Gudeg Pedes Mbah Jo: Pedasnya Bukan Main

Sensasi pedas campuran rempahnya sangat menggugah selera!

Sudah sejak lama sebenarnya saya berencana untuk mampir ke Gudeg Pedes Mbah Jo. Sama seperti gudeg jalanan lain, kedai gudeg emperan toko ini bahkan sudah 4 bulan dalam daftar '#WTF - Plan' saya di Google Maps. Dan akhirnya baru kali ini saya berhasil menunaikan rasa penasaran saya dengan mampir untuk makan malam kedua. Sebelumnya saya sudah makan di Solo sebelum lanjut ber-KRL-ria, cuma kok ya masih lapar juga. 😅

Meski namanya 'Gudeg Pedes Mbah Jo', yang jualan justru anak-anak muda dewasa.

"Monggo mas, disekecakne yen ajeng motret sisih pundi mawon (Silakan mas, dipersilakan memotret dari sisi mana saja)," ujar mas-mas berambut diikat. Sebagai pedagang, Ia kelewat ramah mempersilakan saya memotret setiap menu yang tersedia. 

Gudeg Pedes Mbah Jo terletak di utara Jembatan Merah Jln. Gejayan

Tidak ada mbah-mbah di warung ini

Saya disodori lembar pemesanan makanan. Di bagian atas, paket gudeg disorot: terdiri dari nasi, gudeg pedas, areh (kuah santan yang dimasak bersama telur), dan sambal goreng krecek. Di bawahnya, berderet nama-nama lauk pelengkap gudeg, diantaranya: ayam kampung dan negeri (dada, paha atas dan paha bawah); tahu tempe, kerupuk, telur rebus, suwir ayam, kepala ayam, sayap ayam, ceker ayam, ati ampela, oseng-oseng kikil, rica-rica, dan rendang jengkol. Untuk minum, standar kedai gudeg: air putih, teh, jeruk, kopi, susu, dan minuman saset.

Di depan saya, mas-mas menata makanan dengan anggun. Menggunakan piring klasik bermotif bunga, daun pisang segar dijadikan alasnya. Meski tanpa cetakan, nasi dibuat membukit dengan rapih. Sambal krecek di satu sisi, dan gudeg di sisi lainnya. Suwiran ayam ditaburkan di atas nasi. Terakhir, areh disiram di atasnya. Asap uap di atas makanan serta rempah pedas yang terendus indera buat saya tidak sabar menyantapnya.

Gudeg pedas tampak menggelora

Gori atau sayur buah sukun

Ada gori, ayam, tempe-tahu, dan telur bacam

Aneka lauk tambahan menambah selera makan

Sama dengan kedai gudeg pinggir jalan pada umumnya, di sini pengunjung duduk lesehan di emperan toko. Lampu kuning tidak begitu redup, sesekali sorot kendaraan menyilaukan pandangan. Lebih baik saya menghadap selatan.

Porsi yang cukup untuk mengganjal lapar di jelang malam

"Setiap suapan berarti," kesan saya pada seporsi gudeg pedas ini. Saya memastikan ada gudeg, krecek, nasi berbalut areh, serta suwir ayam di tiap sendok suapnya. Kesemua ini harus dinikmati secara serentak supaya citarasa gudeg terjaga di lidah. Gigi saya melumat perlahan, supaya sensasi pedas maksimal dalam membakar lidah. Tentu saja sesekali saya meneguk teh hangat supaya sensasi pedas segera redam.

Porsi makan dan minum yang saya beli seharga Rp. 20.500,-

Secangkir teh hangat menemani makan saya, supaya sensasi pedas segera enyah

Untuk keseluruhan menu yang saya pesan, nikmat. Krecek dalam sambal krecek tidak alot, bahkan mudah untuk dikunyah. Gudeg manisnya pas, tidak bikin eneg. Suwiran ayam juga lembut sehingga tidak mudah terselip di sela-sela gigi. Sedang areh yang notabene kuah santan, dapat menambah nikmat nasi yang tersaji hangat.

Kenyang, puas, dan terjangkau. Mungkin saya akan kembali lagi di lain waktu.