Yogyakarta-based designer. Someone who passionate with community dynamics, socio-environment talks, and more.

Menyantap Bakmi Jawa Terenak di Jogja, Rupanya Ada di Mrican!

Setidaknya menjadi yang terenak selama eksplorasi kuliner saya saat ini, hingga artikel ini ditulis
Setelah mencoba datang sendiri, saya mengajak kawan saya agar ikut menikmati bakmi ini

Gerimis masih mengguyur wilayah Mrican begitu saya tiba di warung kecil dengan tempat duduk berderet mengikuti gang ini. Begitu sampai di Bakmi Jowo Wedangan Wonosari, hanya tersisa satu dari empat meja besar yang tiap-tiap meja diisi pasangan muda-mudi yang asik basa-basi sedari tadi. Motor-motor mereka terparkir menepi, merapat tembok sisi selatan—berseberangan dengan bangku-bangku yang tersedia. Sesekali warga setempat lewat, namun biasanya mereka memalingkan muka dari para pengunjung warung.

Meski baru pertama kali menyambangi warung ini, saya sudah siap memesan kudapan malam saya. Tiga puluh menit yang lalu saya memang sibuk menggulir satu demi satu warung makan sederhana yang biasanya justru menyajikan makanan enak meskipun kondisi tempatnya ala kadarnya. Saya biasa juluki tempat-tempat seperti ini sebagai 'hidden gems' di tengah belantara kota. Satu per satu ulasan saya baca, foto-foto makanan yang dikirim pengguna saya amati serta khayati untuk memantapkan pilihan. Memang sudah biasa saya membuang waktu berpuluh-puluh menit hanya untuk menentukan tempat makan. Meski harga bukan masalah, rasa bagi saya adalah komponen penting, sehingga komentar para warganet di Google Maps menjadi penuntun saya.

Tidak ada ruang parkir khusus, maka sepeda motor diparkirkan mepet tembok rumah seberang

Tidak banyak meja tersedia sehingga apabila sedang ramai, pengunjung lain tidak akan kebagian tempat, apalagi kalau hujan



Bapak-bapak paruh baya itu sudah siap dengan catatannya. Ia mencatat pesanan dengan rinci, meskipun coretannya sendiri tidak beraturan. Di sebelahnya—mungkin istri atau ibunya—masih sibuk menggoyang wajan supaya bumbu racikan tercampur rata. Mencium aromanya saja sudah membuat saya sangat berselera.

Lima belas menit berselang, kudapan itu datang. Seporsi Bakmi Jawa terhidang di hadapan. Uap panas masih mengepul, sehingga saya memutuskan untuk mengabadikan makanan inj sebelum menyantapnya. Dalam piring standar rumahan, sebenarnya porsi Bakmi Jawa di warung ini relatif lebih kecil daripada kedai kebanyakan. Namun bagi saya yang mudah kenyang, porsi ini tampak cukup. Di samping makanan utama, sudah ada cabai ijo yang siap jadi camilan di setiap suapan.

Kedai bakmi ini pertama kali saya sambangi pada 3 Maret 2021 setelah membaca belasan ulasannya

 
Bakmi di sini memang porsinya relatif tidak besar dibanding warung lain, namun cukup bagi saya

Hujan makin deras. Hawa dingin mulai menusuk. Walau begitu, saya makin berselera menikmati bakmi ini. Rasa manis dan gurih dari campuran rempah begitu terasa khas di lidah. Orak-arik telur, potongan sayur, irisan timur, serta taburan bawang goreng terasa otentik dan nikmat. Tekstur mi-nya relatif kenyal dengan ukuran yang besar. Meskin saya memesan tetap dengan bihun, bumbu terasa meresap pada tiap helainya. Saya menggigit cabe di tiap suapan. Cabe yang tersedia di mangkuk cap ayam itu sudah pada usia matang, sehingga saya tidak khawatir bila mendapati cabai yang terasa hambar, aneh, maupun pahit.

Harga menu:
  • Bakmi Jawa (goreng / rebus): Rp. 12.000,-
  • Teh (es / hangat): Rp. 2.000,-
  • Jeruk (es / hangat): Rp. 3.000,-

Anda mungkin menyukai postingan ini

  1. Untuk menyisipkan sebuah kode gunakan <i rel="pre">code_here</i>
  2. Untuk menyisipkan sebuah quote gunakan <b rel="quote">your_qoute</b>
  3. Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image">url_image_here</i>
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.