sudah saya catat. Segera dua hari ini saya maksimalkan waktu untuk melengkapi bagian yang belum lengkap. Setelah terbeli, komponen saya setor ke Habib di MK. Sepeda saya masih nangkring di sana dengan komponen seadanya.

Kondisi Si Kromo, sebelum tepat esoknya dibawa ke Jakarta

Berburu komponen berarti berebut dengan orang lain. Dari Toko Cahaya di Condongcatur, saya segera beralih ke Toko Orion dan Toko Tepat di Jln. Brigjen Katamso. Di jalan ini memang sentranya komponen kendaraan. Banyak komponen yang kandas, sekalinya ada, harganya terlampau mahal. Setiap toko ramai. Saya pun hanya berharap sepeda ini bisa kelar sesuai ekspektasi sebelum keberangkatan pada Kamis (9/7) esok.

Berebut komponen sepeda di Toko Tepat

Kumpulan suku cadang yang berhasil saya kumpulkan dari hari ke hari

*** 

Saya sedang berada di Proyek Jenengan bersama Bekti, sebagai bagian dari Garuk Sampah. Sedang menikmati teduhnya hutan yang entah kapan akan ditebang habis oleh empunya mahal, tiba-tiba seseorang datang dengan sepeda yang tampak tak asing di mata saya. Ya, Habib sudah menyelesaikan si Kromo, tepat 24 jam sebelum keberangkatan perdana menuju Jakarta. Senang? Tentu, dan tak terbendung lagi rasanya ketika melihat rangka tua ini jadi sepeda ketika disatukan dengan komponen lain. "Tak jajal sik bolak-balik MK. Ngko bengi isih ditambahi keranjang barang (Aku coba dulu bolak-balik MK. Nanti malam masih akan ditambahi keranjang)," terang Habib. Okelah.

Test ride sebelum Si Kromo dibawa gowes ke Jakarta
Dua hari jelang keberangkatan, masih banyak perintilan yang belum lengkap

Bang Pepe dan Habib mengecek kesiapan sepeda saya

Dan akhirnya, sepeda saya pun selesai dirakit. Supaya mudah diingat, saya menyebutnya Si Kromo. Nama ini tidak lepas dari rangka utamanya yang berbahan chromoly. Ekspedisi bersepeda menuju Jakarta pun dimulai.

Penyelesaian - Agustus 2020

Karantina diri benar-benar membuat saya bosan. Satu hal yang ingin segera saya lakukan adalah menyelesaikan pengecatan si Kromo. Ya, Ia menjadi sangat berkarat akibat belum di-clear sebelum keberangkatan menuju Jakarta. Namun tak masalah, toh saya juga ingin mengganti warnanya. 

Masa isolasi diri selesai, dari Magelang saya turun ke Jogja. Si Kromo saya antar ke MK Kustom, dan untuk urusan pengecatan, Arfian akan mengatasinya. Sebagai kru MK Kustom, keahliannya memang di pengecatan. Ia punya alat semprot, dan bisa mixing warna cat dari jenis berbeda.

Selesai dicat dan dirakit ulang, Si Kromo saya bawa keliling kota

"Pilih sing endi Jo (Pilih yang mana Jo)?" tanya Arfian lewat japri.

"Pengene yo diwarnai serupa karo warna Museum Kereta Karaton (Inginnya ya dicat kayak Museum Kereta Keraton)," pemilihan warna hijau tua gelap ini sengaja supaya mencorakkan bahwa sepeda ini lahir, dirakit di MK Garage, ya meski tidak kustom penuh laiknya sepeda tinggi. Warna hijau juga saya pilih karena merepresentasikan Jogja. Entah mengapa warna hijau tua sering digunakan dalam branding kota ini, dari tiang lampu hingga APILL dan pagar Keraton.

Jadi, Berapa Ongkos Membangun Toko Kromo?

Bagian yang paling banyak ditunggu rekan-rekan saya: berapa sih anggaran buat membangun si Kromo? Cukup banyak bagi orang yang tinggal di DIY seperti saya, namun relatif lebih murah daripada membeli LTB dengan spesifikasi standar. Berikut rinciannya:

NO. NAMA KOMPONEN HARGA
1. Roda, stang (flatbar), reflektor, u-brake (tidak terpakai), pedal (hibah untuk Bekti) Rp. 500.000,-
2. Rangka (chromoly), forkRp. 393.821,-
3. Crank Shimano Altus, bottom bracket, gear Shimano 8 speed Rp. 505.000,-
4. Shimano Altus set (FD, RD, brake, & shifter), impor dari TiongkokRp. 796.860,-
5. Clamp balap jadulRp. 48.263,-
6. Toko Sepeda Cahaya: kampas remRp. 30.000,-
7. Toko Sepeda Orion: stim, sekrup, dsb.Rp. 70.000,-
8. Toko Sepeda Orion: sadel, seatpost, pedalRp. 500.000,-
9. Toko Sepeda Cahaya: Kabel rem, kabel shifter, pelindung kabel, wadah botolRp. 185.000,-
10. Toko Sepeda Tepat: lampu LEDRp. 135.000,-
12. U-Brake BMX Rp. 150.000,-
13. Perakitan dan reparasi sepeda Rp. 300.000,-
14. Pengecatan sepeda Rp. 300.000,-
Total Biaya Rp. 3.913.944,-

Kalau dilihat dari kalkulasi biaya, bisa dibilang saya berhasil menghemat uang senilai Rp. 1.100.000,- daripada dengan membeli sepeda langsung rakitan pabrikan. Angkanya mungkin terlihat besar, apalagi di tengah pandemi ini. Namun angka tersebut akan berputar guna menggerakkan kembali ekonomi yang sedang lesu dan melambat, walau tidak seberapa.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  1. Untuk menyisipkan sebuah kode gunakan <i rel="pre">code_here</i>
  2. Untuk menyisipkan sebuah quote gunakan <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.