Yogyakarta-based designer. Someone who passionate with community dynamics, socio-environment talks, and more.

Flagship, Katanya

Yang sebenarnya enggak flagship juga sih kenyataannya.
Tak terasa sudah 9 bulan saya menggunakan Vivo X50 Pro

Oke, jadi pos ini dibuat setelah kurang lebih sembilan bulan saya menggunakan ponsel terbaru saya: Vivo X50 Pro. Ponsel keluaran Juni 2020 ini tentu sudah beredar cukup lama di pasaran. Namun hingga detik ini, rasanya masih jarang saya melihat ponsel ini dimiliki orang lain selain saya, di Jogja khususnya. Setelah insiden rusaknya ponsel saat aksi bersepeda ke Jakarta pada Juli lalu, serta usaha untuk menghimpun dana, akhirnya saya bisa menggenggam ponsel yang harganya 2 kali lipat dari ponsel terdahulu, Samsung A70.

Pembelian

Beli dari laman resminya di Tokopedia, Vivo X50 Pro dihargai Rp. 9.999.000,- Harganya tentu terhitung mahal untuk kelas karyawan yang kerja dengan UMR Jogja. 😅

Pesan dari hari Jumat, 28 Agustus 2020, barang semahal ini hanya bisa dikirim menggunakan jasa kurir AnterAja dengan opsi pengiriman reguler. Diasumsikan bahwa pengiriman tercepat adalah 3 hari sejak hari permintaan penjemputan barang, berarti ponsel ini akan saya terima setidaknya pada hari Minggu, 30 Agustus 2020. Logika ini saya asumsikan pada kecepatan layanan same day (hari yang sama) dan next day (hari berikutnya). Oke, pembayaran lunas, saya tinggal perlu menunggu hingga barang yang sudah sangat saya butuhkan ini tiba.

Di hari berikutnya, saya terus-menerus mengecek nomor resi di situs AnterAja. Maklum, ini pembelian online dengan nilai terbesar saya untuk saat ini. 😅 Iseng-iseng saya pun mencari tahu soal asal-usul jasa kurir AnterAja yang masih sangat asing di telinga saya. Baru selesai mengetik kata 'AnterAja', saya terkejut karena banyak sekali ulasan negatif dan keluhan soal jasa ekspedisi ini, baik di Google Maps maupun Twitter. Kaget, saya menjadi sedikit cemas dan pasrah apabila kesialan yang dialami pelanggan lain akan saya alami juga. Apalagi ini produk teknologi yang tentu sangat riskan untuk digelapkan.

Ulasan Kantor Pusat AnterAja di Google Maps

Berulang kali saya mengecek sampai dimana pesanan saya diantar kurir dengan mengecek nomor resi berulang kali. Satu jam, bisa sampai 4-5 kali saya mengecek nomor resi di laman resmi AnterAja. Padahal namanya juga proses, tentu tidak perlu sesering itu mengecek barang.

Paket baru tiba pada hari Senin (31/8) sore. Tanpa ada telepon sama sekali, laporan di laman AnterAja menyatakan kalau ponsel saya diterima oleh ibu kos. Sial! Harusnya jangan dioper ke ibu kos.

Pada hari terakhir bulan Agustus ini saya memang benar-benar sibuk. Selain pindah tempat kerja sehingga harus mengembalikan aset kantor seperti kibor, tetikus, dan monitor, saya juga sudah bilang ke ibu kos kalau saya tidak lanjut ngekos di tempat beliau dengan alasan minim dana. Tapi di sisi lain, malah beli ponsel baru. 😂

Terpaksa saya pasang muka tembok begitu sampai kosan dan mengambil ponsel itu.

Dengan riang gembira, segera saya lakukan unboxing atau proses lepas kemasan di koridor kosan. Hanya ada saya sore itu. Dengan sebuah gunting, saya goreskan perlahan ujung mata gunting yang tajam itu untuk membuka plastik gelembung itu.

Paket penjualan Vivo X50 Pro (Sumber: Liputan6.com)



Sewaktu diterima, ternyata saya tetap mendapat bonus power bank Vivo. Di bawahnya ponsel dengan frame stainless steel berpunggung kaca gradasi abu-abu itu tampak memukau. Akhirnya setelah satu bulan lebih bertahan dengan ponsel cadangan rekan, saya bisa kembali 'hidup' dengan ponsel baru. Maklum, untuk aktivitas sehari-hari, lebih dari 70% kegiatan saya berkutat dengan ponsel, termasuk untuk urusan pekerjaan.

Ponsel dinyalakan, akun kembali dibuat sinkron, data-data yang tersimpan di awan dikembalikan.

Dalam paket pembelian, isi kotaknya terbilang lengkap. Ketika ponsel lain seperti iPhone 12 dan Xiaomi 11 meniadakan pengisi daya dalam paket penjualannya, Vivo X50 Pro tetap dilengkapi charger hingga headset gratis yang disertai konektor USB-C. 

Hati senang, namun kali ini saya akan rawat ponsel dengan penuh kehati-hatian. Apalagi belum lunas karena meminjam uang teman.

Trobel Pertama, dan Pelayanan Prima

Di hari keduabelas pasca pembelian, saya baru alami kendala pertama di ponsel ini. Tombol fisik ponsel, tepatnya tombol power keras ditekan. Karena mumpung masih belum 15 hari pasca penerimaan barang (atau lebih tepatnya IMEI terdeteksi aktif), saya putuskan untuk pergi ke Vivo Service Center Jogjakarta, tepatnya tak jauh dari Pojok Beteng Wetan.

Begitu tiba, segera saya keluarkan ponsel berwarna gradasi abu-abu ini. Dengan segera teknisi dan mbak-mbak CS membukakan jalur prioritas yang memang disediakan Vivo khusus para pengguna seri-X. Meski ada beberapa pelanggan lain, saya didahulukan oleh CS. Jalur antrean khusus ini bahkan sudah disiapkan dengan adanya penanda 'Seri X' di atas konter yang memberikan pelayanan khusus bagi pengguna ponsel premium ini. 😗

Pembelian tervalidasi. Akhirnya keputusannya sesuai dengan ketentuan dari Vivo, ponsel saya diganti unit. Selama masa penggantian, saya dipinjami ponsel cadangan yang tersedia, "Kami akan usahakan supaya unit ponsel untuk mas Johan segera cepat tiba untuk diganti. Apalagi mulai besok Senin, DKI Jakarta mengadakan PSBB. Jadi mohon maaf apabila terlambat ya mas." Saya mengangguk santai, toh asal unit pengganti tidak sama bermasalahnya dengan yang sekarang.

"Oke mbak. Kalo gitu saya balik kosan dulu ya mbak, mau ambil kardus dkk."

Untuk para pengguna seri X sebenarnya ada layanan jemput barang. Namun karena penjemputan tentu disesuaikan dengan ke-selo-an karyawan Vivo dan bisanya di malam hari, saya putuskan antar saja barangnya kembali ke Pusat Layanan Vivo. Kembalinya saya dengan boks lengkap tentu membuat para pelayan sedikit pekiewuh. Mereka terus-menerus berterima kasih dan meminta maaf karena membuat saya bolak-balik Jokteng Wetan - Condongcatur (iya, saya sudah pindah kosan). Saya sih santai, wong malah lumayan waktunya bisa buat nyari makan siang sekalian. 😅

Soal Desain...

Saya suka. Jujur saya suka. Bentuk layarnya yang melengkung membuat saya nyaman menggenggam ponsel ini. Apalagi layarnya sudah AMOLED sehingga menampilkan warna yang tajam dan kaya. Bagian belakangnya berbentuk kaca dengan kamera yang berbentuk kotak. Desain kameranya pun bagi saya es-te-tik. Sebagai penggemar objek persegi dengan lengkungan kecil, desain Vivo X50 Pro cocok dengan kepribadian saya.

Desain kamera boksy ala Vivo X50 Pro (Sumber: Bisnis.com)

Yang kurang dari ponsel ini sih di desain antarmuka sistem operasinya. Funtouch OS 11 menurut saya masih kurang bagus dan lengkap fiturnya. Bahkan bagi saya One UI dari Samsung masih lebih baik buat saya. Sayangnya sistem operasi itu tidak bisa dipasang di ponsel Vivo ini (ya iyalah). Dalam Funtouch OS pun tidak ada fitur kedaruratan yang bisa diaktifkan hanya dengan menekan tombol power (seperti di Samsung). Namun saat ini Vivo sedang mengembangkan Origin OS yang kabarnya akan menggantikan Funtouch OS. Semoga saja tidak hanya rumor belaka.

Origin OS baru ada di Tiongkok, sayangnya


Fotografi Profesional? Yakin?

Antara yakin dan tidak yakin. Sebelum beli produk, sudah jadi kebiasaan bagi saya untuk tanya sana-sini, termasuk mencari ulasan produk yang bersangkutan. Salah satu kanal YouTube favorit saya, Dhiarcom, mengulas kemampuan fotografi ponsel ini, satu setengah bulan sebelum pembelian. Bagaimana cara Om Dhiar memaksimalkan fitur X50 membuat saya kian tertarik untuk membeli, apalagi di Instagram pun sudah ada beberapa pengguna yang memanfaatkan fitur aplikasi kamera bawaan Vivo dan hasilnya luar biasa keren.

Hingga artikel ini dirilis, Vivo seri X50 Pro (yang plus sih, hehe) menempati peringkat keenam ponsel dengan kamera terbaik di Dunia. Dengan skor 131 versi Dxomark, Vivo ada di atas iPhone 12 Pro Max. Ini menandakan jika ponsel ini bisa dimaksimalkan penggunaannya sebagai salah satu kamera profesional meskipun tidak dapat menggantikan kemampuan kamera seutuhnya. 

Eksperimen melukis dengan cahaya yang saya belum menguasai tekniknya



Setidaknya saya baru benar-benar mencoba fotografi dengan Vivo, dua bulan setelah pembelian. Lebih tepatnya sejak saya membeli Mi Selfie Stick dari Xiaomi. Meski kemampuannya terbatas, tongsis sekaligus tripod ini cukup membantu saya dalam menghasilkan beberapa foto sederhana yang masih dalam eksperimen seperti light trail, juga eksperimen lain menggunakan cahanya. Bahkan untuk mengetes kemampuan kamera ini, saya sempatkan untuk pergi ke Hutan Pinus Pengger bersama kawan saya, Dimas, guna memotret pada malam hari. Ada beberapa mode kamera dari Malam, Potret, Foto (biasa), Pro yang bisa menghasilkan foto JPEG + RAW, video berselang waktu, video yang sayangnya belum Pro, mode olahraga, foto bintang, bulan super, hingga panorama. Sebagai pengguna awam yang belum bisa memaksimalkan fitur fotografi ponsel, hasil jepretan saya masih biasa saja. Tapi ponsel saya selalu aktif mengabadikan momen bersama kawan-kawan, sehingga tetap bisa dibilang produktif bermanfaat lah ya.

Mode Auto: Lanskap Gunung Merapi dari arah Selo, Boyolali

Mode Malam: Baik mode malam maupun otomatis, sama-sama dapat membuat foto lebih terang

Mode Pro: Dengan bantuan lensa penggelap (ND filter), menangkap light trail kendaraan yang lewat

Mode Auto HDR: Foto HDR mampu menangkap daerah terang dan gelap secara bersamaan

Mode Malam: Kemampuan fotografinya memang oke, bakat pemiliknya saja yang bobrok

Foto 0x zum

Foto 5x zum

Foto 30x zum

Foto 50x zum

Mode Auto: Efek kabur dalam mode foto biasa

Mode Potrait: Menangkap kharisma abang saya

Mode Potrait: Memotret ketampanan sahabat saya yang kini ada di ibukota

Oh ya, sebagai ponsel dengan gimbal mekanis pertama di Dunia (masih ada OIS-nya juga), ponsel ini bikin saya produktif ngonten video. Bagaimana tidak, gimbalnya membuat setiap hasil rekaman saya jauh lebih mulus, sehingga saya tidak perlu lagi bersusah payah menahan goncangan ketika merekamnya sambil bersepeda, atau merogoh kocek guna membeli gimbal.

765G, Tidak Ngebut dan Tidak Lambat

Baca: standar-standar saja. Nah bagian ini yang cukup saya sayangkan. Dengan harga 10 jutaan, Vivo X50 Pro tidak menghadirkan piranti keras terbaiknya. Ketika rilis, sebenarnya ada seri X50 Pro+ yang dibekali prosesor 865. Sayangnya untuk versi tertinggi ini, meski lebih mahal, tidak memiliki gimbal, juga tidak dipasarkan di Indonesia. Saya sih anggap saja mengapa seri X50 Pro hanya dibekali prosesor biasa karena ada paten teknologi gimbal, dan mahalnya ya di riset teknologi ini. Meski logika ini belum tentu nyambung, tapi saya juga tetap puas dengan performa prosesor Snapdragon 765G. Ia tetap optimal untuk bermain gim berat seperti CODM, maupun Genshin Impact, serta memproses kerja penyuntingan video dengan cepat. Terlebih lagi, prosesor ini sudah 5G-ready sehingga cukup menanti jaringan 5G tersedia di Indonesia saja dan pihak Vivo mengaktifkan fiturnya.

Ujicoba memainkan Genshin Impact dengan overclock masih relatif lancar

Semua permainan dapat menggunakan pengaturan maksimum


Jadi, Kesimpulannya...

Saya tetap puas dengan Vivo X50 Pro meskipun belum cukup untuk dibilang flagship. Meskipun secara kemampuan sudah cukup mumpuni untuk digunakan sebagai daily driver dan untuk produktivitas. Bagi saya, ponsel tidak hanya media komunikasi, tapi juga salah satu pusat aktivitas seperti transaksi, piranti mendesain dan sunting media, pencatat keuangan, hingga tempat membaca kitab suci. Fitur gimbal adalah yang paling favorit karena saya sudah membandingkan dengan ponsel yang hanya mengandalkan OIS, Vivo seri ini jelas lebih unggul.

Anda mungkin menyukai postingan ini

  1. Untuk menyisipkan sebuah kode gunakan <i rel="pre">code_here</i>
  2. Untuk menyisipkan sebuah quote gunakan <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.