Yogyakarta-based designer. Someone who passionate with community dynamics, socio-environment talks, and more.

Etape 15: Menentang Bukit Bintang

Hampir saja saya tewas karena kehabisan nafas.

'Aku wis tekan Ketandan (Saya sudah tiba di Ketandan),' pesan terkirim dan dengan segera dua centang itu berganti biru. Habib melesat dari arah barat, menghampiri saya yang belum genap 5 menit menanti.

Hari Jumat ini saya libur. Tentu saja karena tanggal merah Jumat Agung (2/4) meskipun di kalender tetap berwarna hijau. Berterimakasihlah saya pada umat Nasrani karena bisa bebas berkelana dengan sepeda ketimbang duduk kaku dengan pekerjaan yang jarang diapresiasi.

Rencana hari ini kami berdua akan mengitari ujung barat 'Jogja Lantai Dua'. Bersepeda dimulai dari tempat tinggal kami masing-masing dan bertemu di Simpang Ketandan. Dari sini sepeda dilanjutkan mengikuti Jln. Wonosari, menanjak di Bukit Bintang, berbelok ke arah Heha Sky View, istirahat sejenak di Hutan Pinus Pengger, lalu turun di Mangunan ke arah Imogiri. Dengan rute sepanjang ini, kemungkinan kami berdua akan selesai bersepeda di sore hari. Okelah. Ini rute kali keenam saya melalui jalan menanjak, serta kali pertama untuk subkategori menanjak curam.

Meski sudah pukul 7 pagi, di kejauhan selimut kabut masih terlihat di pinggiran tebing Pegunungan Sewu. Wilayah Kabupaten Gunungkidul mendapat julukan 'lantai duanya Jogja' karena memang seluruh datarannya berbukit-bukit. Topografi yang bersanding dengan batas administratif ini menjadi unik, meskipun faktanya Dlingo yang notabene masuk administrasi Kabupaten Bantul juga terletak di 'lantai dua'.

Dari Condongcatur, saya bergegas menuju Ketandan

Melalui ruang terluar marka jalan adalah opsi teraman gowes melalui Jalan Nasional

Selimut kabut masih terlihat meski sudah pukul 0730

Di perjalanan, beberapa kali kami berpapasan dengan pesepeda lain. Umumnya mereka mengendarai sepeda jenis gunung, khas dengan jersey klub mereka. Ada pula orang-orang yang gowes searah dengan kami, menggunakan sisa ruang terluar dari garis marka jalan. Mereka mengayuh pelan sebagaimana dengan kami. Tak lama, kami tiba di Pertigaan Piyungan.

Arus lalu lintas menuju Gunungkidul rupanya lebih padat dari Jln. Piyungan - Prambanan. Pantas saja daritadi kami mengayuh pedal, Jln. Wonosari terlihat lebih lowong. Kebanyakan wisatawan yang melancong ke Jogja umumnya dapat bersama rekan-rekan sehingga mobil tentu menjadi moda utama mereka. Dan supaya tiba dengan cepat di Jogja, jalan tol jadi opsi utama dengan pintu keluar di GT Boyolali.

Tanpa banyak pikir, setelah melewati Pertigaan Piyungan, kami langsung kayuh pedal dengan kecepatan tinggi. Puluhan mobil, motor, konvoi kendaraan, truk, hingga bus mengantre di tanjakan. Habib yang di depan terhambat oleh truk besar dengan muatannya. Beberapa motor membunyikan klakson di belakang—menganggap sepeda bak hama jalanan yang pantas disingkirkan.

Berhenti sementara, mempersilakan kendaraan bermotor lewat

Tiba-tiba Habib berhenti.

"Ngopo e (Kenapa dah)?"

"Kebule solar marai raiso ambeghan (Asap truknya bikin sulit bernapas)," jawabnya. Kami menunggu truk dan antrean kendaraan ini segera terurai. Di beberapa bagian tanjakan ini memang ada perubahan lebar jalan yang semula 1 lajur menjadi 2 dan 1 lajur.

Tiga menit berselang, kami kembali menanjak.

Berulang kali saya mengoper gigi depan dan belakang supaya menanjak kembali ringan. Namun yang penting dalam bersepeda sebagai olahraga kardio adalah latihan pernapasan. Saya masih gagal di sini.

Mi Watch saya berulang kali bergetar, menandakan bahwa zona detak jantung saya sudah masih pada rentang ekstrem (VO2 maks). Jalanan menanjak ekstrem. Dalam sepersekian detik saya ubah ke gigi ringan dan segera kayuh sepeda sekuat tenaga. Di depan, Habib sudah melesat jauh dengan sepeda Wim Cycle-nya. Ada truk berhenti karena mogok menjadi penghalang, saya ambil kanan dan diklakson mobil dari belakang. Tiba-tiba sekujur tubuh saya terasa kesemutan. Saya ambil memilih berhenti sementara.

Ketimbang tewas di jalan, saya memilih berhenti sementara

Tempat saya rehat sejenak

Mi Watch terus bergetar memperingatkan bahwa detak jantung saya sangat tinggi. Namun yang saya rasakan saat ini adalah pandangan kabur. Ya, kabur. Bagaikan foto menghadap sumber cahaya, semua pandangan saya memutih, pusing, dan nafas sangat susah. Itu pun masih tersengal-sengal. Kaki saya gemetaran. Dengan tertatih-tatih, saya memindahkan si Kromo ke depan pagar sebuah rumah.  Saya sudah di titik akhir hampir kehilangan kesadaran. Sebenarnya saya hanya ingin rebahan sampai pusing ini mereda. Namun terkapar di pinggir jalan akan memancing para pengguna jalan untuk mendekati saya.

Bersandar pada pagar rumah, saya memejamkan mata. Bukan hanya karena hampir kehilangan kesadaran, atau mati karena kehabisan nafas. Telinga saya hampir tak dapat mendengar apapun. Awalnya suara melengking dengan desibel tinggi menggema di telinga, namun semua itu membuat pandangan buyar. Mulut menganga, terasa hampir muntah. Rasa-rasanya kerongkongan menjadi kering berdarah. Keringat yang mengucur basah di sekujur tubuh juga masuk mata. Sensasi perih terasa karena keringat apabila kering akan menjadi butiran garam.

Melalui WhatsApp, saya mengirimi Habib pesan, 'Rakuat aku, meh semaput (Nggak kuat gue, hampir pingsan).' Supaya Habib tidak mencari-cari saya saja dengan menuruni bukit lagi.

Sejenak saya teringat kasus orang tua yang meninggal dunia akibat bersepeda. Kasusnya ada di Kulon Progo. Pada kasus ini mungkin beliau lelah menanjak sembari mematuhi kewajiban memakai masker ketika di luar. Padahal pada saat bersepeda menanjak, tubuh aktif bergerak sehingga membutuhkan banyak sekali oksigen yang diedarkan melalui darah dari paru-paru. Apabila menggunakan masker, maka pernapasan menjadi tersengal-sengal sehingga oksigen tidak masuk dalam aliran darah. Naasnya orang tua tersebut mati lemas saat bersepeda karena terlalu taat dengan protokol kesehatan. 

Makanya ketika bersepeda, saya tidak gunakan masker.

Si Kromo adalah sepeda jenis performa (balap jadul)

***

Saya kembali lanjutkan gowes dengan gigi rendah. Habib masih setia menunggu saya di atas. Tentu saja Ia kuat bersepeda menanjak karena sedari kecil juga sudah hobi bersepeda. Bahkan kesehariannya belakangan ini adalah bersepeda dari rumah ke pabrik tempat Ia bekerja. 'Wis kulino' kalau kata orang Jawa.

Jalan kembali menanjak ekstrem (bagi saya). Di tikungan tajam, saya memutuskan untuk berhenti, mengalah pada kendaraan bermotor agar melintas terlebih dahulu. Dari belakang, beberapa pesepeda—ada yang sudah berkepala lima sepertinya, santai menanjak dengan tunggangan mereka. Umumnya sepeda gunung dengan —lagi-lagi— jersey komunitasnya. Saya meneguk air secukupnya, lalu mencoba naik ke atas.

Jalan menuju Bukit Bintang memiliki lebar jalan berbeda pada titik tertentu

Sebagai pengguna sepeda balap jadul, gowes berkecepatan rendah memang menyebalkan. Rasa-rasanya saya menentang takdir si Kromo yang notabene adalah sepeda performa.

Sudah tiga kali berhenti, barulah saya bertemu Habib yang asyik merekam saya kewalahan di tanjakan. Senyumnya merekah begitu tahu saya tidak lebih kuat daripada bapak paruh baya yang lewat sebelumnya. "Yo cetho aku rakuat wong isih pemula og (Ya jelas gue nggak kuat orang masih pemula gini)," sangkal saya menahan malu.

"Piye, meh tekan kene wae po (Gimana, mau berhenti di sini po)?" tawarnya.

Habib dan sepeda tua kepemilikan ayahnya

Tentu saja saya tidak akan menyerah begitu saja di titik ini. Kurang dari 1 kilometer lagi kami akan tiba di salah satu spot favorit wisatawan ketika menyambangi Jogja: Bukit Bintang. "Kali iki ning Bukit Bintang wae minimal (Kali ini minimal kita sampai di Bukit Bintang)," jawab saya mantap sembari mengencangkan helm.

Usai menenggak air minum tersisa, saya kembali menanjak, dan kali ini Habib mengekor di belakang. Gowes 600 meter, kami kembali berhenti. Maklum, banyaknya kendaraan bermotor lalu-lalang membuat nafas saya semakin pendek. Polusi udara, oh sial.

"Wislah Bib, batalke le ning Pengger. Rakuat aku (Sudahlah Bib, batalkan saja rencana ke Hutan Pinus Pengger. Udah nggak kuat gue)," keluh saya yang tentu saja direspon tertawa oleh Habib. Ia kembali meremehkan saya. Tak apalah, tentu ini konsekuensinya. Apadaya semangat tinggi tapi stamina tidak menyanggupi.

Habib berpose dengan latar lanskap urban Kartamantul

Tanjakan sepanjang 50 meter ini adalah satu-satunya titik pandang tersisa yang tidak terhalang bangunan ilegal yang bertengger pada dinding tebing

Si Kromo dan Wim Cycle

Kami tiba di Bukit Bintang, atau tepatnya di spot tanjakan miring tanpa halangan bangunan ilegal yang bertengger di tepi jurang. Di kejauhan, lanskap selebar 135° terhampar. Di sisi utara, Gunung Merapi tetap mesra meletus di samping Merbabu. Di depan, kawasan urban Kartamantul (Yogyakarta, Sleman, Bantul) kian berkembang pesat, bersama dengan masalahnya. Sedang di kiri, perbukitan terhampar indah. Kesemua lanskap ini masih dibalik oleh selimut kabut pagi. Saya menikmati momen ini untuk sementara, bersama Habib penuh gelak tawa, meskipun sangat bersusah payah untuk mencapai titik ini sebelumnya.

Gunung Merapi dan Sumbing terlihat di kejauhan berselimut awan

Gunung Wangi dan Piyungan dilihat dari Bukit Bintang

Pemandangan sisi selatan apabila dilihat dari Bukit Bintang

***

Sekujur tubuh saya mulai merasakan pegal. Sepertinya Sabtu (3/4) dan Minggu (4/4) esok adalah rest day. Benar saja di aplikasi Xiaomi Wear merekomendasikan saya memulihkan otot supaya tidak stres dalam 22 jam usai bersepeda.

Hari semakin siang, "Piye nek dhewe nyoto Bib? Tak traktir wis (Bagaimana kalau kita makan soto Bib? Gue traktir deh)."

Anda mungkin menyukai postingan ini

  1. Untuk menyisipkan sebuah kode gunakan <i rel="pre">code_here</i>
  2. Untuk menyisipkan sebuah quote gunakan <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.